
Tubuh zian gemetar, Zian benar-benar pusing, kepalanya terasa mau pecah seketika. Pikirannya berlari kesana kemari. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya saat Ririn membentak ibunya.
"Dulu aku sangat mencintainya, aku sangat menyayangi dirinya, apa pun aku berikan untuknya, bahkan aku tidak ingin melihat dia capek kerja meski hanya di rumah, tapi dia tidak bisa mengimbangi kasih sayang ku, bahkan ia jadi besar kepala dan sangat berani," Zian menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Aku sudah salah telah memberikan segala cintaku untuknya selama ini, aku sudah salah terlalu memanjakannya selama ini, ah .... " Zian kesal dengan dirinya sendiri, ia mengingat semua masa-masa mereka pacaran, Ririn tidak begitu, ia sangat memperhatikan Zian, mereka saling mencintai, saling mengerti, tapi kenapa dalam satu tahun ini Ririn berubah drastis. Bahkan ia tidak mau di sentuh suaminya, setiap Zian menginginkannya, Ririn selalu saja menolak dengan ribuan alasan. Zian pikir dia akan bahagia hidup bersama Ririn, ternyata tidak.
Tanpa Zian sadari, air matanya menetes. Ia langsung menghapus air matanya dengan kasar.
Setelah lama merenung, Zian keluar dari rumah mewahnya, ia pergi tanpa pamit, termasuk pada ibunya. Zian pergi tanpa arah mengelilingi kotanya. Sudah hampir 4 kali Zian melewati rumahnya, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Villaza.
Zian berharap ada ketenangan di sana.
Sementara Ririn bingung, Zian benar-benar marah padanya, bahkan sudah sangat kasar. Tapi perempuan ini sama sekali tidak sadar diri, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan? Seperti anak kecil yang tidak bisa mikir. Dia hanya mau di pedulikan, tapi tidak ingin peduli dengan orang lain, bahkan sama anak yang masih balita saja ia acuhkan.
"Aku harus ke rumah Mama, barangkali Mama punya solusi," pikir Ririn, ia kemudian juga pergi meninggalkan rumah.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Lain halnya yang di lakukan Sheril. Ia menunggu Zian pulang, sudah berapa kali Sheril menghubungi Zian, namu tidak di angkat, pesan pun juga tidak di balas, ia hanya ingin pamit pada Zian kalau dia berniat mau ke rumah sahabatnya Elian. Walaupun bagaimana, Sheril ingin mendapatkan izin dari suaminya. Tak terasa air matanya kembali menetes, pikirannya mulai melayang membayangkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya yang akan datang.
Sudah pasti Zian tidak bisa menghabiskan waktu bersamanya, karena dia juga harus bersama anak dan istrinya yang di sana, pikir Sheril.
Bagaimana jika istrinya melabrak Sheril suatu saat nanti? Perlakuan buruk istri Zian sudah terbayang di pelupuk mata Sheril, bagaimana nantinya ia akan di perlakukan. Beredar postingan di media sosial tentang dirinya yang di sebut merebut suami orang?
Tidak dapat Sheril bayangkan bagaimana Nenek dan Kakeknya malu akan perbuatannya yang sekali lagi membuat mereka kecewa? Sheril kembali menangis sesenggukan.
Tit-tit-tit
Suara klakson mobil membuat Sheril menghentikan lamunannya, ia segera menghapus air matanya yang meleleh membasahi pipinya. Sheril menyibak tirai, ia berharap Zian yang datang. Dan pikirannya benar, ia tersenyum kecil. Entah mengapa perasaannya sedikit tenang saat tau kalau itu Zian.
__ADS_1
Sheril membuka pintu kamar, ia ingin menyambut kedatangan suaminya. Tapi langkah Zian lebih cepat darinya, Zian sudah ada di depan pintu.
Sejenak Sheril menatap Zian, pandangan mereka bertemu. Ia melihat kesedihan di mata suaminya, hatinya bergetar, ada rasa iba dalam dirinya. Zian pun menatap mata Sheril yang sembab, dia habis menangis pikir Zian.
Dengan bibir yang bergetar, Sheril langsung memeluk suaminya, ia merasakan ada kehangatan di tubuh suaminya, dan semakin mengeratkan pelukannya. entahlah Sheril merasa tidak ingin di tinggalkan oleh laki-laki yang sudah memiliki anak dan istri ini.
"Mas,"
Tangisan Sheril kembali pecah di dada bidang Zian. Ia memeluk Zian seolah tidak ingin berpisah dengannya.
"Sayang, maafkan Mas ya," ujar Zian dengan suara yang sangat lembut, bahkan hampir tak terdengar.
Zian membimbing istrinya masuk kedalam kamar mereka, lalu menutup pintunya dengan rapat.
"Kamu tidak salah, Mas, bahkan akulah yang sangat merasa bersalah dalam hal ini," lirih Sheril dengan suaranya yang serak. Suara Sheril meluluhkan semua masalah Zian.
"Kenapa Zian bicara seperti itu? Bukankah ia juga bangga memiliki anak dan istrinya?" Pikir Sheril.
Zian merenggangkan pelukannya, menggenggam erat tangan Sheri, menatap istrinya dengan seksama.
Zian merenggangkan pelukannya, menatap istrinya yang berurai air mata. Zian menghapus air mata Sheril dengan lembut.
"Sayang, jangan menangis lagi ya, aku mencintaimu dengan tulus, jangan pergi dariku," ucap Zian lembut, ia berkata seolah membujuk anak kecil, agar berhenti menangis.
Hati Sheril tersentuh mendengar kata itu. Ia kembali memeluk Zian dengan erat.
"Mas, bagaimana jika istri mu tau? Pasti aku akan di maki dan di permalukan," ucap Sheril menggigit bibir bawahnya.
Zian memegang pundak Sheril.
__ADS_1
"Kamu tenang, jangan memikirkan itu, biar aku yang memikirkannya, entah bagaimana caranya aku melakukannya, agar ia bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, yang terpenting sekarang jaga kandungan mu, aku tidak ingin terjadi apa-apa sama kalian," jelas Zian sambil mengelus perut Sheril dan menciumnya. Sheril menarik napas dalamnya, ia belum puas mengatakan semuanya. Tapi Zian sepertinya menginginkan sesuatu, tangannya mulai nakal.
Sheril tidak ingin membuat Zian kecewa, ia membiarkan apa yang ingin Zian lakukan.
"Mas, siang nanti aku mau izin ke rumah temanku Elian, apa kah boleh?" Tanya Sheril setelah Zian menidurkannya. Posisi Sheril di bawah, sementara tangan Zian memeluk pinggang Sheril. Tangannya meraba kesana kemari.
Zian mengembangkan senyumannya, lalu mencium kening Sheril.
"Boleh sayang, nanti mas yang antar," ucap Zian.
"Benarkah? Mas mau antar Sheril?" Ucap Sheril antusias, Sheril tersenyum girang hingga menampakkan sederet gigi putih Sheril. Sementara Zian langsung menganggukkan kepalanya. Ia juga sangat senang melihat Sheril tersenyum seperti ini.
"Terimakasih, Mas, aku menyayangimu," reflek Sheril mencium dahi Zian. Zian merasa sangat senang. Ia tersenyum lebar.
"Segitu doang terimakasih nya?" Goda Zian.
Sheril kembali mencium pipi Zian sebelahnya lagi.
"Cuma itu?" Ujar Zian menatap Sheril.
Kemudian Sheril mencium kening Zian.
"Mas mau lebih dari itu," ujar Zian lagi, membuat Sheril sedikit kesal dengan ulah suaminya.
Sheril menatap mata suaminya. Mukanya sudah memerah. Lalu memberanikan diri mencium bibir suaminya. Zian tidak tinggal diam, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia pun langsung mengunci bibir Sheril. Mereka tenggelam dalam buaian asmara.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca dengan dukungan like dan komen, follow juga akun author ya
__ADS_1