Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
kekacauan di meja makan


__ADS_3

Sampai di rumah tepat pukul 2 dinihari, Heru membimbing Alzian masuk kedalam rumah besar itu.


Rumah itu tampak sepi. Sudah tentu sepi, karena pada jam seperti ini, tentu saja setiap penghuni rumah, masih sangat terlelap dalam tidurnya.


Heru mengantar Zian berbaring di kamar tamu.


Pagi harinya, tepat pukul 7 pagi, penghuni rumah sudah sadar dari tidurnya, terutama Serena. Serena menghampiri pintu kamar tamu yang sedikit terbuka, ia berniat menutupinya dengan rapat.


Sebelum menutup rapat, Serena menyembulkan kepalanya sedikit kedalam kamar itu, tapi ia terkejut saat melihat seseorang sedang tidur meringkuk di dalamnya. Ia langsung membuka lebar pintu itu.


"Alzian," seru Serena, ia berjalan menghampiri putranya.


"Kenapa kamu tidur di sini? kenapa tidak tidur di kamar mu sayang," Serena mengelus puncak kepala putranya dengan kasih sayang.


"Em, Sheril," Zian bergumam sambil menggeliatkan tubuhnya, lalu kembali memejamkan matanya. Serena mengerutkan keningnya, sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya, bau alkohol tercium oleh Serena.


"Siapa Sheril," ucap Serena bingung.


"Zian, bangun sayang, kamu mabok lagi, hey," Serena menabok punggung Zian, ia berharap Zian bangun dengan cara Serena seperti itu.


Dan benar saja, Zian menggeliatkan tubuhnya sekali lagi, lalu perlahan membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah ibunya, bukan Sheril.


"Mama, kenapa mama ada di sini?" Tanya Zian sambil mengucek matanya perlahan.


"Kamu itu yang kenapa tidur di sini," ujar Serena menatap putranya dalam.


"Mama,"


Zian memeluk mamanya dengan manja.


"Ih, sudah punya anak masi aja manja, bau alkohol lagi," Serena menyingkirkan pelukan putranya.


"Ma, aku kangen sama Mama, masa peluk aja ngk boleh," gerutu Zian.


"Ini anak kenapa tiba-tiba begini," pikir Serena, ia menguasai putranya, ingin mencari tau, ada apa?


"Cepat mandi sana, bersihkan tubuhmu sampai benar-benar bersih," titah Serena pada putranya.


"Iya, Ma, tapi baju Zian tidak ada di sini," ujar Zian.


"Biar Mama yang siapkan," ucap Serena. Ia meninggalkan Zian di dalam kamar tamu.


"Aura mana, Ma? Tanya Zian sebelum ia benar-benar masuk kedalam kamar mandi.


"Masih tidur!" Serena sedikit berteriak.


Serena memutar kenop pintu kamar Zian dan istrinya, dimana pintu itu masih tertutup rapat, tanda penghuninya masih terlelap.


Untung saja pintu itu tidak di kunci oleh Ririn, hingga dengan mudahnya Serena masuk.


Ia langsung menatap tajam pada tumpukan selimut yang seperti gelombang di atas tempat tidur. Dadanya langsung bergemuruh. Serena langsung menarik selimut Ririn dan menjatuhkannya di lantai. Ririn menggeliatkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ririn! Ya ampun, jam segini kamu belum bangun? Apalagi suami mu tidak di rumah, sepertinya kamu sangat senang sekali kalau putraku tidak pulang," Serena menatap tajam kearah Ririn.


"Mama, ini masih terlalu pagi, lagi pula, yang tidak mau pulang itu Zian sendiri, ia sibuk dengan pekerjaannya, bukan aku yang memintanya tidak pulang," Ririn tampak kesal dengan mertuanya itu.


Serena menggelengkan kepalanya, ia memiringkan sudut bibirnya sebelah, membentuk senyuman yang mengejek.


"Dia tidak pulang itu bekerja Ririn, dia kerja agar kamu bisa menghambur-hamburkan uang anakku, agar kamu bisa shopping beli apa aja yang kamu mau," ujar Serena sinis.


Ia sudah bosan mengingatkan Ririn, tapi sepertinya itu memang sudah menjadi kebiasaan buruknya sejak kecil, maka dari itu, sulit untuknya berubah.


"Maaf Ma, Zian itu suamiku, yang aku belanjakan itu juga uang suamiku, Zian menikahi ku juga bukan untuk di jadikan babu," serena memandang Ririn dengan tajam, kedua tangannya terkepal erat di sana, melihat itu, Ririn pergi ke kamar mandi meninggalkan Serena yang terpaku di sana.


"Menantu kurang ajar, berani sekali sama orang tua!" Emosi Serena membuncah. Kalu bukan ia ingat ada Zian, mungkin ia sudah melayangkan tangannya di mulut menantu iblis itu.


"Dasar nenek lampir, suka sekali ikut campur dalam urusan keluarga ku. Lebih baik wanita tua itu cepat mati saja," sumpah serapah Ririn mendoakan mertuanya.


Ririn tidak tau kala suaminya ada di rumah.


Serena langsung keluar dari kamar itu, seraya membawa pakaian putranya dengan wajah yang dingin.


Serena meletakkan pakaian putranya di atas kasur, lalu ia mencoba menata hatinya kembali dengan menghidangkan makanan lezat kesukaan Zian.


"Sayang, ayo kita sarapan, Mama sudah menyiapkannya," ajak Serena setelah putranya menghampiri meja makan.


"Ririn sama Aura mana, Ma, kok ngk turun?" Ujar Zian menatap Mama serena.


"Biasa, masi bermimpi, kalau Aura, tuh sudah turun sama bibi," tunjuk serena mengarah pada Aura yang di gendong bibi menuruni anak tangga.


Zian tersenyum lebar, ia membentangkan kedua tangannya, Aura pun langsung memeluk Zian dengan erat.


"Papa kangen sayang, Zian menciumi pipi gemoy anak gadisnya. Balita itu langsung menempelkan dahinya di dada bidang Zian, seolah ia sangat merindukan ayahnya.


Iya, Aura sangat menginginkan pelukan orang tuanya yang jarang sekali ia dapatkan.


Sementara Serena mengisi piring Zian dengan lauk pauk.


"Ayo makanlah, biar Aura bibi yang suapin," ujar Serena, ia duduk di samping putranya.


Mereka sudah memulai memasukkan makanannya kedalam mulutnya. Sementara Ririn baru saja turun.


Ia sedikit terkejut dengan Zian yang tiba-tiba ada di rumah sepagi ini.


"Sayang, kamu baru pulang pagi ini?" Tanya Ririn memulai pembicaraan, ia heran, kenapa mama Serena duduk di kursinya?


Tapi Riri tidak mempermasalahkan hal itu, ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Zian dan mertuanya.


Serena mencibir, sementara Zian hanya diam saja.


"Suami pulang malam aja tidak tau, istri seperti apa itu," papar Serena melirik Ririn dengan tajam.


Zian merasa tenggorokannya tercekat, tiba-tiba moodnya untuk sarapan hilang, Mama dan istrinya pasti akan bertengkar.

__ADS_1


"Ma, Zian pulangnya pasti sudah larut malam, lagi nyenyak tidur, jadi mana aku tau kalau dia pulang tadi malam," jawab Ririn tak mau kalah.


"Kamu itu selalu menyangkal kalau di bilangin, keras kepala sekali, seharusnya kamu bisa mengimbangi suami kamu," ujar Serena ketus. Sementara Zian sudah meletakkan kedua sendok nya di piring, selera makanya sudah hilang.


"Cukup Mama! jangan selalu ikut campur dengan urusan keluarga kami," Ririn meninggikan suaranya pada Serena yang sejak tadi ia tahan. Sementara Zian tidak terima Ririn bicara seperti itu pada ibu yang sudah melahirkannya dan membesarkannya.


Plak ....


Sebuah hadiah panas mendarat di pipi mulus Ririn dan


Byur ...


Zian menyiram muka istrinya dengan kuah sup yang ada di hadapannya. Sontak suasana di meja makan menjadi kacau.


Sementara Ririn terkejut setengah mati dengan sikap Zian pada dirinya.


"Zian! Apa-apaan kamu!" Pekik Ririn.


"Jaga ucapan mu saat bicara dengan yang lebih tua, dia ini ibuku, kamu tidak pantas membentak orang tuaku seperti itu, siapa kamu di sini!" Ucap Zian dingin seperti salju. Semua yang ada di sana terkejut, termasuk pelayanan di rumah Zian.


Baru kali ini Zian berani membentak Ririn dan memukulnya.


Ririn mengusap wajahnya yang memanas, matanya perih, akibat kuah sup itu.


"Zian! Kalu bukan mama yang keterlaluan, aku tidak mungkin berkata seperti ini. Aku ini istri kamu, ibu mu selalu ikut campur dengan rumah tangga kita, kalu kita tetap ada di sini, bisa-bisa rumah tangga kita akan hancur," Ririn menangis tersedu.


"Seharusnya kamu introspeksi diri! Bagaimana jika aku membentak ibu mu yang juga suka mengatur hidup anaknya? Apakah kamu bisa menerimanya! Pantaskah kamu bicara pada ibuku? pemilik rumah mewah ini!" Suara Zian semakin melengking, membuat seisi rumah diam tak bergeming.


"Ma, bawa Aura ke atas," titah Zian. Sementara Ririn menangis tersedu di lantai meminta belas kasi dari Zian, aktingnya memang seperti itu.


"Kamu tidak mencintai ku lagi Zian, kamu sudah berubah berapa bulan ini," Isak Ririn, Zian menghampiri Riri setelah memastikan kalu mamanya sudah berada di atas.


Zian berjongkok dan mencekat dagu Ririn. Ia tersenyum sinis.


"Kamu sama sekali ngk sadar ternyata ya, siapa yang membuat aku berubah seperti ini? Kamu ngk sadar, seorang lelaki bekerja untu keluarganya, untuk anak dan istrinya, ia rela pergi pagi pulang malam, tapi istrinya yang di rumah sama sekali tidak menghargai, bahkan mengacuhkan suaminya karena hal sepele, bahkan kamu menolak saat aku meminta hak ku? Tidak, kamu tidak menyadarinya, sekarang terserah kamu mau melakukan apapun, tapi ingat, jangan pernah berkata kasar dengan ibuku!" Ucap Zian dingin dan tegas. Zian melepaskan dagu Ririn dengan kasar hingga wajahnya menoleh kesamping.


Ia beranjak pergi dari hadapan Ririn.


Sementara Ririn menangis sambil memegangi pipinya yang terasa kebas dan panas. Ia menangis sejadinya.


.


.


.


.


Buat reader, terimakasih sudah mendukung pada karya author.


tap ❤️ agar kalian mendapatkan notifikasi update terbaru author.

__ADS_1


jangan lupa follow akun author ya.


__ADS_2