
Sheril terlihat begitu menyayangi Aura. Meskipun bukan anak kandungnya, di memang menyukai anak-anak.
"Sheril, aku ingin bicara sama kamu."
ucap serena, setelah berkata dia pergi ke ruang keluarga. Sheril mengikutinya dari belakang.
"Duduk."
Ucap serena.
Sheril pun duduk sambil menggendong Aura.
"Bibi!"
Serena berteriak memanggil pelayan.
"Iya Nya."
"Bawa Aura ke atas." perintahnya.
"Baik."
Setelah Aura di bawa ke atas. Serena menatap Sheril dengan dalam.
"Sheril, aku lihat kau begitu menyayangi Aura?"
Sheril mengangguk sambil berucap: "iya."
"Aku harap, kau selalu memberikan perhatian layaknya seorang ibu kandung terhadap cucuku Aura. Aku rasa sedikit banyaknya kau sudah mengetahui prahara rumah tangga anakku?"
Sheril menundukkan wajahnya sambil mengangguk.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak mengharapkan Zian bercerai dari ibunya Aura. Tapi ...,"
Serena terdiam sesaat.
"Sepertinya rumah tangga Zian dengan istrinya tidak akan bertahan. Kau berdua sudah menikah meskipun itu hanya nikah sirih. Aku berharap kau bis menjaga pernikahan mu dengan putraku, anggaplah anaknya Zian anak mu juga."
"Iya Nya."
"Jangan panggil aku Nyonya, aku adalah ibu mertua mu, ibunya Zian. Jadi kau harus memanggil ku sama seperti bagaimana Zian memanggil ku."
"Baik, Nya .., Mama."
Sheril menjawab dengan canggung. Dia terlihat malu-malu dengan pipi yang sudah merona.
"Baiklah, kau jaga kandungan mu, jangan gendong Aura lagi nanti perut mu terganggu."
Sheril ngk tau kenapa, mendengar Serena berkata seperti itu hatinya langsung mencelos. matanya langsung menitikkan air mata.
Kenapa anak ini menangis?
Apa kata-kata ku tadi menyinggung perasaannya? Perasaan ku ngk ada menyinggung hatinya?
"Kenapa kau menangis?" Tanya Serena heran.
"Tidak, aku .., aku hanya terharu saja. Terimakasih sudah mau memperhatikan aku." Lirihnya kemudian.
Serena masih terlihat bingung.
Kata-kata barusan ....
Serena merasa itu hanya kata-kata biasa tapi dia ....
__ADS_1
"Sudah sore, kau bersihkan diri mu, jangan sering mandi tertalu sore, orang hamil ngk boleh mandi malam."
"Iya, mah, kalo begitu aku ke atas dulu."
Sheril bangkit dari tempat duduknya, lalu bergegas pergi ke atas menuju kamarnya.
Perasaannya terlihat berbinar setelah mendengar apa yang di katakan Serena. Dia lebih tenang dan sedikit nyaman.
Dia berharap hubungannya dengan ibu mertuanya akan semakin baik kedepannya.
Selesai mandi Sheri merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kepala yang bersandar di bantal yang tadi dia tumpuk. Hari ini dia menunggu kabar dari Zian, namun pria itu belum menghubunginya. Setiap masuk kamar Sheril memeriksa ponselnya, berharap ada telpon atau pun pesan dari suaminya.
Namun sampai sekarang pun, belum ada notifikasi yang dia tunggu-tunggu.
Sheril merasa cemas dan gelisah.
Dia menatap layar ponselnya, dan berpikir akan menghubungi suaminya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Sheril memutuskan menelpon Zian.
Tidak di angkat.
Sheril kembali mencoba menghubunginya, namun tetap tidak di angkat.
Lalu dia mengirim sebuah pesan: "Mas, kok ngk ada kabar? Sheril telpon ngk di angkat. kamu lagi ngapain? Sudah makan belom?"
Sheril menunggu balasan pesan dari Zian, namun pesan chat nya juga tidak di balas, sampai akhirnya Sheril tertidur dengan posisi masih menegang ponsel.
Saat serena ingin ke kamarnya, melewati kamar Sheril yang sedikit terbuka, Serena sedikit mengintip dari cela pintu. Lalu kemudian Serena menegang handel pintu hendak menutupnya, entah apa yang dia pikirkan Serena bukanya menutup pintu, melainkan membukanya.
Melihat Sheril meringkuk tidur di atas kasur, Serena langsung bergegas masuk, dan menyelimuti setengah badan wanita itu, dia melihat Sheril masih memegang ponselnya, dia pun mengambilnya dan ingin meletakkannya di atas nakas.
__ADS_1