
Di dalam mobil, Heru melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, suasana terasa sangat mencengkram, sunyi dan menegangkan. Sheril tampak gelisah, memikirkan apa yang akan terjadi nanti, jika istrinya Zian melihatnya, apa lagi kalau tau dia akan tinggal bersama. Ide Zian ini memang gila, benar-benar gila.
Sheril berusaha untuk tenang, ia menarik napasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, Heru pokus dengan setir mobilnya, sementara Zian memejamkan matanya. Hanya terdengar suara musik yang tidak jelas Sheril dengar, karena suaranya sangat kecil sekali.
Heru melirik kaca spion, melihat Zian yang memejamkan matanya, kemudian melirik Sheril yang tidak tenang. Heru tau kekhwatiran wanita itu, ia memelankan kecepatan mobilnya. Biasanya, Zian akan protes jika dia menyetir sangat lambat, tetapi hari ini tidak, mungkin dia tau ada ibu yang lagi hamil di mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka memasuki rumah mewah, dan Heru memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah besar itu.
Zian pun membuka matanya, dia tau kalau ini sudah sampai di rumahnya. Sementara Sheril hanya menatap lurus kedepan dengan kekosongan.
Zian melirik Sheril.
"Ayo turun."
Deg ....
jantung Sheril langsung berdetak kencang, tubuhnya bergetar.
Turun? Berarti ini sudah sampai?
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Keringat dingin mulai mengucur. Harus tenang, tenang. Sheril memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya perlahan, lalu ia mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup.
Ia melihat pintu rumah mewah itu. Membayangkan istri Zian keluar dari sana dengan wajah yang marah, Sheril langsung merinding.
"Apakah kau akan tetap di sini?"
Zian menatap Sheril dengan matanya yang dingin.
__ADS_1
Andai saja dia di izinkan berada di dalam mobil ini, maka dia akan memilih, tetap berada di dini.
Dengan memberanikan diri, akhirnya Sheril keluar dan melangkah kakinya dengan ragu-ragu serta menundukkan wajahnya.
"Silahkan masuk Nona."
Dengan keraguannya, akhirnya Sheril menginjakkan kakinya di rumah Zian yang megah dan mewah. Ia tidak berani menatap atupun melihat-lihat sekeliling, ia hanya mengikuti langkah kaki Zian.
Keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya. Jika istrinya marah, aku tidak akan tinggal diam, Zian lah yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Entah apa yang terjadi, hingga Sheril bisa berpikir seperti itu.
Ya, karena ini semua ide gilanya Zian, dialah yang memaksa Sheril harus tinggal di sini.
Rumah ini sangat besar dan luas, Sheril merasa, sudah jauh berjalan, namun kaki Zian belum berhenti melangkah.
Zian berhenti di ruang keluarga, tepat pada saat itu, Serena sedang duduk di sofa, sambil membaca majalah keluaran terbarunya.
Melihat kedatangan Zian, ia berhenti membaca, menutup majalah dan meletakkannya di meja. Ia langsung berdiri sambil mengerutkan keningnya.
"Zian?"
Anak ini benar-benar membawa wanita ini.
Mendengar suara yang menyebutkan nama Zian, Sheril menelan Saliva nya, dia serasa melayang di angkasa, kakinya serasa tidak berpijak lagi di bumi, jantungnya berdebar keras, napasnya seakan berhenti seketika.
Ini pasti istrinya? Sheril tidak berani mengangkat wajahnya.
Oh tuhan, Hidup macam apa ini!
Tapi kenapa suaranya sangat dewasa? Sheril penasaran tapi dia takut.
"Ma, dia yang aku katakan, dia bisa menggantikan posisi bibi."
__ADS_1
Ha .... Mama? Mama sebagai istrinya atau ibunya?
Sheril semakin penasaran
Heru yang mendengar ucapan Zian barusan, ia bengong, menggantikan posisi bibi?
Itu artinya Tuan menjadikan nona Sheril pembantu?
Gila!
Serena menatap Sheril yang menundukkan kepalanya, ia tidak jelas melihat wajahnya.
"Kenapa dia menundukkan wajahnya seperti itu?"
Sheril kembali mendengar suara perempuan itu, tetapi ia tidak galak, mungkin sudah kesepakatan mereka untuk menjadikan aku pembantu mereka.
Serena melihatnya dari samping. Perempuan ini ..., dia sepertinya lumayan cantik.
"Angkat wajahmu," Zian berbisik dengan dingin.
Sheril mengatur napasnya yang sengaja ia tahan, kemudian perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya langsung tertuju pada perempuan setengah tua itu. Ini bukan istrinya, berarti ini mamanya Zian.
Serena menatap Sheril dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian menatap wajahnya dengan cermat.
"Tante," Sheril langsung mengulurkan tangannya menyalami tangan perempuan itu. Dan perempuan itu tidak sombong, ia menerima uluran tangan Sheril. Sheril sedikit lega, karena wanita ini bukanlah istrinya Zian
Serena menatap Sheril tanpa berkedip. Ia merasa, ada sesuatu?
Penasaran?
__ADS_1
...****************...
Sampai di sini dulu ya, besok author update lagi. Tetap seperti biasa, dukung karya author.