Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Pulang


__ADS_3

Setelah mendengar kata-kata Zian waktu di taman itu, Sheril tidak banyak bicara. Hanya sesekali ia ke taman untuk sekedar melepas kejenuhannya.


Di taman itu Sheril menghabiskan waktunya membersihkan daun-daun bunga yang kering. Sheril begitu menyukai bunga.


"Nona cantik, kamu lagi apa? Biarkan saja, nanti pak Warin yang akan membersihkannya," ujar bibi Arum menghampiri Sheril yang lagi menggunting bunga dan dedaunan yang mulai menguning.


"Ngk apa-apa, Bi, Sheril hanya membersihkan dedaunan saja, agar bunganya tetap terlihat segar," ujar Sheril datar.


"Baiklah Non, jika merasa capek, langsung istrahat saja ya, bibi akan membawa makanan untukmu," ujar bibi Arum seraya meninggalkan Sheril.


...****************...


"Zian, kamu di mana, Nak, kok semalam ngk pulang kerumah?" Tanya mama Serena dalam ponsel.


"Pekerjaan Zian belum kelar, Ma, makanya belum pulang," jawab Zian dari seberang sana.


"Hari ini harus pulang ya, selesai ngk selesai pulang," tukas Serena.


"Iya, Ma," ujar Zian.


Alzian menghembuskan napasnya dengan kasar, ia begitu malas pulang kerumah.


"Ririn!" Teriak Serena.


Ririn langsung terbangun setelah mendengar teriakkan dari mama mertuanya itu. Ririn mengerjapkan matanya berulang kali. Dengan malas Ririn bangun dari tidur, dengan berjalan gontai ia segera ke bathroom untuk membersihkan dirinya.


"Punya mertua sangat menyebalkan, aku tidak bisa tenang, tidurku sangat terganggu olehnya, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Masalah anak harus di kerjakan sendiri. Untuk apa bayar pembantu? Untuk apa saya baby sister," ujar Ririn sebal sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.


Selesai itu Ririn langsung berganti pakaian dan turun ke bawah.


Di meja makan sudah ada Serena yang menunggunya sejak tadi. Serena menatap Ririn dengan menaikkan kedua alisnya.


"Pagi, Ma," sapa Ririn seraya menarik kursi lalu duduk di hadapan mama mertuanya itu.


"Kamu baru bangun?" Tanya Serena menatap Ririn.


Ririn tidak berani menatap mertuanya.

__ADS_1


"Sudah sejak tadi, Ma, cuma Ririn baru saja mandi," ujar Ririn.


"Jangan di biasakan tidur kesiangan, apa lagi mempunyai suami dan anak kecil, mereka pagi-pagi butuh sarapan, dan itu tugas seorang istri yang harus menyiapkannya," ujar Serena.


"I iya, ma," ujar Ririn menyembunyikan rasa kesalnya dengan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Ayo sarapan, habis itu suapi Aura dengan bubur itu, Mama sudah memasaknya," ujar Serena sambil mengambil piring dan mengisinya dengan lauk pauk.


Mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Selesai itu, Ririn langsung mengambil bubur dalam panci dan meletakkannya di mangkuk khusus balitanya.


Setelah itu Ririn pergi keatas untuk mengajak anaknya turun.


Ririn meletakkan Aura di kursi khusus untuk makan balita.


"Sayang, a ... " ujar Ririn menyuapi Aura. Namun Aura memalingkan wajahnya.


"Sayang, kenapa tidak mau makan," ujar Ririn.


"Ayo, buka mulutnya sayang," lagi-lagi Aura memalingkan wajahnya.


Serena memperhatikan cara Ririn menyuapi cucunya.


"Ini sendok nya kepenuhan Ririn, cucuku bisa tersedak kalau begini caranya. Nih perhatikan ya, ambil makanan seujung sendok saja, lalu, "a ... sayang, ayo makan sedikit saja," ujar Serena.


Ririn memperhatikan Mama mertuanya dengan kesal.


Tapi Ririn langsung bengong saat melihat Aura langsung memakannya.


"Mengurus anak-anak itu harus benar-benar di perhatikan, dan satu lagi, pakai perasaan, seorang anak kecil sangat tau apa yang sedang di rasakan orang tuanya," sindir Serena seraya memberikan mangkok bubur pada Ririn. Serena menggelengkan kepalanya melihat sikap Ririn seperti itu.


"Lama-lama aku bisa gila di sini," gumam Ririn.


...****************...


"Mama," Zian langsung memberikan salam sama mamanya dan langsung memeluknya.


"Baru pulang, Nak?" Tanya Serena.

__ADS_1


"Iya, Ma, baru saja," jawab Zian.


"Papa kenapa ngk ikut, Ma?" Tanya Zian.


"Papa kamu tidak bisa ikut, ada banyak pekerjaan di sana," ujar Serena.


"Ya sudah, Ma, Zian mau ke atas dulu," ujar Zian.


"Zian, Mama masih kangen, kamu sudah mau pergi saja," sungut Mama Serena.


"Zian mau mandi dulu, Ma, setelah itu kita lanjutkan ngobrolnya lagi okay," ujar Zian memeluk mama lagi, sebetulnya Zian juga kangen dengan perempuan yang sudah melahirkannya ini.


"Mike bagaimana? Kenapa dia tidak mau ikut?" Ujar Zian duduk di samping mamanya, setelah habis membersihkan dirinya.


"Adek kamu ya juga sibuk, apa lagi sekarang sudah mau semester akhir," ujar mama Serena.


Mereka berbincang-bincang sampai waktunya makan malam tiba.


"Nyonya, tuan, makan malamnya sudah siap," ujar bibi.


"Sayang, panggil istrimu," ujar mama Serena.


"Iya, Ma," Zian langsung ke atas.


"Mama sudah menunggu kita di meja makan," ujar Zian datar.


Ririn tidak menyahuti ucapan suaminya, ia langsung menggendong Aura dan membawanya ikut serta menemani makan malam.


Sementara Zian mendahului Ririn.


Di meja makan, Ririn segera mengambilkan Zian nasi dan lauk pauk. Ini sudah sangat jarang di dilakukannya karena mereka juga jarang makan bersama.


Ririn tidak mengucapkan apa-apa setelah melakukan kewajibannya.


Serena memperhatikan Zian dan Ririn, tapi ia tidak ingin mengatakannya sekarang.


Selesai makan pun mereka kembali keruang keluarga sekedar berbincang-bincang dan menonton berita dunia, Zian lebih suka nonton kabar dunia dari pada sinetron yang seperti sering di tonton mamanya. Sementara Serena bermain dengan cucunya.

__ADS_1


Ayo mana dukungannya,


vote dan like


__ADS_2