
Zian benar-benar sudah mempersiapkan segalanya untuk Sheril dan juga calon anak mereka. Ia tidak ingin istri dan anaknya terlantar apa pun yang terjadi nanti. Zian bukanlah malaikat yang bisa memprediksi hidup di masa depan. Punya persiapan yang matang itu lebih baik pikir Zian.
Diam-diam Zian sudah membangun sebuah rumah minimalis dua lantai dengan konsep elegan. Zian menerka selera Sheril, istrinya pasti menyukainya, pikirnya.
Rumah sederhana yang memiliki dua lantai merupakan salah satu desain rumah yang banyak diminati masyarakat di era modern seperti sekarang ini. Zian tersenyum puas melihat rumah sederhana itu, kemewahannya sudah terlihat meski belum finishing. Setelah rampung Zian akan membeli perabot yang cocok buat rumah itu, barulah ia akan mengajak Sheril kesana, sekalian memberikan surat menyurat rumah tersebut atas nama Sheril. Tidak lupa Zian pun sudah menyiapkan kamar buat bayi mereka nanti.
"Pak, kapan selesainya, saya sudah tidak sabar ingin menempatinya," ucap Zian sambil melihat-lihat ketempat lainnya.
"Sekitar 2 minggu lagi sudah bisa di tempati Tuan," ucap salah satu tukang bangunan itu.
Zian langsung melotot melihat ke arah tukang bangunan itu. Mereka tampak menundukkan kepalanya.
"Dua minggu! Apa saja yang kalian lakukan selama itu, saya sudah membayar kalian dengan mahal, tapi pengerjaan kalian sungguh lelet," upat Zian kesal mendengar jawaban laki-laki itu. Dua minggu itu terlalu lama buatnya untuk menunggu.
__ADS_1
"Tuan, Sebelumnya saya minta maaf, justru kami di bayar terlalu mahal, maka dari itu kami mengerjakan pekerjaan kami dengan hati-hati agar tidak ada kesalahan, dengan bekerja terburu-buru, maka hasilnya tidak akan bagus, dan kami tidak ingin membuat Tuan kecewa dengan hasil kerja kami," ucap salah satu dari mereka yang mungkin kepala bangunan itu.
Zian terdiam, yang di katakan laki-laki itu ada benarnya juga pikirnya.
"Sebetulnya satu minggu lagi sudah selesai Tuan, tapi ada bagian bagian tertentu yang harus kami bersihkan," sambung laki-laki itu lagi.
"Baiklah terserah kalian," ucap Zian lalu pergi meninggalkan mereka.
Di dalam mobilnya, Zian tersenyum membayangkan betapa bahagianya Sheril jika di ajak tinggal di rumah ini. Zian tersenyum sendiri duduk di belakang, sementara Heru yang mengemudikan mobil merasa aneh melihat tingkah Zian tersenyum sendiri di belakang.
"Ehem,"
Sejak tadi Zian sadar kalau Heru memperhatikannya, namun ia sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
"Menurut mu bagaimana rumah itu, apakah istriku akan menyukainya?" Tanya Zian melirik kaca spion dari belakang.
"Ehem," ujar Heru yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi sudah di potong oleh Zian.
"Dari tadi kamu cuma berdehem saja, apa tidak ada kata-kata lain selain hem gitu," Zian tampak kesal, sementara Heru tersenyum mendengar ucapan Zian yang menurutnya aneh.
"Gimana lagi bos, saya bingung menjawabnya," ujar Heru yang lagi-lagi kalimatnya di potong oleh Zian.
"Tinggal jawab saja dia suka atau tidak, beres, kan," ujar Zian semakin kesal.
"Maaf bos, menurutku kalo untuk nona Sheril, pasti dia akan menyukainya, tapi kalo untuk istrimu yang galak itu dia tidak akan suka dengan rumah yang minimalis seperti itu," ucap Heru, ia tampak gugup karena keceplosan mengatakan istri bosnya itu galak. Keringat dingin mulai menyelimuti tubuh Heru.
"Hem,"
__ADS_1
Hanya itu saja yang keluar dari bibir Zian. Heru masi di ambang ketakutan kalu bosnya itu akan memarahinya, biasanya setiap Heru menjelekkan istrinya, Zian akan marah. Heru merasa aneh, di samping ia merasakan lega, hatinya tetap bertanya-tanya, hanya ia tidak berani untuk mengatakannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷