
Zian melajukan mobil mewahnya menuju Villaza. Dengan kecepatan tinggi, tidak begitu lama, ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman villa.
Sementara Sheril sudah bulat dengan keputusannya untuk meninggalkan Zian, dia tidak ingin menjadi benalu dalam keluarganya.
Sheril pergi dengan pakaian seadanya, ia tidak banyak membawa pakaian, hingga membuatnya cukup mudah untuk mencari kontrakan kecil, yang akan dia huni, senantiasa menunggu kelahiran anaknya.
"Baiklah bu, saya akan menyewa tempat ini, dan akan saya bayar sampai empat bulan kedepan,"
Sheril menyerahkan uang sebesar dua juta kepada ibu kost itu.
Sheril menarik napasnya dalam. Berharap Zian tidak akan menemukannya. Dia ingin hidup tenang, tidak menggangu rumah tangga Zian, meski dengan hidup apa adanya, ia tau, ini akan sulit baginya, dengan bekal seadanya, tentu saja tidak akan cukup sampai dia lahiran nanti. Sheril akan mencari pekerjaan.
Dia sengaja tidak pergi ketempat sahabatnya Elian, karena, jika ia kesana, tentu saja Zian akan menemukannya. Ia tidak ingin menambahkan beban pada orang lain.
Sheril mulai membersihkan kontrakan yang baru saja ia sewa. kontrak yang kecil, hanya ada satu kamar, dan satu dapur yang langsung terhubung dengan kamar mandi, ada ruangan tamu kecil.
Setelah beres, ia membaringkan tubuhnya di kasur apa adanya. Ia merasa lelah, hingga tidak begitu lama, ia pun terlelap.
Mendengar Sheril pergi tanpa persetujuannya, Zian sangat marah. Matanya tajam, tangannya terkepal erat, dadanya naik turun menahan emosi. Zian melampiaskan kemarahannya dengan memukul tembok dengan keras. Darah segar yang mengalir dari tangannya. Zian tidak merasakan itu, hatinya lebih sakti mengingat Sheril meninggalkannya tanpa menunggunya terlebih dahulu.
"Tuan, tangan anda berdarah! Tunggu di sini, aku akan mengambil obat," ucap bibi Arum, ia segera mengambil obat yang ada di dalam. Zian yang tidak menghiraukan ucapan bibi Arum, ia langsung melangkah keluar menuju mobilnya.
Zian menyandarkan tubuhnya di jok mobil, sambil memegang setir dengan tangan yang berlumuran darah.
"Tuan ...,"
Bibi Arum memanggil Zian, setelah tidak menemukan majikan di tempatnya tadi, bibi Arum bergegas pergi menyusul ke depan. Namun, baru saja bibi Arum keluar teras, mobil Zian sudah melaju kembali dengan kecepatan tinggi.
"Ya tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa sama Tuan. Nona cantik, kenapa anda pergi begitu saja," bibi Arum merasa gelisah dengan adanya konflik seperti ini.
"Cari dia sampai dapat! dan bawa padaku!" Ucap Zian menelpon seseorang dengan suara yang dingin.
Zian mengendarai mobilnya seperti orang gila, mobilnya seakan melayang di atas awang-awang, serasa tidak berada di atas aspal lagi.
Sesampainya di sebuah cafe, ia memarkirkan mobilnya. Lalu bergegas masuk dengan langkah yang lebar, Semua mata tertuju pada Zian.
"Mana pemilik cafe ini," ucap Zian dengan suara dalamnya. Wajahnya suram, matanya menatap tajam.
Wanita itu mengangkat wajahnya, dan menatap Zian dengan aneh.
Ada masalah apa dia sama pemilik cafe ini? Wajah pria itu menunjukkan tidak suka.
__ADS_1
Pemilik cafe?
"Maaf pak, ada urusan apa dengan ibu Elian? nanti akan saya sampaikan," ucap wanita itu dengan sopan.
"Saya ingin bertemu dengannya langsung sekarang!" Ucap Zian menatap wanita itu dengan mata tajamnya.
"Maaf pak, tetapi ibu Elian sedang tidak ada di cafe ini, jika anda ingin bertemu dengannya, silahkan menunggu di sana?"
Zian semakin jengkel, ia menendang kursi yang ada di sampingnya. Wanita itu ketakutan, wajahnya memucat, semua yang ada di sana terkejut, dan menatap Zian.
"Cepat telpon dia sekarang, saya tidak ingin menunggu!" Zian berkata dengan lantang dan tegas, membuat karyawan lainnya menunduk takut.
"B .., baik pak,"
Seseorang menelpon Elian, tidak begitu lama telepon terhubung. Saat itu Elian sedang duduk bersama klien, untuk membahas mengenai cafe cabang yang akan mereka bagun di kota lain.
"Ada apa?" Suara Elian di seberang sana.
"Anu bu, ada seorang pria menunggu mu di cafe, ia terlihat marah, tadinya ia menendang kursi, kami takut dia akan melakukan lebih dari itu," ucap karyawan Elia.
Mendengar penjelasan karyawannya, Elian mengerutkan keningnya.
Ada apa? Siapa laki-laki itu?
Setelah memutuskan menunda pembicaraan mereka, akhirnya Elian pergi ke cafe. Ia penasaran siapa Pria itu, yang sudah berani menakuti karyawannya.
Elian melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe.
"Ada apa? Mana laki-laki itu?" tanya Elian tidak sabaran.
Belum sempat karyawan Elian menjawab, namun pria itu sudah terlebih dahulu berucap:
"Di mana kau sembunyikan istri ku?"
Pertanyaan itu membuat Elian menoleh sambil mengerutkan dahinya. Ia tampak terkejut dengan kehadiran Zian, suami sahabatnya itu.
Elian menatap Zian dengan marah.
"Kenapa kau mencarinya di sini? dan malah menakuti karyawan ku!"
"Aku tau kau menyembunyikannya di sini!" Zian berkata dengan keyakinannya.
__ADS_1
Elian kembali mengangkat matanya, menatap Zian dengan matanya yang membuat.
"Aku tidak tau istrimu ada di mana, lagi pula, kenapa kau suaminya, tidak tau di mana istri mu," ucap Elian membuat Zian merasa terhenyak.
Zian terdiam beberapa saat.
"Karena kau sahabat dekatnya, kau pasti tau itu."
Ada apa dengan Sheril?
Apakah dia kabur dari laki-laki brengsek ini?
Tapi ..., kemana Sheril.
"Baiklah. Aku sungguh tidak tau masalah kalian, dan Sheril tidak ada disini. Emangnya ada pa dengan kalian?" Selidik Elian.
"Bukan urusan mu!" Zian melipat tangannya di dada.
Elian memicingkan matanya.
Bukan urusanku?
"Lalu kenapa anda mencarinya kesini?"
"Kau ...,"
"Ayo kita bicara, jangan membuat kekacauan di sini," Elian menarik tangan Zian, membawanya pergi keluar cafe.
Elian tampak marah. Ia sangat menghawatirkan sahabatnya. Jika terjadi apa-apa dengan Sheril, ia tidak akan memaafkannya.
.
.
.
.
ikuti terus kisahnya.
jangan lupa dukungannya ya, author sangat mengharapkan itu. terimakasih 🙏🙏
__ADS_1