Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
merasa aneh


__ADS_3

Suasana dingin di dalam mobil, tak ada sedikitpun mengeluarkan suara, baik Sheril maupun Zian. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Baru saja Sheril merasa terbang ke awang-awang, ia sangat bahagia mendengar ungkapan Zian, mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing, namun sekejap pula kebahagiaan itu hilang sirna, rasanya Sheril tidak mau hidup lagi, perasaan hancur berkeping setelah mendengar pengakuan suaminya.


Tapi Sheril mengingat janjinya yang baru saja ia lontarkan. Akankah Sheril mengingkari janjinya?


Air matanya kembali menetes. Ingin rasanya Sheril berteriak sekarang juga, ia merasa semua yang terjadi padanya tidak adil.


Zian melirik Sheril dari ekor matanya. Ada rasa penyesalan di dalam dirinya.


"Aku harap kamu tidak terlalu memikirkan masalah ini, tidak baik untuk ibu yang sedang hamil muda," Zian mencoba memecah keheningan setelah sekian lama mereka terdiam.


"Bagaimana aku bisa melakukannya, bagaimana dengan anak dan istrimu jika mereka tau? Aku tidak ubah dari seorang pelakor," isak Sheril membuat Zian langsung menginjak pedal rem nya.


Zian menatap Sheril, ia tidak suka dengan kalimat pelakor yang barusan ia katakan.


"Kamu itu bukan pelakor, kalu bukan karena kecelakaan itu, belum tentu kita menikah, masalah anak dan istri ku, kamu tidak perlu memikirkan itu, itu urusan ku, sekarang pikirkan saja rumah tangga kita, anak kita berdua," ucap Zian dengan tegas.


"Aku tidak ingin terjadi apapun dengan anak ku, jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran, biarkan semua aku yang memikirkannya," imbuh Zian lagi.


Sheril terdiam mendengar kalimat Zian. Ia tidak berhenti menangis.


"Sheril, sebelumnya sudah aku katakan, kamu harus menerima kenyataan ini, aku sudah jujur dengan status ku sebelumnya," ucap Zian sedikit kesal.


"Iya, aku berterimakasih padamu, karena sudah mengakui kebenarannya. Tapi jujur, hati ku sesak mas, sakit," ungkap Sheril dengan air mata yang menggenang.


"Sheril, coba kamu pikirkan, bagaimana perasaan istriku jika dia tau ini semua? Ia akan lebih sakit hati dari mu, tapi aku tidak sengaja melakukan itu, semua terjadi begitu saja kan? Dan aku harus bertanggung jawab atas semua ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu dan calon anak kita, aku akan berusaha adil Sheril!" Ucap Zian mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya terasa berat, ia pusing menghadapi masalahnya, belum lagi banyak pekerjaan yang menumpuk.


Sheril menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia enggan untuk menatap Zian.


"Kamu tau kalu akulah yang bersalah dalam masalah ini, aku sudah menyakiti dua orang perempuan sekaligus, termasuk kamu. Jadi tolong terima kenyataan ini walaupun hati kamu sakit, mengertilah. Aku tulus mencintai kamu dan anak kita," Zian menatap Sheril ia meraih kedua tangan Sheril dan hendak menciumnya.


Sheril langsung menyingkirkan tangan Zian. Pandangannya beralih keluar kaca mobil. Zian merasa sangat kesal, ia menarik napas dalamnya, lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di villa, Zian segera mengantar Sheril kedalam kamar mereka.


"Sayang, apakah kamu sangat membenciku saat ini?" Tanya Zian, namun tidak ada jawaban dari Sheril.


"Sayang, maafkan mas ya, jangan marah lagi," ucap Zian berusaha menenangkan Sheril.


"Sudah mas, aku mau sendiri," ucap Sheril dengan suara seraknya karena habis menangis.


Zian menelan ludahnya. Ia menghembuskan napasnya secara berlahan.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin aku sentuh, jaga dirimu, sekarang istrahatlah," Zian menutupi tubuh Sheril setengah badan, tidak lupa ia mengecup kening Sheril.


"Selamat malam," ucap Zian seraya beranjak keluar dari kamar.

__ADS_1


Zian berjalan gontai menyusuri anak tangga, kepalanya pusing dan berat.


Ah ....


Zian mengacak rambutnya, ia memilih pergi saja.


.


.


.


.


"Heru, susul saya ke tempat biasa," Zian menelpon asistennya setelah ia sampai di bar tempat ia sering menghilangkan penat saat ia tidak bisa berpikir jernih.


Setelah memesan minuman, Zian langsung meneguk nya sampai tandas. Kemudian ia menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Zian segera menyalakan korek api dan menyesap rokok filternya hingga mengeluarkan kepulan asap yang sangat nikmat bagi pecandu nikotin.


Zian merasa masih haus, kepalanya masih terasa pusing, ia kembali memesan minuman yang berkelas tinggi, lalu meneguknya dalam satu tarikan napas saja minuman beralkohol itu sudah tandas. Zian tidak merasa puas, ia memesannya lagi dan lagi.


Seorang perempuan menghampiri Zian, dan langsung duduk di pangkuannya. Zian merasa risih, ia langsung mendorong tubuh perempuan itu, hingga ia terjungkal di lantai. Semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah Zian, tentu saja perempuan itu sangat malu di perlakukan Zian seperti itu.


"Awas saja kamu, aku akan memberi perhitungan pada mu malam ini Zian. Lihat saja," geram perempuan itu sambil tersenyum licik.


"Apa-apaan kamu! kenapa kamu mendorongnya?" Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Zian dengan kemarahannya yang sepertinya membela perempuan itu, mungkin sahabatnya atau kekasihnya.


Laki-laki itu membusungkan dada hendak melayangkan bogem mentah nya pada Zian, namun perempuan itu menghalanginya.


"Sudah, biarkan saja, kita cari cara lain untuk mengerjainya," ucap perempuan itu berbisik pada pria itu.


Perempuan yang ia tidak tau namanya itu, pura-pura baik dengan Zian, ia menampilkan wajah manisnya di depan Zian, bahkan ia menawarkan minuman gratis khusus untuk Zian. Walaupun dalam keadaan mabuk, Zian menyadari siasat buruk dari Perempuan itu.


Zian diam saja, ia masih duduk di tempatnya semula, sambil menunggu Heru datang.


"Mas ini, ayo di minum," Perempuan itu menyodorkan minuman di hadapan Zian. Zian mengambilnya.


"Tolong ambilkan aku air putih," ujar Zian pada perempuan itu.


"Oke, tunggu sebentar ya," ucap perempuan itu sambil tersenyum genit menatap Zian, ia meletakkan gelas minumannya di samping Zian.


Sementara Zian langsung membuang isi dari gelas perempuan itu ke sembarang arah, lalu ia menuangkan minuman yang ada di dalam gelas miliknya hingga habis.


"Ini minumlah," ingin membantu Zian minum, namun dengan cepat Zian mengambilnya gelas dari tangan perempuan itu.


"Terimakasih, biar aku sendiri," Zian tersenyum.


"Minuman kamu sudah habis? Cepat sekali?" Tanya perempuan itu, sambil mengembangkan bibirnya. Ia berhasil, pikirnya.

__ADS_1


"Iya, cuma segelas, hanya satu kali teguk sudah habis," ujar Zian mengedipkan matanya pada perempuan genit itu.


Perempuan itu salah tingkah di buat Zian. Zian mendekati perempuan itu lalu memeluknya dengan erat.


Perempuan itu merasa senang, ia yakin obat yang ia berikan pada Zian sudah bereaksi, pikirnya.


"Punyamu belum kamu minum," ucap Zian sambil menyodorkan bibir gelas yang sengaja ia tukar tadi. Zian tidak ingin kejadian yang kedua kalinya.


Perempuan itu langsung meminum isi gelas itu samapi tetes terakhir. Ia tersenyum puas, tangannya merangkul leher Zian.


"Bagiamana, mau nambah lagi?" ujar Zian melepaskan tangan perempuan itu.


"Tidak, sudah cukup," perempuan itu merasa ada yang aneh pada dirinya.


Ia duduk di samping Zian, ia merasa tubuhnya panas. "Jangan-jangan aku salah minum," gumam perempuan itu.


Zian melirik perempuan itu dengan senyuman licik.


"Bagaimana? Sudah merasakan sesuatu?" bisik Zian.


"Apa maksudmu?" tanya perempuan itu. Ia mulai merasa tidak nyaman.


"Rasain, senjata makan tuan, kamu berusaha ingin menipuku?" Zian terbahak lalu pergi setelah Heru menarik tangannya.


"Kurang ajar kamu, brengsek," perempuan itu marah, ia berusaha mengejar Zian, dengan cepat Heru menyeret tubuh Zian ke mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kamu buat masalah apa lagi sama perempuan itu bos? kenapa dia begitu marah padamu?" tanya Heru setelah mereka tenang di dalam mobil.


Zian menceritakan kronologis nya. Heru paham maksud Zian meski ucapannya kurang jelas akibat pengaruh alkohol.


"Pulang ke rumah atau ke villa bos," tanya Heru.


"Ke rumah," ujar Zian dengan suara berat, sama sekali tidak jelas. Namun, Heru tau apa yang di maksud bosnya itu.


.


.


.


.


Selamat membaca.


wajib like setelah membaca.


jangan lupa dukung terus karya author, agar karya ini tetap berkembang.

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2