Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
124


__ADS_3

Ririn memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang hatinya berdebar keras menahan emosi.


Deg, deg, deg ...


Ririn berusaha tenang dan menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Aduh, bagaimana jika aku tidak bisa menahan diri melihat j***g itu?" Ririn membekap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mendesah berat.


"Ririn kamu tenang, tenang. Kendalikan emosimu." Dia berbicara dengan dirinya sendiri.


Dia perlahan-lahan melangkah mendekati pagar yang menjulang tinggi menutupi halaman rumah besar itu.


"Nyonya Ririn!" Sapa penjaga rumah itu terkejut dengan kedatangan Ririn yang tiba-tiba. Mereka sudah lama tidak melihatnya, tetapi mereka juga tidak pernah menanyakan keberadaan perempuan majikannya ini.


"Cepat buka pagarnya!" Ririn berkata dengan kesal karena satpam itu tidak kunjung membuka pagar, malah dia bengong menatapnya seperti curiga.


"I~iya Nyonya." Satpam itu langsung membuka gembok dan mendorong pagar.


Ririn langsung masuk dengan gaya lamanya, melenggak-lenggok sombong dan angkuh sekali. Satpam itu mencibir Ririn dari belakang, kemudian kembali menutup pintu pagar.


Dengan langkah pasti Ririn melangkahkan kakinya menuju pintu masuk tanpa mengetuk pintu lagi dia langsung menekan handle pintu yang tidak terkunci itu.


Ririn langsung masuk tanpa permisi.


Dia merasa itu rumahnya, kenapa harus permisi segala seperti orang lain!


"N~nyonya!"


Pelayan rumah tangga itu sangat terkejut melihat kedatangan Ririn yang tiba-tiba.


"Kenapa? Kamu terkejut melihat aku kembali?" Bibi Arum meremas ujung bajunya dengan sangat keras, keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya.


Dia takut dan cemas, sementara Nyonya besar tidak ada di rumah, Tuanya juga sedang di luar kota, bagaimana dengan nona Sheril?


Bibi Arum sangat menghawatirkannya.


"T~tidak Nyonya, hanya saja Tuan sedang di luar kota, Nyonya besar juga sedang keluar."


Ujar bibi Arum tergagap sambil menundukkan wajah kecemasannya.


Senyuman licik mengembang di sudut bibir Ririn, "bagus, ini kesempatan bagus?" Ririn berkata lebih kepada dirinya sendiri.


"Bagus, kesempatan bagus apanya Nyonya?"

__ADS_1


Ririn melotot ke arah bibi Arum.


"Tidak ada apa-apa Bibi, dimana putriku?"


"Ada di atas Nya."


"Sama siapa dia?"


"Sama baby sitter."


"Cepat pergi ke belakang, kerjakan pekerjaan mu!" Ujar Ririn menatap dengan tajam.


Ririn meniti anak tangga dengan langkah tercepatnya, bibi Arum bersembunyi di balik pintu, setelah melihat punggung Ririn menghilang, diam-diam bibi Arum naik menapaki anak tangga dengan pelan. Dia seperti orang yang mau mencuri, takut ketahuan.


Ririn masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan, matanya melihat kesekliling sudut ruangan. Tidak ada apa pun, kamarnya terlihat rapi dan bersih, bukannya seorang ibu akan melihat anaknya terlebih dahulu?


Dia seperti tidak terlihat seorang ibu yang merindukan putrinya. Alih-alih merindukan putrinya, dia justru mendatangi kamarnya terlebih dahulu.


Merasa kamarnya tidak berpenghuni, Ririn langsung keluar menuju kamar putrinya.


"Sayang, Mama datang!"


Suara Ririn mengejutkan baby sitter yang sedang menidurkan Aura.


Baby sitter itu terperanjat melihat Ririn yang sedang memasuki kamar Aura.


Ririn tersenyum melihat putrinya yang baru saja terlelap, tangannya terulur menyentuh kepala kecil putrinya.


"Sayang maafkan Mama?" Ririn mencium kening Aura dengan lembut dan hati-hati seolah takut membangunkannya.


Baby sitter itu mundur beberapa langkah, memperhatikan Ririn bersama putrinya.


Dari raut wajahnya terlihat biasa-biasa saja, mungkin ada seorang ibu yang benar-benar merindukan anaknya, begitu bertemu dia akan menggendong, memeluk mencium bertubi-tubi, tak peduli anaknya baru saja terlelap. Tapi mungkin pikiran Ririn berbeda dengan ibu-ibu yang lain ....


Ririn menoleh Baby Sitter yang ada di belakangnya.


"Dimana kamar wanita itu?" Pertanyaan Ririn membuat Baby Sitter itu tertegun dengan kecemasannya.


"W~wanita mana, Nya? Aku tidak mengerti siapa yang anda maksud."


Ujar Baby Sitter itu menundukkan kepalanya.


"Bohong! kamu." Ririn meninggikan nada suaranya sambil melotot ke arahnya.

__ADS_1


Baby Sitter itu terperanjat kaget sambil meringkuk menghindari tatapan tajam dari Ririn.


Ririn keluar seperti mencari sesuatu. Baby Sitter itu menggelengkan kepalanya melihat sikap Ririn yang congkak dan sombong.


Perlahan-lahan Ririn berjalan ke arah kamar yang ada di ujung koridor, bersebelahan dengan ruang kerja Zian.


Hatinya langsung berdetak ketika sudah dekat dengan kamar itu, di dalam dadanya seakan ada bara api yang membakar.


Ririn mengangkat tangannya dan meraih handel pintu.


Serena yang baru saja pulang dan melihat punggung wanita yang familiar ingin membuka pintu kamar Sheril, keningnya mengernyit.


Itu bukan Sheril, tapi Ririn! Seketika wajah Serena langsung berubah gelap.


"Mau ngapain kamu!" Ririn yang baru saja memutar handle pintu itu terperanjat kaget mendengar suara ibu mertuanya.


"Mama!" Sapa Ririn sambil tersenyum sumbang, dia berjalan ke arah Serena.


Tidak tau malu, meninggalkan suami anak seenaknya! Serena semakin geram melihat menantunya ini!


"Mama, maafkan aku. Aku ...."


Serena menggelengkan kepalanya.


"Benar-benar tidak tau malu, hanya ada satu wanita yang tidak tau malu di dunia ini, yaitu kamu! Berbulan-bulan meninggalkan anak kecil, tidak khwatir sedikitpun, sekarang dengan tidak tau malunya datang lagi kesini?" Serena tersenyum sinis.


"Benar-benar sudah putus urat malu! Pergi kau dari rumah ini!"


Bentak Serena.


"Mama dengarin aku dulu, tolong dengarkan aku, aku tau aku salah, aku minta maaf! Aku kembali untuk memperbaiki semuanya, aku sudah bicara ...."


"Pergi kau dari sini! Perempuan tidak tau malu, pergi!" Serena berteriak dengan keras hingga suaranya memenuhi rumah itu.


"Aku tidak akan pergi dari sini! Tidak akan! Kenapa, Ma? Ini rumahku juga, ada anak dan suami ku di sini, Mama tidak berhak mengusirku!"


"Satpam! Usir perempuan ini!"


Sheril yang kaget mendengar suara ribut-ribut di luar, dengan penasaran dia mau melihatnya. Dia langsung keluar dan melihat mertunya sedang marah-marah.


"Ada apa in ...." Sheril tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat wanita cantik yang menoleh ke arahnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


Ririn menghela napasnya menahan amarah yang meluap-luap.

__ADS_1


__ADS_2