
Besok pernikahan Sheril dengan Denis akan berlangsung. Sheril tidak dapat menghindari pernikahan ini, lagi pula ia tidak punya bukti yang kuat untuk menolaknya. Sheril sudah menunjukkan cincin kawinnya pada Denis dan juga Kakek dan neneknya. Namun mereka tidak percaya, mereka tetap bersikeras untuk menikah kan Sheril dengan Denis.
Seperti biasa, orang kampung akan beramai-ramai memasak untuk makanan para tamu undangan besok. Tidak ada acara resepsi, namun Kakek Samit dan nenek Mala akan melakukan selamatan saat selesai acara akad pernikahan cucunya besok.
Sheril tampak mengurung dirinya dalam kamar.
Tok-tok-tok ...
Pintu di ketuk dari luar. Sheril yang mendengar malas untuk membuka pintunya.
Tok-tok-tok ....
Pintu kembali di ketuk dari luar.
Dengan malas Sheril akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Nenek, ada apa?" Ujar Sheril datar.
"Ayo makan, Nenek memasak makanan kesukaan kamu," ujar neneknya.
Sheril langsung mengikuti langkah neneknya ke dapur, di meja makan sudah tertata rapi berbagai makanan, mulai dari gulai ikan, ayam, daging, semua ada di meja.
Melihat Sheril hanya diam saja, nenek Mala langsung mengambil centong nasi dan juga berbagai gulai.
"Makanlah, Nenek sudah memaafkan kamu, besok hari pernikahan kamu, nenek sangat bahagia dengan pernikahan kamu ini. Sheril, nak Denis itu orang yang baik, nenek yakin, kamu tidak akan menyesalinya, dia sangat menyukai kamu," ujar nenek Mala berbicara dengan Sheril.
"Iya, Nek," jawab Sheril singkat. Ia tidak dapat menolak keinginan neneknya, ia hanya pasrah kepada yang kuasa.
"Wah Sheril, kamu tambah cantik aja sejak tinggal di kota, hanya kamu tampak sedikit gemuk sekarang," ujar salah satu orang yang memasak makanan di dapur.
"Terimakasih, Bu," ucap Sheril sambil tersenyum kaku.
Banyak orang yang membicarakan Sheril. Ada pula yang mengejek dan ada pula yang memuji pesona kecantikannya. Biasalah namanya juga orang kampung.
Tiba-tiba ada keributan di luar sana.
"Sheril! Keluar kamu!" Teriak seseorang dari luar.
Sheril langsung menegang, begitu pula dengan nenek Mala dan yang lainnya.
"Ada apa Nenek, kenapa ada keributan di luar," ujar Sheril menghentikan makannya dan langsung mencuci tangannya dengan bersih.
"Nenek juga ngk tau," ujarnya.
"Sheril! Keluar, jangan menyembunyikan aib mu di dalam!" Teriak seorang perempuan dari luar sana.
__ADS_1
Sheril dan nenek Mala langsung keluar. "Ada apa ini?" Ujar Sheril langsung menatap perempuan yang sangat ia kenali. Diana, dia adalah teman sekelas Sheril waktu di SMP sampai SMA.
"Diana, kenapa kamu berteriak seperti itu, ada apa dengan mu," ujar Sheril menatap Diana dengan seksama.
"Beraninya kamu merebut kekasihku! Denis itu kekasihku! kau pulang hanya untuk menikah dengannya! Demi menutupi aib yang kau kandung! Agar anak mu memiliki seorang ayah, berapa banyak ayah dari anak itu, hingga Denis yang menanggung semuanya! Dasar perempuan m*****n," Cerca Diana dengan sorot mata penuh dengan kebencian. Diana hendak melayangkan tangannya, namun orang-orang menahannya.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Sheril. Mereka yang melihat langsung terperangah, mobil semewah ini jarang sekali ada yang memilikinya. Seseorang turun dari dalam mobil di susul dengan satu laki-laki lagi di belakangnya, ia Seorang pria tampan, gagah dan perkasa dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dengan pakaian yang kasual menambah kesan kerennya. Karismanya terlihat jelas kalu ia seorang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan yang luar biasa.
"Lepaskan aku! Perempuan j*****g ini harus di beri pelajaran," cerca Diana memberontak. Ia menatap mata Sheril dengan tajam.
"Diana, ini salah paham, aku sama sekali tidak merebut Denis dari mu, aku bisa menjelaskan semuanya," ujar Sheril.
"Apa yang harus kamu jelaskan, sudah sangat jelas kalu besok kamu dan Denis akan menikah, kenapa kamu tidak menikah dengan ayah dari anak yang kamu kandung itu, oh ya, karena kamu tidak tau yang mana bapaknya, iya kan? karena terlalu banyak laki-laki yang sudah tidur denganmu," cerca Diana dengan sinis.
Sheril menatap Diana dengan mata yang berkaca-kaca, ia sangat malu dan sakit hati dengan hinaan Diana. Banyak orang yang menonton kejadian ini, karena memang keadaan rumah Sheril lagi rami, banyak tentang tetangga yang membantu membuat makanan.
"Cukup Diana, aku tidak seperti yang kamu katakan,"
"Ah iya, anak haram itu butuh pengakuan, iya, kan?" Ujar Diana memotong ucapan Sheril.
Sheril sudah sangat geram dengan ucapan Diana, ia tidak mau ditindas seperti itu. Sheril maju menghadapi Diana.
Sheril hendak menampar wajah Diana, namun ibunya langsung mencengkram tangan Sheril dengan erat.
Laki-laki itu dengan tenang memegang tangan ibunya Diana. Sementara yang lainnya takjub bercampur tegang, semua mata tertuju pada laki-laki berkaca mata hitam itu. terlebih lagi Sheril dan keluarganya. Mereka tampak berbisik-bisik, penasaran akan laki-laki itu.
Sheril tampak tercengang, ia juga tak kuasa menahan air matanya. Apa lagi mendengar hinaan yang keluar dari mulut kasar Diana.
"Saya tidak akan membiarkan kau menyentuhnya, sedikit saja kau melukainya, kau akan menanggung akibatnya," ujar laki-laki itu dengan suara dinginnya.
Semua yang mendengar ucapan laki-laki itu merinding ketakutan, ibunya Diana langsung berkeringat dingin. Sementara Diana menatap laki-laki itu tanpa berkedip. "Malaikat dari mana ini? Sungguh ciptaan tuhan yang paling sempurna," gumam Diana dalam hatinya.
Laki-laki itu menghempaskan tangan ibu Diana dengan kasar. Lalu ia menghampiri Diana. "Jaga mulut kotor mu itu Nona, atau kau akan menyesalinya seumur hidup mu," ujar laki-laki itu menatap dengan tatapan ingin membunuh sekarang juga. Diana langsung melangkah mundur. Ia ketakutan setengah mati.
Sementara nenek Mala memeluk cucunya.
"Siapa laki-laki ini, Nak," ujar nenek Mala lirih.
Sheril menundukkan wajahnya.
"Jelaskan padaku, ada apa ini Sheril," ujar Zian tiba-tiba menghampiri Sheril. Sheril langsung menengadahkan kepalanya ke atas, ia langsung memeluk Zian dengan erat dan menangis di pelukan laki-laki tampan itu.
Zian juga memeluk Sheril dengan kacamata masih bertengger di hidung mancungnya.
Denis baru saja datang, dari kejauhan ia melihat calon pengantinnya di peluk laki-laki lain, Denis langsung mengepalkan kedua tangannya. Ia hendak menghajar laki-laki itu sekarang juga.
__ADS_1
Nenek Mala langsung menarik tubuh Sheril, ia geram melihat laki-laki itu memeluk cucunya begitu lancang menurutnya.
"Kamu sangat tidak sopan memeluk cucuku di depan banyak orang," tukas nenek Mala.
"Ada apa Nenek tua? tidak akan ada yang bisa marah di manapun aku ingin memeluk istriku," ujar Zian membuat semua orang terkejut, apa lagi Denis yang sudah siap ingin menghajar Zian, ia langsung membeku di tempat, langkahnya langsung terhenti.
"Apa! Istrimu? tunjukkan bukti yang akurat, agar kami percaya dengan ucapan mu," ucap kakek Samit dari belakang.
"Baik," Zian langsung memberikan isyarat pada Simba, agar ia menunjukkan bukti-bukti termasuk Poto waktu mereka melangsungkan akad pernikahannya.
Sheril langsung tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Nenek, Kakek, sekarang kalian percaya, kan, kalau aku sudah menikah."
Nenek Mala langsung memeluk cucunya. Ia menitikkan air matanya. Kemudian nenek Mala menghampiri Zian.
"Maaf kan kami, Nak, Untung kamu cepat datang, kalu tidak kami akan merasa sangat bersalah," ujar nenek Mala menundukkan wajahnya. Zian memegang pundak nenek Mala, lalu memeluknya.
"Ini juga kesalahan ku nenek, karena aku tidak bisa mengantar istriku pulang," ujar Zian menatap Sheril di belakang neneknya, ia melihat ada kerinduan di mata Sheril.
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja," ujar kakek Samit menimpali.
"Kakek, Nenek, bagaimana dengan ku, kenapa kalian seperti merestui pernikahan mereka?" Ujar Denis tiba-tiba dengan wajah yang sulit di artikan.
"Nanti akan di bicarakan, sekarang pulanglah, selesaikan masalah mu dengan Diana," ujar kakek Samit.
"Diana? kenapa dengannya?" ujar Denis.
"Semua orang juga tau, kau selesaikan masalah mu, dia sudah mempermalukan kami," ujar kakek Samit.
Sheril duduk di samping Zian, Zian menggenggam erat tangan Sheril. "kamu tidak apa-apa, kan? apa perempuan tadi menyakiti mu?" tanya Zian khwatir, karena ia mendengar sekilas ucapan perempuan itu menghina Sheril.
Sheril langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. Zian mengelus pucuk kepala Sheril dan mencium pelipisnya dari samping, ia tidak peduli orang-orang melihatnya. ia sangat merindukan perempuan pencuri ini.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
**Nantikan kelanjutannya ya, jangan lupa,
like β
voteβ
komen β
bijaklah dalam berkomentar**.
__ADS_1