
Di ruang kerja
Zian sudah merasa tenang, satu masalahnya sudah teratasi. Nanti setelah pulang kerja, dia akan menjemput Sheril di apartemen dan membawanya pulang ke rumah.
Bibir Zian melengkung keatas. Memikirkan saat Sheril melihat dirinya di apartemen dengan terkejut.
Tadinya dia berpikir, Sheril akan memeluknya dan merindukannya, ternyata tidak sama sekali.
Di dalam dirinya merindukan perempuan itu, tetapi dia menyembunyikannya. Dengan kejadian itu membuat sifat zian berubah menjadi keras kepala dan egois.
Tok-tok-tok ....
Tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk!"
Suara itu masih terdengar berat dan dingin.
Seorang perempuan berpenampilan seksi masuk dengan ragu-ragu. Sekilas ia melirik Zian yang bersandar di kursi kerjanya.
"Selamat siang pak, ini berkas yang harus di tanda tangani," ucap perempuan itu serta menyodorkan sebuah map, dia melirik Zian dengan wajah yang tertunduk.
Dengan segera Zian mengambil map itu dan membacanya sebentar. Setelah itu ia mengambil pulpen dan terlihat mencoretnya.
Zian menyodorkan map itu kembali tanpa berkata apapun.
Perempuan itu mengambil map itu kembali. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya terasa keluh untuk bicara.
Melihat perempuan itu masih berdiri di depannya, Zian meliriknya dengan mengernyit.
"Kenapa kau masi berdiri di sini? Bukankah tugasmu sudah selesai! Cepat keluar!"
Wanita itu tampak kaget dan cemas.
"Tapi pak ada ...,"
"Ada apa? cepat katakan?"
Wanita yang tidak lain sekretaris itu gelagapan, takut dengan nada bicaranya yang arogan. Entahlah, sikap atasannya ini semakin dingin, hingga membuat mereka takut.
__ADS_1
"Sebenarnya, kita ada rapat penting hari ini pak, apakah babak bisa melakukannya?"
Ucap sekretaris Susi itu dengan waspada, takut Zian menolak dan memarahinya lagi seperti kemarin.
"Baik. urus semuanya!"
Susi mengangkat matanya mendengar ucapan atasannya barusan. Apakah dia tidak salah dengar?
Beberapa minggu ini, sepenting apa pun, pak Zian selalu menolak untuk rapat, dan mengabaikan tentang perusahaan.
Tanpa sadar Susi tersenyum mendengar jawaban Zian, seperti ada hembusan angin segar.
"Baik pak," ucap sekretaris Susi dengan semangat. Ia melangkah keluar meninggalkan ruangan kerja Zian dan menutup pintunya kembali.
Sepertinya pak Zian lebih baik hari ini. Ia tersenyum sendirian serta menghentakkan bokongnya di atas kursi.
Ia tidak sadar, sejak tadi seseorang menatapnya dengan kening yang mengkerut.
Ah ..., "Kau, sejak kapan anda ada di sini? dan kenapa menatapku seperti itu?" Susi menatap laki-laki yang tidak lain adalah Heru, asistennya pak Zian.
"Ya, semenjak keluar dari ruangan pak Zian, kamu terlihat senang sekali, bahkan aku berdiri disini saja kau tidak melihatku. Apakah ada sesuatu?"
Heru menatap Susi dengan curiga.
"Apa-apaan kamu! Aku senang saja, karena pak Zian sepertinya hari ini dalam keadaan baik-baik saja."
"Oh ya, apakah sebelumnya pak Zian tidak baik-baik saja?"
Heru berkata seperti mencari sesuatu yang mencurigakan.
"Anda mencurigai saya?" Susi menatap Heru dengan tidak suka.
"Oh tidak, tidak ..., aku hanya penasaran dengan senyuman kamu barusan."
"Berhenti bicara omong kosong, jika tidak penting silahkan pergi!" Susi mengusir Heru.
"Baiklah."
Heru melangkah pergi dan masuk keruang kerja Zian. Sementara sekretaris Susi sibuk mempersiapkan dokumen untuk rapat nanti.
__ADS_1
......................
Rapat berlangsung selama 4 jam, banyak yang harus di bahas, karena beberapa minggu ini Zian mengabaikan kepentingan perusahaan, hingga pekerjaan sedikit bertambah berat.
Zian juga merasa sangat lelah, karena kelamaan duduk di kursi karena rapat. Tetapi dia tampak sedikit bersemangat Harini, penyampaiannya pun tidak ada yang salah.
Tepat jam liam, rapat selesai. Zian langsung keluar di iringi asistennya Heru di belakang.
"Heru, kau tau setelah ini kita kemana?"
"Baik Tuan, aku tau."
"Bagus."
Mereka melangkah masuk lift menuju lantai bawah, dan meninggalkan kantor.
Lelah sekali ....
Zian menyandarkan tubuhnya di jok mobil serta memejamkan matanya. Sementara Heru mulai melajukan mobilnya.
Tiga puluh lima menit, akhirnya mobil itu terparkir di depan apartemen tujuan mereka.
Zian dan Heru langsung keluar dari mobil.
"Tuan, apakah saya ikut masuk, atau menunggu di sini saja?"
"Tinggu di sini, saya akan masuk."
"Baik."
Zian berjalan melangkah masuk ke pintu lift, ia menekan tombol lift di angka 115. Ya tepat sekali, apartemen Zian berada di ketinggian 115.
Setelah membuka pintu apartemennya Zian langsung mengedarkan pandangannya mencari Sheril. Tapi wanita itu tidak ada, Zian sudah mencarinya di kamar, ke-dapur. Di dapur juga tidak ada tanda-tanda adanya manusia, dapur bersih seperti biasa.
Zian panik. kemudian Zian membuka pintu kamar mandi, tetapi juga kosong. Kemudian mata Zian tertuju di pintu kamar sebelah kiri, yang terhubung dengan balkon. Harapannya tinggal satu, mungkin Sheril ada di luar sana?
Dengan hati-hati dia memutar kenop pintu. Berharap Sheril berada di balkon!
...****************...
__ADS_1
Ayo, mana dukungannya ...!
jangan lupa untuk memberikan vote ya.