
Sheril tidak menyahuti ucapan laki-laki itu.
Setelah Zian keluar dari kamarnya. Sheril merubah posisinya. Ia duduk dengan kedua kakinya di tekuk hingga ia bisa menopang kan dagunya di kedua lututnya.
Zian langsung pergi ke dapur mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, setelah itu ia mengambil sepotong daging ayam bakar yang masih tersisa di dalam prasmanan, Zian tidak lupa mengambil beberapa tusuk bakso bakar yang tadi di beli oleh pak Ben, lalu meletakkan makanan itu dalam nampan. Zian tampak memikirkan sesuatu, "mungkin ada yang kurang," pikirnya.
"Iya, air minum," Zian langsung mengambil teko air lalu mengisinya dengan air putih, tidak lupa ia juga meletakkan gelas di nampan itu. Setelah cukup, Zian langsung membawanya ke atas.
Sheril tampak terkejut saat menyadari kalau Zian sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap makanan yang di letakkan Zian di atas meja.
"Makanlah, setelah itu minum obat mu," ujar Zian dengan suaranya yang berat.
Sheril melirik Zian sekilas.
"Untuk apa kamu repot-repot membawa makanan itu kesini, aku bisa mengambilnya sendiri nanti," ucap Sheril ketus.
Zian menatap tajam kearah Sheril. Ia tidak suka dengan penolakan Sheril seperti itu. Ia merasa Sheril tidak menghargai usahanya untuk berbaik hati padanya.
"Aku tidak suka dengan penolakan mu itu, segeralah makan, kalau tidak aku yang akan menyuapi mu," tukas Zian.
Sheril langsung mengambil satu tusuk bakso bakar yang ada di dalam piring makanannya, lalu melahapnya dengan kesal. Zian memperhatikan kelakuan Sheril.
Setelah menghabiskan satu tusuk bakso bakar, Sheril kembali mengambil bakso bakar itu lagi dan melahapnya seperti orang terpaksa.
Zian tau kalau Sheril menikmati bakso bakar itu, sejak di dalam mobil tadi Zian memperhatikan Sheril, kalau dia menginginkan bakso bakar. Zian memperhatikannya dengan sudut matanya tanpa sepengetahuan Sheril.
"Makanya jangan di paksa, kalau tidak suka, sini biar aku saja yang menghabiskan," ujar Zian sambil mengambil piring itu, dan ingin membawanya pergi.
"Tidak, a-a-ku menyukainya," ujar Sheril malu-malu, ia menundukkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
Zian menatap wajah Sheril, dalam hatinya tersenyum melihat tingkah perempuan hamil muda ini.
"Kalau begitu, cepat habiskan makananmu," ujar Zian sambil menyodorkan piring itu ke tangan Sheril. Sheril pun langsung menerimanya dengan baik.
Zian memperhatikan isi piring Sheril hampir habis, ia segera membuka kantong asoi obat itu dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu. Sheril mulai tertarik untuk memperhatikan laki-laki itu.
"Kenapa sikapnya menjadi baik seperti ini," gumam Sheril.
__ADS_1
Zian memberikan obat itu pada Sheril.
"Ini minumlah," ujar Zian seraya menuangkan air minum kedalam gelas yang masih kosong.
Sheril langsung menelan beberapa pil yang di berikan oleh Zian. Zian langsung menyodorkan segelas air putih setelah Sheril berhasil menelan obatnya.
"Lain kali kamu tidak perlu repot-repot memperhatikan aku seperti ini, aku bisa melakukannya sendiri," ujar Sheril.
Zian menatap Sheril dengan seksama. "Kamu jangan GR, aku melakukan ini karena aku tidak ingin di repot kan lagi oleh mu, karena bibi Anum lagi pulang kampung," ujar Zian membuat wajah Sheril langsung memanas, mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus. Sheril memalingkan wajahnya, ia tidak ingin Zian menatap wajahnya yang memerah itu.
"Kalau begitu keluar lah dari sini, aku mau tidur," ujar Sheril mengusir Zian.
"Atas dasar apa perempuan ini mengusirku di bangunan ku sendiri," gumam Zian.
"Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu tidur disini," ujar Zian membuat Sheril langsung membulatkan kedua matanya.
"Apa! Yang benar saja! Aku tidak ingin tidur bersama mu!" Ucap Sheril.
Zian menautkan kedua alisnya, bibirnya tersenyum miring.
"Awas saja kalu kamu macem-macem," ancam Sheril sambil menatap Zian dengan mata tajamnya
Sheril ingin marah saat Zian mengambil bantal dan selimutnya. Untungnya masi ada 2 bantal, tapi selimutnya.
"Ah terserah saja, aku tidak ingin berdebat dengan laki-laki bear ini," gerutu Sheril. Sheril langsung merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya.
Sementara Zian tidak bisa tidur dengan nyaman. Ia melirik Sheril yang sudah terlelap meringkus tidur tanpa selimut.
Zian langsung bangkit dari tidurnya, menghampiri Sheril sambil membawa selimut. Zian menatap wajah Sheril dengan seksama.
"Ternyata dia sangat imut saat tidur seperti ini," batin Zian sambil duduk di bibir ranjang. Zian segera menyelimuti tubuh Sheril setengah badannya. Lalu beranjak pergi keluar kamar. Sebelum menutup pintu kamarnya, Zian kembali menoleh kearah Sheril yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Zian menghembuskan napas kasarnya setelah menutup pintu kamar Sheril dengan rapat.
Zian berdiri dekat anak tangga. Entah apa yang ia pikirkan. Ia tampak gusar dan kusut. Zian meremas rambutnya dengan erat.
"Kenapa perasaanku seperti ini? Apa yang aku pikirkan?" Gumam Zian. Ia sama sekali tidak tau dengan perasaan hatinya. Ketakutan, keinginan, entah apa itu ia tidak mengerti.
Zian pergi ke suatu tempat, ia ingin menelpon seseorang yang tidak lain adalah dokter Sarah.
__ADS_1
"Iya, Tuan ada apa?" Ujarnya Dari seberang sana.
"Besok pagi kamu datang ke VillaZa, saya ingin kamu mengurus Sheril, tadi ia sempat mengalami pendarahan," ujar Zian dari dalam ponselnya.
"Apa? Kenapa bisa terjadi Tuan?" Ujar Sarah terkejut.
"Tidak tau, itu terjadi tiba-tiba, tadi saya sudah membawanya ke klinik terdekat," ujar Zian.
"Terus bagaimana keadaannya?" Tanya Sarah.
"Dia sudah membaik, dan dengar, saya ingin kamu mengurus segalanya, mulai dari makanannya, karena bibi Arum sedang pulang kampung,"
"Jadi saya juga harus memasak Tuan?" Ujar
Sarah langsung membulatkan matanya saat mendengar ucapan Zian yang tidak masuk akal itu.
"Hei! Saya belum selesai bicara, jangan kebiasaan memotong pembicaraan ku," tukas Zian.
Sarah langsung terdiam, ia mendengarkan ucapan Zian selanjutnya.
"Lakukan apa yang saya perintahkan, saya akan membayar mu 3 kali lipat dari gaji mu," ujar Zian.
Seketika itu pula wajahnya berbinar saat Zian mengatakan nominal gajinya.
Sarah sangat senang mendapatkan tawaran dari Zian, bibirnya langsung melebar. Bagaimana tidak, ia akan mendapatkan gaji yang lebih besar dari tawaran sebelumnya. Malam ini juga Sarah akan berangkat ke VillaZa kalu Zian menginginkannya.
"Baiklah Tuan, saya akan melakukannya," ucap Sarah senang.
Tut-tut-tut ....
Zian langsung memutuskan sambungan telponnya.
"Dasar perempuan, mendengar nominal uang langsung senang," gumam Zian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
💕💕💕💕💕
ikuti terus kisahnya ya, dan jangan lupa dukung terus karya author dengan like, vote, komen dan juga hadiah gift agar dukungan klian semakin meningkat dan kalian akan mendapatkan pulsa gratis dari author jika top fans kalian paling mencukupi nominalnya. terimakasih.
__ADS_1