Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
108


__ADS_3

Sheril tiba di depan pintu kontrakannya. Dia segera meraba tas kecil yang dia sandang, Dan menemukan kunci di sana. Dengan tidak sabar ia membuka pintu itu, ingin cepat-cepat istrahat dan merebahkan tubuhnya yang letih.


Belum sempat ia memutar kenop pintunya, seseorang membekapnya dari belakang. Sheril ingin meronta, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan, akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Seseorang membopongnya ke dalam mobil, dan membawanya pergi.


......................


Sheril menggeliat, Matanya perlahan-lahan terbuka. Begitu lama ia terlelap hingga larut malam begini ia baru terbangun.


Sheril ingin ke kamar kecil, Saat ingin bangun, ia merasa aneh dengan kamarnya, kasurnya yang empuk, desain kamarnya juga berbeda. Sheril baru tersadar, bahwa ini bukanlah kamarnya. Ia langsung bangkit dan dan berdiri.


Dia kaget. Dan melangkah mundur, mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan.


Beberapa ingatan muncul di kepalanya. Ia baru sadar kalau ia di culik saat mau membuka pintu kontrakan kecilnya.


Kamar siapa ini?


Siapa yang menculiknya?


Ketakutan terlihat jelas di wajahnya, dadanya berdegup kencang.


Untuk apa mereka menculiknya?


Melihat tidak ada tanda-tanda manusia, Sheril berjalan menuju kamar mandi, ia sudah tidak bisa menahan ingin buang air kecil. Cukup lama Sheril berada di kamar mandi, merenungkan kejadian sebelumnya.


Setelah itu, ia pun keluar dan kembali menatap kamar dengan desain yang elegan, Kamar yang lebih besar dari kontrakannya. Sheril melihat ke arah jendela kaca di sebelah kanan, dengan segera ia mendekati jendela itu, dan menyibak tirai yang menutupi kaca jendela itu. Ia memandang keluar dan melihat kebawah.


Ia kaget lagi. Ini cukup tinggi! Berarti ia berada di gedung yang cukup tinggi, ia membulatkan matanya, melihat pemandangan luar, pintu gerbang itu tertutup rapat. Beberapa satpam penjaga terlihat duduk di rumah kecil tempat berjaga. Di depan pagar itu terdapat jalan.


Apakah ia berada di sebuah hotel?


Cukup lama Sheril terpaku. Lalu menoleh kebelakang. pandangannya terhenti di sebuah pintu?


Mungkinkah itu pintu keluar?

__ADS_1


Apakah ia bisa pergi dan keluar dari kamar ini?


Sheril berjalan menghampiri pintu itu, ia terdiam sesaat, kemudian dengan ragu ia memutar kenop pintu.


Tidak terkunci?


Sheril merasa lega, ia bisa keluar dari sini pikirnya.


Saat pintu itu terbuka, ia tercengang! Sepertinya ini ruang tamu?


Ia menyapu sekeliling ruangan Dan .., Ia lebih kaget lagi, setelah mendapatkan sosok Pria yang duduk di sofa. Matanya membulat, bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Jantungnya berdetak kencang, serasa ingin meloncat keluar.


"Kau sudah bangun?"


Suara itu ..., suara yang dingin mengejutkannya. Pria itu sama sekali tidak memandangnya.


"Mas ..," Sheril ingin memeluknya, ada kerinduan yang dalam di matanya, namun niat itu ia hentikan saat melihat wajah Pria itu berubah dingin, bahkan tidak ingin meliriknya sama sekali.


Ada keraguan di hatinya.


Apakah ini benar suaminya?


"Begitu cepat kau melupakan aku, hingga tidak mengenal ku lagi!"


"Mas, Apakah kamu membawaku kesini?"


Sheril berjalan mendekat, ingin memeluk suaminya. Sementara Zian berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.


"Menurut mu?"


Kata-kata itu membuat Sheril berhenti dan menatapnya heran.


Apakah dia marah padaku? Sheril menatap Zian tidak berkedip. Sementara dirinya memalingkan muka, sama sekali enggan untuk melihat wajah Sheril.


"Mas .., maafkan aku. Aku hanya tidak ingin ...,"

__ADS_1


"Tidak ingin patuh apa yang di katakan suami! Semua perempuan membangkang!"


Kata-kata Zian membuat Sheril terdiam. Memang di antara mereka tidak ada masalah, hanya, Sheril berpikir lebih baik dia yang pergi.


"Mas, bukan begitu, aku ...."


"Ya, kau mengambil kesempatan untuk melarikan diri! Kesempatan yang paling tepat! Dasar munafik!"


Terlihat Zian mengepalkan tangannya dengan erat. Mendengar ucapan zian seperti itu, Sheril langsung membeku. Ia mengingat pesan terakhir suaminya, kalau ia jangan kemana-mana sebelum dia kembali, akan tetapi, Sheril pergi tanpa memberi tahu Zian. Pikirannya saat itu sedang kacau, lebih baik dia pergi dari menjadi benalu dalam rumah tangga Zian.


"Kamu tidak tau apa yang aku rasakan, aku seorang wanita yang berperasaan, aku melakukan itu karena ..,"


"Jika kau punya perasaan, tentu saja kau mematuhi apa yang aku ucapkan, tetapi kau menambah masalah dengan cara melarikan diri! Membuang waktuku untuk mencari mu, bahkan mengabaikan pekerjaan ku!" ucap Zian menambahkan. Ia sepertinya tidak ingin mendengar Sheril membela dirinya.


Sheril menundukkan wajahnya, ia merasa bersalah.


"Oh iya, kau sangat terampil dalam mencuci piring! dan kau Sepertinya cocok di jadikan pembantu rumah tangga! Kalau begitu, besok kau ikut dengan ku, kau boleh bekerja di rumah dengan gaji tiga kali lipat. Kebetulan pelayan rumah tangga di rumahku sedang sakit, jadi kau yang akan menggantikannya!"


Sheril langsung mengangkat kepalanya, melebarkan matanya menatap Zian, dia terkejut mendengar kata-kata itu.


Apa yang di katakan Zian?


Bekerja di rumahnya? menggantikan pelayan rumah tangga?


Tidak masuk akal!


"Apa yang kamu katakan, Mas?"


"Aku rasa kamu belum tuli!"


Hati Sheril langsung terhenyak. Kata-kata Zian sangat menyudutkannya.


"Apakah kamu sudah tidak waras, Mas?"


...****************...

__ADS_1


Bagaimana kelanjutannya?


yuk komen agar author update lagi. Jangan lupa like setelah membaca.


__ADS_2