
❤️ VOTE ❤️
Selesai mengerjakan sebagian aktivitas di luar kota. Zian buru-buru pulang, mampir di mini market, dan membeli makanan ringan buat cemilan bumil. Malam nanti dia sudah merencanakan akan makan malam di luar saja, sekalian jalan-jalan menikmati pemandangan malam kota Bandung.
Gerimis melanda perkotaan, Zian segera masuk kedalam mobil setelah selesai belanja. Cuaca tampak mendung. Rintik-rintik hujan mulai membasahi kaca mobil. Zian memandang ke luar kaca jendela mobil, di luar sana hujan semakin deras, petir menyambar bagaikan sengatan listrik yang mengalir begitu cepat.
Di hotel. Sheril begitu khwatir, di luar sana hujan begitu lebat, sekelebat kilat menyambar tirai jendela. Dengan cepat dia menutupnya.
Zian pergi begitu lama, dia merasa takut dan cemas. Guruh menggelegar menggetarkan bumi, seakan mau meruntuhkan isi dunia pana.
Sheril kembali ke tempat tidur, melindungi dirinya dengan selimut tebal, terkadang terkejut mendengar halilintar yang begitu keras.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dengan cepat Sheril bangkit dan membuka pintu.
Terlihat Zian berdiri di depan pintu, tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Sheril merasa terhenyak.
"Mas, untunglah kamu sudah pulang, aku sangat takut."
"Maaf, aku agak lama, tadi terjebak macet."
"Masuklah, aku akan menyiapkan air hangat untuk mu."
Zian melangkahkan masuk, meletakkan kantong plastik di atas meja, duduk sambil melepaskan sepatunya.
"Mas, airnya sudah siap. Mandilah."
Zian berdiri, melonggarkan dasinya, melirik Sheril yang mengambil sepatunya. Kemudian memeluk dan menciumnya sebentar, lalu bergegas ke kamar mandi.
Di luar sana, hujan masih sangat deras. Sheril menatap keluar kaca jendela, memperhatikan sebagian manusia keluar memakai payung, jalanan tampak berkilau dan licin.
__ADS_1
Zian keluar dari kamar mandi dengan celana pendek di atas lutut, matanya langsung tertuju pada Sheril yang berdiri memandang keluar membelakanginya. Bokongnya tampak menonjol, pinggulnya hampir tak berbentuk.
Dia memeluk Sheril dari belakang, Sheril terkejut.
"Mas, kau ...."
Zian tidak memberikan kesempatan Sheril untuk bicara, dia langsung membungkam bibir manis istrinya. Sementara Sheril terbelalak tak berdaya, sesuatu yang menonjol mengenai pinggulnya. Jantungnya berdebar sangat kencang.
Melepaskan bibirnya, Zian menangkup kedua tangannya di pipi Sheril, menatapnya dengan penuh gairah, mencium kening dan pipinya. Sheril memejamkan matanya, tidak tahan melihat tatapan ekspresi suaminya.
"Aku merindukan suasana seperti ini." Suara Zian terdengar lirih.
"Apakah aku boleh melakukannya?"Zian bertanya seolah-olah meminta izin terlebih dahulu.
Sheril merasa risih dengan pertanyaan itu, lalu dengan malu-malu menganggukkan kepalanya.
Zian tersenyum memandang Sheril tak berkedip, tangannya mulai nakal menyusup masuk kedalam mini dress miliknya.
Zian membisikkan sesuatu kata dengan sangat lembut, membuatnya merasa sangat berarti dalam hidupnya.
Berkali-kali Zian memandang wajah istrinya, sambil mengucap kata maaf untuk yang ke sekian kalinya. Suaranya serak, matanya berembun tak terasa.
Sheril mengangguk pelan, Zian begitu memeluknya erat, menggendong dan membawanya ke atas tempat tidur. Mencium perutnya yang buncit, serta membungkuk mencium bibirnya. Jantung Sheril semakin berdebar tak karuan, apa lagi saat Zian menyusuri leher dan menghisapnya sampai berwarna merah. Dia semakin bersemangat hingga tak sabar ingin melintir puncak gunung kembar itu.
Zian melucuti pakaian istrinya. Melirik sekilas ke arah luar, hujan masih mengguyur begitu deras, hingga keadaan seperti ini begitu mendorong gairah kedua pasangan suami-istri tersebut.
Sheril merintih dan mengeluh, merasa sensasi sentuhan yang membuatnya tak berdaya.
Dia sadar, akan hal yang membuatnya malu-malu sendiri. Melihat Sheril menggelinjang, Zian semakin membenamkan lidahnya di area sensitif itu. Dia tidak bisa menahan, mengeluh tak henti.
__ADS_1
Zian langsung naik dan merangkak di atas tubuhnya. Sensasi semakin panas dan liar.
Dia menjerit tak tahan: "Mas ...!" rintihan semakin lirih, tubuhnya menggigil gemetar.
"Lepaskan saja sayang, lepaskan." Bisik zian terdengar sangat lembut. Dia merasa otot-otot area itu menegang dengan sangat kencang mencengkram miliknya.
"Uh .... Ah ..... Mas ....."
Dia menjerit lirih, Zian mencium keningnya, kemudian tersenyum puas melihat istrinya terengah-engah kemudian tak berdaya. Giliran dirinya yang akan meletusnya timah panasnya. Zian langsung memeluk istrinya sambil berucap: "Sayang, oh .... aku .... tak tahan, peluk sayang ...," Sheril langsung memeluknya begitu erat dan: "ah ....." Zian menjerit, mengeraskan rahangnya. Tubuhnya menegang, kemudian tak berdaya menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri dengan memeluknya erat.
.
.
.
Author sudah update lagi ya
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
kalian wahai para pembaca:
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
__ADS_1
komen jika ada kritik dan saran☑️
dan jangan lupa follow akun author