
Alzian baru saja terbangun dari tidurnya. Ia langsung sadar dan meraba sosok perempuan yang di tidurinya tadi malam. Alzian langsung bangun dari tidurnya.
"Kemana wanita itu!" gumam Zian, ia langsung memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya kembali. Alzian menggertakkan giginya. Ia takut perempuan itu sudah melarikan diri.
Tapi Zian langsung tertegun saat mendengar suara air gemercik dari dalam kamar mandi.
Zian langsung memutar kenop pintu kamar mandi dan menggedor-gedor pintunya dengan keras.
"Hai ... buka pintunya! Kenapa kau lama sekali di dalam!" Teriak Zian dari balik pintu.
Tidak ada sahutan dari dalam. Zian kembali menggedor pintunya lebih kencang lagi, tapi sama saja tidak ada sahutan.
Zian langsung memutar kenop pintu kamar yang menuju keluar.
"Tono! Buka pintunya!" Teriak Zian seperti orang sedang panik.
"Iya Tuan, sebentar," ujar Tono sambil membuka kunci kamar.
Zian menatap wajah Tono dengan seksama. Tono langsung merinding mendapati tatapan tajam dari atasannya itu.
"Perempuan itu tidak kabur, kan?" Tanya Zian kemudian.
"Tidak Tuan, dari tadi malam saya mengunci pintu ini, jadi saya pastikan tidak ada yang kabur dari pintu ini," jelas Tono dengan meremas ujung jarinya.
"Coba kau dobrak pintu kamar mandinya, sepertinya perempuan itu sudah mati di dalam," ucap Zian dengan hawa dinginnya.
"Mati Tuan!" Tono langsung merinding mendengar ucapan Zian, ia segera berlari menuju pintu kamar mandi.
"Nona! Buka pintunya!" Teriak Tono sambil menggedor pintunya dengan keras.
"Dobrak saja pintunya!" Ujar Zian mengeraskan rahangnya.
"Baik Tuan," ujar Tono, ia langsung mendobrak pintu kamar mandi dengan keras, berkali-kali Tono menendang dan mendorongnya, untuk yang kesekian kalinya, barulah pintunya terkuak dengan lebar.
Zian langsung masuk, ia ingin memastikan kalau perempuan itu ada di dalamnya.
Mata Zian langsung membulat saat melihat perempuan itu tergeletak dengan posisi miring di bawah guyuran air shower.
Zian langsung mengambil handuk dan mematikan air shower nya.
"Tono! Cepat kau panggil dokter!" Zian kembali berteriak, ia panik melihat perempuan itu pingsan, tubuhnya membiru akibat kelamaan di guyur air shower.
Zian langsung menutupi tubuh perempuan itu dengan handuk kemudian langsung mengangkatnya ala bridal menuju tempat tidur.
Zian langsung menyelimuti tubuh perempuan itu dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
__ADS_1
"Perempuan ini menyusahkan ku saja," gumam Zian dengan hati yang dongkol.
Zian mondar mandir di dalam kamar. Kemudian keluar memanggil bibi Anum.
"Bibi!" Teriak Zian dari atas.
"Iya Tuan, ada apa?" Ujar bibi Anum yang bergegas menaiki anak tangga. Napasnya memburu karena setengah berlari mendatangi panggilan tuannya itu.
"Cepat ganti pakaian perempuan itu," ujar Zian menunjuk kedalam kamar.
"I-iya Tuan," ujar bibi Anum.
Ingin sekali bibi Anum bertanya pada Zian, tapi apalah dayanya, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi majikannya. Ia hanya menjalankan tugasnya.
"Tapi siapa perempuan ini? Dan kenapa dengannya?" Gumam bibi Anum dengan berbagai pertanyaan.
Bibi Anum segera mengambil pakaian perempuan yang ada di lemari. Ia segera mengganti pakaiannya dengan lengkap, mulai dari bra dan pakaian dalam, semua bibi Anum pakaikan.
"Tubuh perempuan ini dingin sekali," gumam bibi Anum menatap iba wajah polos itu. Selesai dengan pekerjaannya, bibi Anum langsung menghampiri majikanya yang menunggunya di luar. Ingin bibi Anum melakukan sesuatu pada perempuan itu agar ia cepat sadar dari pingsannya. Tapi bibi anum tidak ingin majikannya salah paham.
"Tuan, saya sudah mengganti pakaiannya," ujar bibi Anum.
"Silahkan pergi," ujar Zian dingin.
Bibi Anum membungkukkan badanya tanda ia cukup menghormati majikannya.
"Baik Tuan," jawab bibi Anum.
"Kemana mereka lama sekali," gumam Zian mondar mandir menuggu dokter Irwin. Tangannya mengepal di bawah sana.
Tidak begitu lama, terdengar suara telapak sepatu menapaki lantai bawah.
Tap tap tap ....
Zian langsung menoleh kearah anak tangga. Ia menatap tajam kearah dokter Irwin dan juga Tono yang mengiringinya dari belakang.
"Kemana saja kalian! Lama sekali!" Ujar Zian dengan wajah suramnya.
"Sabar bro, tidak ada pesawat yang akan terbang kesini, kami hanya bisa mengendarai mobil," ujar Irwin melirik Zian yang menatapnya dengan tajam. Dokter Irwin tidak takut dengan dengan tatapan Zian.
"Dimana perempuan yang kamu katakan itu?" Tanya Irwin menatap Zian dengan ekspresi menggodanya.
Zian langsung masuk kedalam kamar, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Siapanya kamu perempuan ini bro?" Tanya Irwin seraya mengeluarkan alat medisnya dari dalam tas.
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa saya," ujar Zian tanpa ekspresi.
"Bukan siapa-siapa kamu?" Ujar Irwin melirik Zian kemudian melirik perempuan yang masih tertidur lemah di kasurnya.
"Dia cantik juga," gumam Irwin dalam hatinya.
"Jika dia bukan siapa-siapa, kenapa dia bisa bersama kamu?" Tanya Irwin tanpa ingin melihat ekspresi Zian.
"Saya memanggilmu kesini, memintamu untuk memeriksa keadaannya, bukan menjadi detektif disini," tutur Zian geram dengan dokter Irwin.
"Santai bro, jangan cemas, dia akan baik-baik saja," ujar Irwin seraya menyinari mata perempuan itu dengan alat medisnya.
Irwin mengambil alat stetoskop yang dipasang di telinga untuk mendengar suara dari organ dalam. Irwin segera memeriksa perut perempuan itu.
"Bro, dia hamil?" gumam Irwin menatap Zian.
"Iya, sepertinya dia hamil," ujar Zian tanpa ekspresi.
Dokter Irwin menggaruk tengkuknya. "Dia hamil anak siapa? Apakah dia sudah bersuami atau dia korban pelecehan seksual?" Tanya dokter Irwin.
Zian merasa pertanyaan Irwin adalah tamparan keras baginya. Mukanya memanas seperti terbakar mendengar tuturan Irwin.
"Mana saya tau dia hamil anak siapa. Kamu datang kesini untuk mengobati atau untuk intogasi?" Tanya Zian pada Irwin seraya menatapnya dengan tajam.
"Iya bro, tapi kasihan dia jika hamil tanpa seorang suami, jika kamu berkenan, saya mau menjadi pendampingnya seumur hidup," ujar Irwin menaikkan kedua alisnya.
"Stop Irwin! Bagaimana keadaannya sekarang!" Ujar Zian seraya menggertakkan giginya.
Irwin tersenyum menatap Zian yang lagi berusaha menahan emosinya.
"Keadaannya sangat lemah, perutnya kosong, mungkin dia tidak makan dari kemarin, tapi kamu tenang, saya sudah menyuntiknya, sebentar lagi dia akan siuman, dan jangan lupa untuk memberinya makan," ujar Irwin menyindir Zian.
"Kamu kira saya akan membiarkan anak perempuan orang mati kelaparan, jika pun dia mati, bukan karena tidak saya kasi makan, melainkan meti dengan siksaan ku," ujar Zian kesal.
Irwin langsung menatap Zian. "Sebaiknya kamu bawa dia ke dokter kandungan saja, saya tidak cukup mengerti soal kandungan, jadi saya hanya bisa memberikan obat dan vitamin saja," ujar Irwin khwatir dengan keadaan perempuan itu.
"Baiklah, kalu begitu kamu panggilkan saja dokter kandungan untuk datang kesini, bila perlu yang bisa standby 24 jam untuk menjaganya. Saya akan membayar berapapun biayanya," ujar Zian membuat Irwin penasaran dengan masalah perempuan ini.
"Baiklah, tapi saya perlu bicara padamu," ujar Irwin menatap Zian dalam.
"Bicara saja," ujar Zian santai.
"Tidak di sini, saya takut akan mengganggu istrahat nona ini," ujar Irwan.
"Baiklah, ikut dengan ku," ujar Zian melangkah pergi meninggalkan perempuan yang masih terbaring lemah di kasurnya.
__ADS_1
like, like, like, like, like, wajib like setelah membaca agar author semangat update.