
"Mas ...."
Sheril tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dia putriku."
Ucap Zian yang masih menenangkannya.
Sudah kuduga, dia adalah putrinya Zian. Ingin menenangkan gadis kecil itu, tetapi Sheril ragu. Ia merasa iba mendengar tangisan pilu bocah itu.
"Aura, Aura mau apa? katakan sama papa?"
"Coba ambil sufor nya!" titah Zian pada baby sister.
"Baik Tuan." Baby sister itu melangkah pergi dengan setengah berlari.
"Mas, bolehkah aku menggendongnya?" Sheril mencoba meminta izin sama Zian. Zian melirik Sheril sekilas.
"Kalau sudah seperti ini, dia sulit untuk diam."
Sheril menghela nafas, sementara baby sister sudah datang dengan susu di tangannya.
Zian langsung memberikan susu itu pada gadis kecilnya, namun dia langsung membuangnya dengan tangisan yang terdengar sedih.
Melihat itu Sheril segera mengambil botol susu yang sengaja bocah itu buang.
"Aura, sini gendong Tante, mau?" Gadis kecil itu menatapnya, lalu membuang mukanya kembali. sambil menangis kencang. Zian dengan sabar membuatnya diam.
"Sini gendong Tante, main sama tante, iya? ini susunya, ayo ..., ikut tante kan?" Suara Sheril yang begitu tulus dan lembut, membuat bocah itu menatapnya, kemudian menganggukkan kepalanya yang kecil sambil menangis.
Aura langsung di gendong oleh Sheril.
"Tapi kamu ...."
Tangisan bocah itu sedikit mereda, membuat Zian bengong dan menunda kalimatnya. Serena yang sejak tadi sudah pulang, ia memperhatikan mereka dari teras. Zian bengong terpaku melihat, dia mengambil botol susu yang Sheril berikan, dan tidak membuangnya seperti tadi. Serena juga takjub melihat pemandangan ini.
__ADS_1
"Ikut tante ya? Mau ikut tante?" bocah itu mengangguk serta mengaitkan tangannya di leher Sheril, lalu menangis pilu memeluknya
"Mama ..., Mama ...," suara pilu terdengar memanggil Mama sambil terisak, namun tangisannya tidak sekencang tadi. Sheril membawanya masuk. Zian pun langsung menyusulnya.
Sheril merasa aneh, Emang mamanya kemana? Sheril yang memang tidak tau apa-apa tentang istrinya Zian itu. Tetapi Sheril tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu kepada siapapun.
"Aura mau apa? coklat mau?" Bocah itu mengangguk. Sheril memberikan satu coklat, dan mengelus pipinya. Zian pun merasa lega.
"Tante mau mandi, boleh ya?" Sheril menatap gadis kecil itu dengan tersenyum lembut, agar ia mau turun dari pangkuannya.
Namun Aura menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat orang-orang yang ada di sana lebih terkejut.
"Tidak." ucapannya seraya berdiri dan merangkul leher Sheril.
Terlihat Sheril mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Kenapa tidak? Aura mau ikut tante ke kamar," bocah itu kembali mengangguk.
"Ayo, kita ke kamar Tante ya," Sheril ingin berdiri, namun Zian mencegahnya.
Sheril menatap Zian, kemudian melihat wajah kecil Aura.
"Gendong papa ya, papa antar ke kamar tante."
Bocah itu mengangguk dan merangkul leher Zian. Zian hanya merasa khwatir, jika Sheril yang menggendongnya akan mengganggu sang bayi yang masih di dalam kalbu.
Di dalam kamar, Zian menurunkan Aura, menatap Sheril yang menundukkan wajahnya. Sesaat Sheril mengangkat matanya, bertatap langsung dengan manik mata Zian, alhasil mereka saling pandang, bibir Zian sedikit terangkat, ingin mengucapkan sesuatu.
"Terimakasih, karena kamu dia bisa tenang dan berhenti menangis." Zian menatap bocah itu, yang sedang memakan coklat.
"Tidak perlu berterimakasih seperti itu, dari dulu aku, memang menyukai anak-anak."
Zian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tapi ..., Aku penasaran, bagaimana kamu bisa menenangkan Aura? Biasanya, dia kalo menangis sulit di kendalikan siapapun itu, kami yang mereka kenal saja, terkadang tidak bisa mengatasinya. Tetapi ..., kamu yang belum pernah dia lihat dan belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi bisa? Aku hanya heran."
__ADS_1
Sheril memandang lurus.
Menggelengkan kepalanya "Aku ngk tau, aku hanya menggunakan inisiatif saja, bahwa ketika berbicara dengan seorang anak kecil, harus tulus dan lembut, tidak ada beban di hati, kemungkinan anak kecil akan merasa nyaman."
Tidak hanya anak kecil, tatapi aku juga nyaman bersama kamu Sheril! Tetapi Zian masi gengsi untuk mengatakannya saat ini.
"Ya sudah mandilah, nanti aku akan mengantar pakaian mu,"
Sheril mengangguk.
Sebelum pergi, Zian menghampiri Aura, takut dia merepotkan Sheril nanti.
"Aura, ikut papa keluar ya?"
Bocah itu menggeleng.
"Tidak mau," ucapnya menirukan suara anak kecil, namun, hal seperti itu bisa di pahami oleh siapapun.
"Ya sudah, tapi jangan merepotkan tante ya?" bocah itu langsung mengangguk setuju.
Kemudian Zian keluar dan menutup pintu kamar Sheril.
"Sekarang sudah berani masuk kedalam kamarnya, dengan alasan yang sangat tepat."
Zian terkejut dan menoleh ke sumber suara!
Hem ....
Bagaimana kisahnya?
ikuti terus ya, tap ❤️ agar kalian mendapatkan notifikasi update terbarunya. dan klik like setelah membaca.
terimakasih 🙏🙏🙏
...----------------...
__ADS_1