
"Nyetel musik?"
"Iya," jawab Zian.
"Tapi ngk ada suaranya, bahkan Tape nya mati," ujar Sheril seraya menyalakan menyalakan musiknya.
"Iya, Tape nya emang ngk di nyalakan," ucap Zian dengan jujur. Ia memandang wajah teduh istrinya.
"Terus katanya kamu,"
"Tidak-tidak, tadi aku terhipnotis," ujar Zian tidak melanjutkan kata-katanya, namun tatapan matanya menatap dalam wajah cantik Sheril.
"Terhipnotis? Maksudnya siapa yang menghipnotis kamu?" Sheril merasa cemas, tidak mengerti ucapan Zian, ia menatap lekat wajah suaminya yang juga tidak berkedip memandangnya.
"Kamu," ucap Zian.
Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sheril.
"Aku?"
Sheril menunjukkan dirinya sendiri, mencondongkan tubuhnya kebelakang menghindari waja Zian yang semakin mendekati wajahnya.
"Iya, kecantikan kamulah yang menghipnotis aku," Zian semakin mendekatkan wajahnya hingga tubuh Sheril mentok di jok mobil. Sheril tidak bisa menghindari Zian lagi. Sementara Zian merasakan tubuhnya memanas. Zian melancarkan aksinya, mengunci bibir pink milik Sheril, lalu menjalar ke leher jenjang istrinya dengan rakus. Sheril menggelinjang, seketika ia sadar.
"Mas,"
Sheril mendorong dada Zian. Zian pun langsung menghentikan aksinya dan kembali membetulkan posisi duduknya. "Dasar bodoh, kenapa aku bisa rakus seperti ini melihatnya," pikir Zian sambil melajukan mobilnya dengan pelan, pandangannya lurus kedepan.
Sementara Sheril memandang keluar kaca jendela mobil. Wajahnya memerah menahan malu. Ia tidak berani melirik Zian. Begitupun dengan Zian, mereka sama-sama canggung terutama Sheril, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Sheril merasa menyesal sudah mendorong dada suaminya. Ia menyesali perbuatannya yang sudah menolak keinginan sang suami hingga menimbulkan ke-kecewa seperti ini. Pikir Sheril.
__ADS_1
Sementara pikiran Zian jauh berbeda.
"Masa bodoh, dia kan istriku, kenapa aku harus canggung seperti ini?" Pikiran Zian. Selama bersama Ririn sampai saat ini, Zian tidak pernah merasa canggung sama Ririn, ia tidak pernah mengalami perasaan seperti ini. Entah mengapa Zian mulai bisa memperbandingkan kelebihan istrinya masing-masing, atau mungkin belum begitu lama mengenal Sheril? Atau memang Ririn tidak bisa membuat suaminya berada di titik kenyamanan.
"Mas, maaf. Aku tidak sengaja mendorong mu tadi," tiba-tiba Sheril memulai pembicaraan setelah lama saling membisu.
"Kenapa dia meminta maaf?" Terbersit di hati Zian untuk menjahili istrinya.
"Mas, kamu marah sama aku," ucap Sheril melirik suaminya yang pokus dengan setir mobilnya.
"Em .... "
Ucap Zian menyahuti kata-kata Sheril tanpa meliriknya sedikitpun.
"Ya aku minta maaf, maksudku bukan begitu,"
Sheril terdiam melihat suaminya tidak menanggapi ucapannya. Ia kembali melihat ke luar kaca jendela. Perasaannya tidak enak, sementara Zian meliriknya dari sudut matanya.
"Ngk apa-apa, aku juga mengerti," akhirnya Zian bicara juga.
Sheril menyandarkan punggungnya di jok mobil dengan memejamkan kedua matanya.
Cup ...
Tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Sheril, membuat ia membuka matanya. Sheril menatap suaminya yang kini tersenyum menatap lurus kedepan.
"Mas," panggil Sheril.
"Kamu ngk marah lagi, kan?" Tanya Sheril kemudian.
"Tidak, siapa yang marah," ucap Zian.
__ADS_1
"Jadi tadi kamu ngk marah?" Imbuh Sheril menatap suaminya yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Em ... Kamu jahat banget," Sheril mencubit lengan suaminya.
Zian terkekeh, ia mengacak rambut istrinya dengan gemes.
"Kenapa? Kamu takut kalau aku marah?" Ucap Zian kemudian.
"Tidak, hanya ngk enak saja," jawab Sheril.
"Mana mungkin aku bisa marah dengan wanita yang sudah mengandung anakku," ucap Zian kemudian.
Sheril tersenyum simpul mendengar kata-kata suaminya.
Jujur saja, semakin hari Sheril semakin membuat Zian nyaman, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkannya sedetikpun, tapi di sisi lain ia harus bekerja, harus pulang ke rumah. Perhatiannya sudah teralihkan dengan perempuan yang bernama Sheril, di mana wanita yang sudah di hancurkan masa depannya, jadi Zian pun harus bertanggung jawab atas semuanya
Zian juga sudah bertekad, suatu saat nanti, ia akan mengakui kebenarannya.
Zian memang salah, tapi ia pun mengambil kesimpulan yang benar sudah menikahi wanita lain yang direnggut kesuciannya, bahkan tertanam benihnya di dalam rahim Sheril.
Siapa yang salah di sini?
Adakah yang bisa menjawab nya?
.
.
.
.
__ADS_1
you membaca? like ya
dukung terus karya author.