
Satu Minggu telah berlalu. Semenjak pernikahan itu, Zian belum juga menampakkan batang hidungnya ke villa. Ia sibuk dengan pekerjaannya, bahkan ia sering lembur di kantornya. Akhir-akhir ini Zian benar-benar sibuk dengan proyek barunya. Zian merasa kalau perusahaannya semakin sukses, omsetnya semakin melambung tinggi. Zian pun merasa heran, karena selama ini penghasilannya hanya standar standar saja.
Sementara Sheril hanya merenung.
"Non, bibi sudah siapkan makanan mu, di makan ya, mumpung masih hangat," ujar bibi.
"Iya, Bi," jawab Sheril.
Bibi Arum memperhatikan Sheril yang hanya mengaduk makanannya saja, tapi sama sekali tidak memakannya.
"Non, kenapa cuma di aduk-aduk saja? Apa Nona cantik tidak menyukai makanan ini?" Tanya bibi Arum.
"Bibi, aku mau makan Mie ayam," ujar Sheril.
"Bibi bikin dahulu ya, tunggu sebentar," ujar bibi Arum.
"Tidak Bibi, aku tidak ingin makannya di sini, tapi aku mau makan di kedainya langsung," ujar Sheril.
"Tapi bagaimana ya, Non, sebentar, bibi tanya sama pak Ben dulu," ujar bibi Arum seraya beranjak pergi meninggalkan Sheril di meja makan.
Bibi Arum bukannya menemui pak Ben, malahan ia pergi ke suatu tempat untuk menelpon majikannya.
"Ada apa bibi?" Tanya Zian langsung setelah menerima panggilan dari bibi Arum.
"Tuan, Nona cantik mau makan mie ayam keluar, ia tidak ingin makan di rumah, Apa bibi antar saja, atau bagaimana?" ujar bibi Arum.
"Tidak perlu Bi, biar saya kesana sekarang," ujar Zian dari seberang sana.
"Baik tuan," jawab bibi Anum.
...****************...
Zian langsung meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga dalam 1 jam Zian sudah tiba di VillaZa.
Zian langsung masuk ke villa.
"Bibi, dimana Sheril?" Tanya Zian setelah mendapati bibi Arum yang sedang membereskan peralatan dapur.
"Ada di taman belakang Tuan, biar Bibi panggil," ujar bibi Arum.
"Biar saya saja, bi," ujar Zian menghentikan bibi Arum.
Zian langsung melangkah menuju taman belakang. Ia melihat Sheril yang
membelakanginya memandangi bunga-bunga yang bermekaran.
Zian langsung memetik setangkai bunga mawar putih, dan menyodorkan dari belakang Sheril. Sheril terkejut melihat sebuah tangan menyodorkan mawar putih di hadapannya, Sheril langsung menoleh.
Dada Sheril langsung bergetar saat melihat kembali wajah suaminya setelah hari pernikahannya,
Sheril mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Bukanya kamu sangat menyukai mawar?" Ujar Zian.
"Darimana dia tau kalau aku menyukai mawar," batin Arsyi. Kemudian ia langsung menganggukkan kepalanya.
"Ini untuk mu," ujar Zian.
Sekilas Sheril menatap Zian, kemudian melihat mawar putih yang Zian pegang, Sheril tampak ragu-ragu untuk menerima bunga pemberian dari Zian. Dengan hati yang sulit di artikan, akhirnya Sheril menerima bunga itu.
"Terimakasih," ujar Sheril tersenyum samar.
"Ikut dengan ku sekarang," ujar Zian membuat Sheril langsung menatapnya.
"Mau kemana mengajak ku?" Tanya Sheril datar.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menjual mu, hanya menemaniku keluar sebentar," ujar Zian.
"Tapi aku tidak ingin pergi dengan mu, kami akan pergi bersama pak Ben sebentar lagi," ujar Sheril membuat Zian langsung menautkan kedua alisnya.
"Apakah kamu lupa sesuatu dengan apa yang kau janjikan," ujar Zian menatap Sheril.
"Oky ... baiklah," ujar Sheril.
"Kalu begitu, cepat ganti pakaian mu dengan yang lebih bagus dari ini, mata ku sakit melihat mu," ujar Zian.
Sheril memperhatikan baju yang ia pakai. "Kenapa dengan pakaian ku? Ini juga bagus," gumam Sheril dalam hatinya. Sheril tidak ingin menanggapi ucapan laki-laki sinting menurutnya, Sheril langsung pergi meninggalkan Zian dengan kesal.
Sheril segera turun menghampiri Zian yang sudah menunggunya di teras depan.
Zian menatap Sheril dari atas sampai bawah. Ternyata Sheril tidak mengganti bajunya, ia hanya mengambil tas kecil miliknya.
"Benar-benar tidak mendengarkan, apa kau tuli apa yang aku katakan tadi?" Ujar Zian geram.
"Kenapa? Apa kamu merasa malu dengan pakaian ku seperti ini? Anggap saja kalu aku ini pembantu mu, beres kan," ucap Sheril.
"Kau ... " Zian mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu masuk kedalam mobil lalu duduk menghadap setir. Sementara Sheril hanya terpaku di tempatnya berdiri.
"Hei, cepat masuk!" Ujar Zian membuka kaca mobilnya.
Sheril segera membuka pintu mobil belakang, dan duduk di sana. Sementara Zian semakin kesal di buatnya.
Mobil ini mewah sekali, Sheril tau mobil ini hanya di miliki oleh beberapa orang saja, tapi Sheril tidak ingin menampakkan kekagumannya dengan apa yang di miliki Zian.
"Kenapa kau duduk di belakang? Aku ini bukan supir pribadi mu, cepat pindah kedepan," tukas Zian menatap Sheril dengan tajam dari kaca spionnya.
"Aku di sini saja, aku tidak nyaman duduk di sana," ujar Sheril.
"Cepat pindah kedepan!" Tukas Zian dengan suaranya yang dingin.
Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah beberapa menit kemudian, Zian memarkirkan mobilnya di depan butik yang cukup besar. Ia segera turun. Sementara Sheril hanya diam saja, ia sama sekali tidak berniat untuk turun.
Melihat Sheril tidak juga keluar, Zian segera membuka pintu mobilnya.
"Ayo turun," ucap Zian.
Sheril pun turun sesuai yang di minta Zian, ia mengiringi langkah Zian dengan cepat. Tiba-tiba Zian menghentikan langkahnya, hingga membuat Sheril menabrak belakang Zian dengan keras.
"Aduh ... " Sheril meringis kesakitan sambil memegangi jidatnya. Sementara Zian menatapnya dengan tajam.
"Makanya berjalan itu pakai mata," ujar Zian.
"Di mana-mana orang berjalan itu pakai kaki, bukan pakai mata," jawab Sheril.
"Kau ... " Zian mengeraskan rahangnya, matanya menatap dengan tatapan ingin membunuh, Sheril semakin membuatnya kesal.
"Ada yang bisa kami bantu tuan," ujar salah satu pelayan toko itu.
"Carikan beberapa baju yang pas untuknya," ujar Zian datar.
"Baik Tuan. Mari Nona, ikutlah denganku," ajak perempuan dewasa itu. Sheril tidak banyak komentar lagi, ia segera mengikuti langkah pelayan toko itu.
Pelayan toko itu segera membantu Sheril untuk mencoba beberapa potong pakaian.
"Nona, semua cocok dengan mu, apa lagi yang ini, kamu lebih cantik," puji pelayan itu membuat Sheril tersipu.
Sheril menatap dirinya di dalam kaca. "Ini harganya pasti sangat mahal, apakah uangku cukup untuk membayar baju ini, tapi apa mungkin aku menghabiskan uangku hanya dengan satu baju ini," pikir Sheril, wajahnya berubah jadi sendu.
"Nona, bagaimana?" Tanya pelayan itu, melihat Sheril hanya diam saja.
"Ini berapa harganya Mbak?" Tanya Sheril dengan malu-malu.
__ADS_1
Pelayan toko itu langsung tersenyum. "Kita cek di kasir dulu," ujarnya.
"Baiklah, aku ambil yang ini saja," ujar Sheril.
Sheril dan pelayanan itu segera keluar, sementara Zian sibuk memainkan ponselnya.
"Tuan, bagaimana?,apakah ini cocok menurut mu?" Ujar pelayan itu pada Zian.
Zian segera menoleh dan langsung berdiri, ia menatap Sheril dengan kagum. Pesona kecantikan Sheril semakin keluar, dengan memakai gaun terusan dengan bawahan sedikit mengembang dengan warna biru dongker sebatas lutut. Sheril semakin cantik dan elegan apa lagi dengan lekuk tubuhnya yang ramping di pinggang dan membesar ke wabah, bentuk tubuhnya seperti ini sangat di sukai kaum adam, tidak terkecuali Zian sendiri. Ia menelan saliva nya melihat Sheril.
Dengan polesan make-up sedikit saja, ia akan cantik dengan sempurna.
Zian menautkan kedua alisnya, ia menutupi kekagumannya pada Sheri.
"Biasa saja, tapi sepatu dan tasnya tidak mecing dengan bajunya," ujar Zian.
"Baiklah Tuan, saya segera mengambilnya, tunggu sebentar," ujar pelayan itu beranjak pergi.
"tapi, cukup ini saja, aku tidak mau mengganti tas dan sepatu ku," ujar Sheril.
Zian menatapnya dengan dalam.
"Kenapa? Sepatu mu itu sudah jelek dan kusam, lihat tas mu, tidak bermodel sama sekali," ujar Zian membuat Sheril sakit hati dengan ucapannya. Matanya berkaca-kaca hendak menangis.
"Orang kaya, memang seenaknya saja menghina orang yang tidak punya," gumam Sheril sedih yang di dengar jelas oleh Zian. Ia menundukkan wajahnya.
"Aku tidak menghina mu, yang aku katakan itu benar," ujar Zian tidak ingin mengalah.
"Nona, coba ini sepatunya," ujar pelayan toko itu membantu Sheril memakainya.
"Saya tidak ingin sepatu ini, lagi pula, ini terlalu tinggi, saya tidak terbiasa," ucap Sheril tidak ingin memakainya.
"Baiklah Nona, saya akan mengambil sepatu yang lebih rendah dari ini," ujar pelayan itu.
"Tidak perlu, cukup ini saja, saya tidak membutuhkan sepatu lagi," ujar Sheril dengan cepat.
"Jangan dengarkan dia, cepat bawa kesini sepatunya," ujar Zian membuat Sheril melotot tajam kearahnya.
"Cukup kau mempermalukan aku di sini, aku tidak punya uang sebanyak itu, dengan baju ini saja uangku akan habis untuk membayarnya," ujar Sheril.
Zian terkekeh geli dalam hatinya mendengar ucapan Sheril seperti itu.
"Aku tidak menyuruhmu untuk membayarnya," ujar Zian. Ia langsung terdiam saat melihat pelayanan toko itu kembali membawa sepatu yang di inginkan Sheril.
"Nona, ayo pakailah," ujar perempuan dewasa itu. Sheril pun menurutinya, ia sangat nyaman memakainya.
Zian segera mengeluarkan kartu hitam miliknya dan menyodorkannya pada kasir. Sementara Sheril sedang memakai sepatu barunya.
"Total seluruhnya menjadi 37 juta," ujar kasir itu.
Sheril membulatkan matanya. Ia tidak pernah belanja dengan nominal sebanyak itu.
"Apa? 37 juta!" Ujar Sheril terkesiap.
Zian langsung menutup mulut Sheril dengan telapak tangannya hingga penjaga kasir itu tidak mendengar suara Sheril.
"Jangan mempermalukan aku di sini, 37 juta belum seberapa buatku," ujar Zian berbisik di telinga Sheril.
"Tapi aku tidak punya uang sebanyak Itu," ujar Sheril dengan polosnya.
Zian geli mendengar ucapan Sheril.
"Uangku yang membayarnya, bukan uangmu," ujar Zian membuat Sheril langsung diam.
Mulailah dukungan karya Author mulai dari sekarang ya, karena author akan berbagi pulsa gratis akhir ceritanya, kalian bisa dukung dengan cara vote, like dan komen dan memberikan gift untuk karya author ya, seperti yang sudah author jelaskan sebelumnya. terimakasih selamat membaca.
__ADS_1