
Zian cepat-cepat membereskan pekerjaannya. Ia ingin segera pulang ke villa, menjumpai perempuan yang sudah mencuri hatinya. Bayangan wajah Sheril membuat hati Zian berdebar-debar, apa lagi saat mengingat kebersamaanya tadi malam, wajahnya, bibirnya, tutur katanya yang lembut dan sedikit manja, membuat Zian semakin yakin dengan perasaannya.
"Andai saja ... " Zian menghentikan kata hatinya. Ia tidak ingin mengandaikan sesuatu yang sudah menjadi takdir. Ia menganggap ini jalan hidupnya, walaupun ini kesalahan yang dilakukannya, namun ia tidak bisa menghindari kenyataannya. Zian yang dulu sangat mencintai Ririn, namun pada kenyataannya, ia bisa mencintai perempuan lain selain istrinya.
Zian merasakan perasaan yang berbeda. Ia melihat ketulusan dari mata Sheril, namun ia tidak dapat menemukan itu dari Ririn. Zian menikahi Ririn karena cintanya yang begitu besar dan tulus, selama ia menjalin hubungan sampai menikah. Bahkan, Ririn semakin menonjolkan sikap aslinya sekarang ini, yang membuat Zian merasa tidak nyaman. Zian juga berpikir kalu hanya dirinya yang mencintai istrinya, namun tidak dengan Ririn.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Zian melangkah masuk kedalam ruangan villa. Ia melihat sekelebat bayangan istrinya di ruang meja makan keluarga.
Diam-diam ia melangkah tanpa suara sepatunya, ia mendekati Sheril yang kebetulan saat itu lagi membelakangi dirinya, entah apa yang Sheril lakukan Zian tidak tau. Zian langsung menutup kedua mata istrinya dari belakang dengan kedua telapak tangannya.
"Agh! Siapa yang iseng sih!" Teriak Sheril sedikit kaget. Sementara Zian hanya tersenyum simpul dari belakang.
Sheril meraba kedua tangan yang sudah menjahilinya, ia juga mencium wangi parfum sudah familiar baginya.
"Ayo siapa?" Ucap Zian berbisik merubah suaranya, ia ingin tau, seberapa jauh Sheril mengenalnya selama ia bersamanya.
"Mas, kamu jahil banget," sungut Sheril. Ia enggan untuk membalikkan badanya.
"Mas siapa?" Bisik Zian lagi, yang masih tetap menutup mata Sheril.
"Aku tau itu kamu, Mas," ujar Sheril.
Zian langsung memeluk Sheril dari belakang. Ia pun mencium pipi Sheri berkali-kali saking gemasnya.
"Mas, malu! Kalu ada yang lihat gimana?" Ujar Sheril merasa resah.
"Malu kenapa? Kamu istriku, aku kangen sayang," ucap Zian sambil menopangkan dagunya di bahu Sheril, kedua tanganya memeluk pinggang Sheril dengan erat.
Sheril melepaskan kedua tangan Zian, kemudian membalikkan badanya menatap Zian, ia ingin marah dan mencubit laki-laki yang sudah mengganggunya. Namun entah mahluk apa yang membuat mata Sheril yang tadinya menyala ingin marah, kini menjadi redup saat menatap manik mata Zian. Laki-laki tampan, beralis tebal, hidung mancung, bibirnya yang mengembangkan senyuman manisnya menggoda Sheril.
"Kenapa? Mau marah?" Tanya Zian dengan lembut, sambil mengusap bibir seksi Sheril dengan jarinya.
Sheril langsung memeluk Zian dengan erat.
Sementara Zian melebarkan bibir manisnya.
"Tadi malu, ini langsung meluk saat sudah melihat wajahku yang tampan ini," ejek Zian menggoda istrinya.
Sheril mencubit perut Zian.
Wajah Sheril sudah memerah, ia malu dengan apa yang Zian ucapkan barusan
"Auu Sayang," Zian meringis sambil memeluk Sheril. Tubuhnya langsung gemetar saat menyentuh tubuh istrinya. Sesuatu juga sudah menegangkan Zian saat ini. Berkali-kali juga Zian menelan saliva nya.
"Aku mau mandi dulu," ucap Zian melepaskan pelukannya. Sebenarnya Zian masih ingin memeluk istrinya, bahkan lebih dari itu, namun ia menghindari keinginannya, karena menurutnya ini bukanlah waktu yang repat.
"Ya sudah, aku siapkan air panasnya ya mas," ujar Sheril membuat Zian menatapnya sambil menyunggingkan senyuman liciknya.
__ADS_1
"Pucuk di cinta, ulam pun tiba," batin Zian yang sejak tadi menahan dirinya.
Sheril menatap Zian aneh.
"Kenapa tersenyum begitu?" Tanya Sheril tanpa mengerti akan arti senyuman Zian.
Zian langsung merangkul pinggul Sheril, sambil tersenyum khasnya.
"Senyum khusus buat istriku," ucap Zian menutupi kecanggungan nya.
Sheril hanya menampilkan senyumannya menanggapi ucapan Zian.
"Mas, nanti aku ingin bicara," ucap Sheril mengalihkan pembicaraan.
"Iya, ini juga sudah bicara, kan?" Ujar Zian menggangap ucapan Sheri sebuah lelucon.
"Aku serius, iya kamu betul ini sudah bicara, jangan pura-pura ngk paham," ucap Sheril melirik Zian sekilas, sambil memutar kenop pintu kamar.
"Iya sayang," ujar Zian sambil mencubit hidung Sheril dengan gemas.
Sheril langsung masuk ke bathroom untuk menyiapkan air hangat untuk Zian. Ia sama sekali tidak mengira akan kelicikan suaminya.
Zian cepat-cepat melepaskan pakaian formal nya, dan hanya menyisakan celana pendek warna putih. Zian langsung menyusul Sheril ke bathroom.
Karena terlalu pokus, Sheril tidak mengetahui kalau Zian sudah berada di ruangan yang sama dengan dirinya. Karena terkejut dengan kehadiran Zian tiba-tiba, Sheril tidak sengaja menyenggol tombol shower, hingga membuat dirinya basah.
Sheril berusaha melepaskan pelukan Zian, ia ingin menghindari air shower yang menyirami dirinya, namun, sepertinya Zian tidak ingin melepaskannya begitu saja.
"Mas! Lepaskan, aku tidak ingin basah lagi, aku sudah mandi!" Tutur Sheri.
Namun Zian malah membuat air shower semakin deras hingga membuat mereka sudah basah kuyup.
"Mas! Bukanya kamu mematikannya malah kamu buat full!" Ungkap Sheril sedikit kesal.
"Kepalang basah sayang, kita mandi lagi," bisik Zian membuat bulu kuduk Sheril meremang. Ia merasakan sesuatu yang mengganjal di pusaranya.
Sesekali Zian mengusap air mukanya yang membasahi wajahnya. Sheril sudah paham maksud suaminya. Ia pun tidak bisa menghindarinya lagi. Tubuhnya sudah basah kuyup. Zian pun langsung mematuk bibir kenyal istrinya. Ia ingin menuntaskan apa yang ia bayangkan tadi sebelum pulang ke villa.
Sheril benar-benar candu bagi Zian, ia pun baru merasakan perasaan seperti ini. Zian sebetulnya tidak ingin membandingkan istri pertamanya dengan Sheril, namun kenyataannya sangat jauh berbeda.
Ya jelas saja berbeda, karena dua saudara yang memiliki aliran darah yang sama, belum tentu memiliki sifat dan sikap yang sama, apa lagi antara sifat dua perempuan yang tidak saling mengenal.
Sheril sudah iklas menerima suaminya, bahkan iapun merasa nyaman walupun belum yakin dengan pikiran-pikiran yang masih memenuhi otaknya.
Sheril tampak tidak bertenaga lagi akibat ulah Zian yang berkali-kali memangsanya. Zian merasa iba melihat Sheril, ia pun langsung membersihkan tubuh Sheril dan menyelimutinya dengan handuk setelah ia menyelesaikan aktivitasnya.
"Sayang ... Kamu mau makan apa?" Tanya Zian setelah mereka sudah berganti pakaian dan duduk di sofa menghadap TV LED.
"Sebetulnya aku tadi masak, buat kita makan malam," ucap Sheril.
__ADS_1
"Benarkah sayang?" Ujar Zian sambil mengelus pucuk kepala Sheril, lalu mencium pelipisnya dengan lembut.
Sheril langsung menganggukkan kepalanya.
"Tadinya mas mau ajak makan di luar, sekalian kita cari tempat ngobrol yang nyaman, katnya ada sesuatu yang ingin di bicarakan, kan? Tapi karena istriku sudah masak, jadi kita makan di rumah saja," Ucap Zian sambil menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manisnya.
"Ya sudah, kita makan di luar saja," ujar Sheril tersenyum simpul. Ia tidak ingin membuat Zian kecewa dengan keinginannya yang tidak terpenuhi, Sama halnya dengan Zian. Zian tidak ingin Sheril berkecil hati karena tidak menghargai jerih payahnya selama berkutat di dapur.
"Iya, tapi ... mas sudah keburu lapar sayang," ucap Zian.
"Iya sudah, aku siapkan makanannya sekarang ya," ujar Sheril sambil berdiri ingin meninggalkan Zian, namun Zian langsung menahannya, ia pun ikut berdiri merangkul pundak Sheril.
Mereka turun bersamaan menuju meja makan.
Zian menunggu Sheril menyiapkan makanannya.
"Ini semua kamu yang masak sayang?" Tanya Zian.
"Iya," ucap Sheril singkat.
"Wah ... kamu benar-benar istri yang hebat, baru kali ini di masakin istri seperti ini," ucap Zian tanpa sadar.
Sheril langsung menoleh kearah Zian. Sementara Zian merasa kaku.
"Maksudnya, baru kali ini kamu memasak makan malam, iya, kan sayang?" Ucap Zian menutupi ucapannya agar Sheril tidak merasa janggal dengan ucapannya.
Sheril tersenyum.
"Seringkali, hanya kamu saja yang ngk tau, Mas, karena jarang pulang," ungkap Sheril apa adanya sambil duduk di samping Zian.
Deg ....
Jantung Zian seakan berhenti berdetak. Wajahnya memerah mendengar ucapan Sheril yang tidak tau apa-apa.
"Mas, ayo di makan? Apa ngk mau lauk yang ini?" Tanya Sheril sambil menatap Zian.
Zian langsung sadar dari lamunannya. Ia terlihat kikuk.
"Mas, kamu kenapa? Mikir apa sih?" Ujar Sheril.
"Ah t-tidak sayang, a-aku hanya memikirkan pekerjaan," ucap Zian gelagapan.
Kemudian mereka makan dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
wajib like setelah membaca.
vote jika kalian suka.
__ADS_1