
Zian terpaku menatap kepergian perempuan itu. Bibirnya tersenyum miring. "Dasar perempuan pencuri," gerutu Zian dalam hatinya. Ia tersenyum tipis membayangkan wajah Sheril yang kapan di perhatikan ia memang cantik.
"Ah kenapa aku membayangkan perempuan itu, tidak. Ini tidak bisa di biarkan, tidak mungkin aku menyukai perempuan seperti itu, lagian aku mencintai istriku," gumam Zian.
Zian kembali kedalam villa dan menutup pintu utamanya. Ia segera berlari menaiki tangga menuju kamar pribadinya. Zian ingin beristirahat di sana.
Ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur king dan langsung memejamkan matanya bersama mimpi indahnya di sana.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, Sheril bergegas membersihkan dirinya, ia menyegarkan tubuhnya. Setelah cukup ia memakai pakaian apa adanya yang ada di dalam lemari itu. Sheril menemukan dress yang pas untuk membalut tubuhnya. Ia langsung mengenakan dress berwarna pink salem itu, walaupun dress itu masih agak kebesaran, tapi itu tidak menutupi lekuk tubuhnya yang seksi.
lalu ia menatap dirinya dari dalam kaca. Sheril tersenyum samar saat melihat bedak compact powder yang ada di atas meja kaca rias itu, entah mengapa hatinya tergerak untuk memakainya.
Sheril langsung mengambil bedak itu dan memulai di tap-tap kan di wajahnya secara tipis-tipis saja, setelah cukup Sheri langsung menyisir rambutnya yang masih basah itu.
Sheril langsung turun kebawah, kemungkinan bibi Anum sudah pulang, pikir sheril, ia ingin ngobrol pada bibi Anum, karena seharian ini Sheril tidak bertemu dengan bibi Anum.
"Bibi!" Panggil Sheril dengan suara lembutnya, tapi tidak ada bibi Anum di belakang. Sheril mencoba pergi ke kamar bibi Anum, tapi kamar itu terlihat kosong.
"Kemana bibi Anum, kenapa jam segini bibi belum juga pulang dari pasar?" Pertanyaan pertanyaan menenuhi kepala Sheril. Sheril tampak gusar, ia pergi ke taman belakang.
Sheril membuang napas kasarnya setelah ia mendudukkan pantatnya di bangku taman itu. Pandangannya menatap lurus ke depan.
Sheril mencium semerbak wangi dari bunga mawar yang baru saja mekar. Ia langsung menghampiri bunga mawar itu dan menghisap aromanya.
Sementara Alzian Guinandra baru saja bangun dari tidurnya, ia langsung beranjak hendak ke kamar mandi, tapi tiba-tiba pandangannya terpaku saat melihat perempuan yang ada di taman itu sambil berjongkok mencium bunga mawar warna warni itu. Ia tidak melihat penampilan Sheril dengan penuh, karena posisi Sheril membelakanginya
Tanpa Zian sadari kalau ia tersenyum tipis menikmati pemandangan itu.
Zian segera membersihkan dirinya. Setelah berganti pakaian dengan kaos oblong mahalnya berwarna putih dengan paduan celana panjang modis warna coksu, ia tampil keren dengan rambut yang sengaja di sisir acak.
Sekali lagi Zian memandang kearah taman lewat kaca jendelanya. Ternyata perempuan itu masih tetap berada di tempatnya. Zian berniat ingin menggodanya, ia pun langsung turun kebawah dan pergi ketaman belakang.
Zian menatap perempuan itu dari belakang dengan kedua tangannya di masukkan di saku celananya. Zian memperhatikan Sheril menciumi bunga mawar itu satu persatu.
"Ternyata dia sangat menyukai bunga mawar," gumam Zian dalam hatinya.
__ADS_1
Saat Sheril hendak berdiri ia terkejut melihat seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Sheril langsung melangkah mundur sambil memegangi dadanya.
Zian menatapnya dingin. "Kenapa? Apa aku ini seperti hantu hingga kau terkejut seperti itu?" Ujar Zian datar.
Sheril terpana melihat penampilan Zian saat ini, aroma parfum segar dan elegan sangat tercium di hidung Sheril. tapi dengan cepat Sheril mengalihkan perhatian pada bunga mawar itu. Ia tidak ingin laki-laki di hadapannya ini menjadi besar kepala kalu tau Sheril menganguminya.
"Iya, kau memang seperti hantu jailangkung, datang tiba-tiba," ujar Sheril.
Zian tidak mengalihkan pandangannya menatap Sheril dengan seksama.
"Nona cantik, ternyata dia memang cantik, berdandan seperti ini saja sudah sangat cantik," pikir Zian.
Sheril hendak beranjak dari tempat itu, ia tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan pria bear itu.
Tapi pria itu segera menahan tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Zian datar.
"Bukan urusan mu," ujar Sheril ketus sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan laki-laki itu.
"Menarik sekali," ujar Zian dengan senyuman miringnya.
"Apanya yang menarik! Lepaskan tanganku, bukankah kau tidak suka menyentuh kulitku yang bauk dan dekil ini!" Tukas Sheril meninggalkan suaranya.
Zian terdiam mendengar ucapan Sheril yang begitu menyentuh perasaannya. Ia melepaskan tangan Sheril begitu saja.
Sheril mencari bibi Anum lagi.
"Pak Ben, bibi Arum kemana, kenapa tidak terlihat?" Tanya Sheril setelah pak Ben masuk kedapur untuk mengambil sesuatu.
"Bibi arum pulang kampung, Non, apa bibi Arum tidak bilang," ujar pak Ben.
Sheril langsung menggelengkan kepalanya.
"Kenapa bibi Arum pulang pak? Dan kenapa tidak memberitahu Sheril?" Ujar Sheril berkaca-kaca hendak menangis.
__ADS_1
"Bibi Arum pulang mendadak, Non, anaknya tiba-tiba sakit," ujar pak Ben.
Sheril langsung terdiam. Ia pergi keruang keluarga dan duduk di sofa dengan lemas.
"Aku tidak ada teman kalau tidak ada bibi Arum, siapa yang mengajak ku ngobrol? siapa yang menemaniku makan?" Pikir hati Sheril dengan mata sendunya.
Sheril menopang wajahnya dengan tangan kirinya. Tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya dari jauh.
Au ....
Tiba-tiba Sheril menjerit sambil memegangi perutnya.
"Au ... sakit sekali," Sheril langsung meringis menahan rasa sakitnya, keringat dingin langsung memgucur di pelipisnya. Zian yang melihat itu panik dan langsung menghampiri Sheril.
"Kamu kenapa?" Tanya Zian cemas melihat wajah Sheril memucat.
"Perutku sakit sekali," ujar Sheril dengan lemah, suaranya hampir tidak terdengar.
"Baiklah aku akan membawamu ke dokter," ujar Zian. Ia langsung membopong tubuh Sheril ala bridal. Sheril pun tidak ada penolakan karena perutnya benar-benar sakit.
"Pak Ben, siapkan mobil!" Ujar Zian setengah berteriak.
Pak Ben langsung menyiapkan mobilnya. Ingin sekali ia menanyakan sesuatu, kenapa tiba-tiba Nona cantik itu merasa kesakitan seperti itu. Tapi itu hanya pikiran pak Ben saja, tidak mungkin ia akan berani bertanya seperti itu.
"Ah ... sakit," ujar Sheril dalam gendongan Zian.
"Tenanglah kita akan kerumah sakit," ujar Zian. Sheril pun tidak menghiraukan apa pun, ia hanya merasakan sakit di perutnya saja saat ini.
Zian mendudukkan Sheril di dalam mobil, lalu mengatur sandaran jok mobilnya agar Sheril merasa nyaman. Zian duduk di samping Sheril, sementara wajah Sheril semakin pucat. tiba-tiba mata Zian membulat saat melihat darah mengalir di kakinya Sheril. Sheril pun hilang kesadarannya.
"Pak cepat! bisa ngk cepat sedikit! kalu tidak kita akan terlambat!" bentak Zian, ia benar-benar panik, apa lagi melihat Sheril sudah tidak sadar.
Refleks Zian memeluk Sheril.
"Nona, bangunlah, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit," ujar Zian memukul-mukul pipi Sheril dengan pelan.
__ADS_1
ikuti terus kisahnya ya, dan jangan lupa dukung terus karya author dengan like, vote, komen dan juga hadiah gift agar dukungan klian semakin meningkat dan mendapatkan pulsa gratis dari author jika top fans kalian paling tinggi. terimakasih