Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Kemana?


__ADS_3

Setelah menelpon, Zian tidak kembali kedalam kamar Sheril. Ia masuk ke kamarnya dan memejamkan mata di sana.


Pukul 6 pagi Zian sudah bersiap ingin pergi. Ia akan langsung ke-kantor saja. Sebelum berangkat, Zian menyempatkan diri melihat kamar Sheril, barangkali perempuan itu sudah bangun.


Dengan hati-hati Zian memutar kenop pintu kamar Nona cantik yang selalu di katakan bibi Arum.


Zian menatap Sheril yang masih terlelap dengan selimut tebalnya. Kemudian ia menutupnya kembali dengan pelan, takut membangunkan tidurnya Sheril.


Sementara dokter Sarah juga sudah sampai di VillaZa sesuai yang di inginkan Alzian Guinandra.


"Pagi Tuan," sapa Sarah dengan ramah.


Zian tidak menjawab sapaan Sarah, tapi ia langsung memberikan tugas pagi untuk Sarah.


"Sebelum kamu melakukan apapun, kamu buat sarapan dahulu, dan kalu tugas mu sudah selesai, kamu cek keadaan dia, segera hubungi saya jika terjadi sesuatu," tukas Zian dengan tegas.


"Tuan, maaf. Dia siapa ya?" Ucap dokter Sarah yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zian.


"Kamu sudah tau maksud saya, masih saja nanya," ujar Zian melototkan matanya.


"I-iya Tuan, maafkan saya," ujar dokter Sarah menundukkan wajahnya.


Sarah tidak berani berkata lagi kalau Zian sudah berkata seperti itu. Zian pun langsung meninggalkan Sarah menuju ke mobilnya.


"Bibi Arum pakai pulang kampung segala, kenapa anaknya harus sakit sih?" Gumam Zian. Ia tiba-tiba kesal saat mengingat tidak akan ada yang akan memasak di VillaZa.


"Masakan dokter Sarah? Apa enak?" Gumam Zian dengan pikirannya. Entah kenapa Zian tidak yakin dengan masakan dokter Sarah. Dan entah kenapa juga Zian harus memikirkan masalah masakan? Dia kan jarang makan di sana?.


Zian melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dengan menempuh waktu 1 jam ia pun sudah sampai di kantor miliknya.


Zian turun dari mobil mewahnya dengan langkah yang lebar, tubuhnya yang atletis, berkulit putih, hidung mancung dengan bibir seksi berwarna coklat muda. Matanya tajam kebiruan. dengan wajah yang terkesan sangat tampan, membuat orang-orang tertipu oleh umurnya yang sudah berkepala tiga. Ia tampak seperti laki-laki muda yang masih berumur 26 tahun. Tidak sedikit orang-orang mengagumi ketampanan Zian, apa lagi di tambah dengan postur tubuhnya yang banyak digilai oleh kaum hawa.


Zian melangkah masuk kedalam kantornya. Semua tatapan tertuju pada Alzian Guinandra, mereka tidak bosan-bosannya memandangi wajah tampan Zian saat Bos besar itu melintasi mereka. Ada pula yang sengaja mengambil perhatian pada Zian, walaupun mereka tau kalau Alzian sudah memiliki istri.


"Pagi Tuan," sapa dari mereka.


"Hem," ujar Zian.

__ADS_1


Ia tetaplah seperti biasa, ia hanya menanggapi sapaan mereka seperti itu setiap kali ada karyawan yang menyapanya.


"Yak ela, Bos, pelit amat sama suaranya," gumam dari salah seorang dari mereka yang tidak akan terdengar oleh Zian.


Zian langsung menuju pintu lift khusus pejabat tinggi.


Sesampai di depan ruangan kerjanya, seperti biasa Zian di sambut oleh sekretaris cantik dan seksi yang bernama Susi. Susi langsung tersenyum manis saat melihat kedatangan atasannya itu. Ia pun segera membuka pintu ruangan kerjanya Zian.


"Selamat pagi pak," ujar Susi seraya sedikit membungkukkan badannya.


"Apakah Heru sudah datang?" Tanya Zian datar, tanpa menyahuti sapaan sekretarisnya.


"Sudah Pak, ia lagi di ruangannya. Tadi pak Heru sudah meletakkan berkas untuk meeting pagi ini di atas meja bapak, silahkan di periksa dahulu, pak," ujar sekretaris Susi.


Zian langsung melewati tubuh Susi yang sedang berdiri di samping pintu ruang kerjanya. Ia sama sekali tidak menjawab pembicaraan sekretarisnya itu, apa lagi melirik, ia sama sekali tidak tertarik.


Susi menghembuskan napas kasarnya setelah menutup rapat pintu itu.


"Berbicara padaku, tapi sama sekali tidak ingin menatap ke arahku, dasar Bos sombong," gerutu Susi.


Susi berusaha menggoda Zian, ia sengaja memakai pakaian serba pres, agar lekuk tubuh indahnya terlihat.


Di VillaZa. Sheril baru saja mengerjapkan matanya saat matahari pagi menyilaukan matanya. Sheril merenggangkan otot-ototnya yang kaku agar kembali pres. Tapi seketika itu pula Sheril sadar kalu ia tadi malam tidak tidur sendirian.


Sheril langsung bangkit dari tidurnya dan duduk berselonjor di ranjang, Sheril mengangkat selimut tebalnya yang masih membalut tubuhnya.


"Selimut ini, kan ... "


Sheril langsung menghentikan kalimatnya saat matanya tertuju pada sofa yang sudah kosong, hanya ada bantal saja di sana.


"Kemana laki-laki itu? Bukankah ia tidur di sana? Dan kenapa selimut ini ada denganku? Atau mungkin ia sudah bangun duluan," pikir Sheril.


"Kenapa aku memikirkannya? Ah masa bodoh," Gumam Sheril, sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia segera ke bathroom untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai mandi, Sheril langsung mengganti pakaiannya seperti biasa. Sheril duduk menghadap kaca hias sambil menyisir rambutnya.


"Wangi sekali, siapa yang masak? Apa bibi Arum sudah pulang?" Ujar Sheril. Iapun segera turun kebawah, ia ingin tau siapa yang masak sepagi ini, "bibi Arum apa mungkin? Bukankah anaknya lagi sakit? Tapi siapa yang masak?"

__ADS_1


Sheril sangat penasaran. Ia segera pergi kedapur.


Dari jarak beberapa meter, Sheril menduga-duga perempuan yang lagi berkutat di kompor mengaduk aduk masakannya.


"Dokter Sarah!" Ujar Sheril terkejut melihat dokter sedang memasak.


Dokter Sarah langsung menoleh kearah Sheril. Ia tersenyum saat menata Sheril.


"Pagi Sheril, baru bangun ya?" ujar dokter itu dengan celemek yang menempel di badannya.


Sheril mendekati dokter Sarah.


"Dokter kenapa masak disini? Dan sejak kapan dokter Sarah ada di sini?" Tanya Sheril heran.


"Oh, saya baru saja datang pagi tadi," ujar Dokter Sarah.


Sheril memperhatikan dokter Sarah.


"Terus, kenapa dokter Sarah harus memasak?" Ujar Sheril.


"Karena saya menginginkannya, dan ini sudah termasuk ke hobian ku juga," ujar dokter Sarah berbohong.


"Tapi, dokter Sarah kesini, ada apa? Apakah dokter akan tinggal di sini juga?" Tanya Sheril membuat dokter Sarah bingung, ia bingung harus menjawabnya seperti apa.


"Ah tidak Nona, Tuan sengaja menyuruhku kesini untuk menemanimu, katanya kamu kurang enak badan, bagaimana keadaanmu? Saya akan memeriksa mu setelah ini," ujar Sarah sambil meletakkan nasgor kedalam piring dan meletakkannya di atas meja.


"Menemaniku? Apa maksudnya, aku juga berani sendirian di sini, kenapa mesti di temani? Apa laki-laki itu takut kalau aku akan kabur," gumam Sheril dalam pikirannya.


"Nona Sheril," ujar Sarah membuyarkan lamunan Sheril.


"Ah, itu, i-iya, tapi sekarang sudah tidak lagi," jawab Sheril.


"Kamu tidak boleh kecapean ya, yang terpenting juga, jangan banyak pikiran, ayo sarapan, nasi gorengnya enak kok," ujar dokter Sarah itu.


"Baik dokter," ucap Sheril.


Jangan lupa vote dan like ya reader.

__ADS_1


kabar gembira buat para pembaca, di akhir cerita nanti, author akan berbagi pulsa gratis, dengan menyeleksi dukungan terbanyak dari 1 2 dan 3. jadi mulai sekarang dukung karya author sebanyak-banyaknya ya.


terimakasih


__ADS_2