
Sebelum pulang ke villa, Zian terlebih dahulu mampir ke minimarket.
"Turun lah," ujar Zian setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
Sheril turun dan mengikuti langkah Zian masuk kedalam minimarket. Zian mengambil troli tempat belanjaan.
"Belilah apa yang kamu butuhkan," ujar Zian datar sambil mendorong troli yang masih kosong.
Zian mengambil beberapa cemilan ringan, lalu melihat kotak susu khusus ibu hamil.
Zian menoleh Sheril.
"Aku rasa kamu memerlukan ini," ujar Zian mengambil kotak susu rasa vanilla.
"Aku mau rasa coklat saja," ujar Sheril.
"Zian memasukkan semua kotak susu yang rasa coklat yang berjejer di sana.
"Untuk apa sebanyak ini, cukup 2 kotak saja," ujar Sheril sambil menyusun kembali kotak susu yang sudah di letakkan Zian dalam trolinya.
"Kenapa di kembalikan, separuhnya untuk stok," ujar Zian menatap Sheril.
"Ini kebanyakan, cukup dua kotak saja, aku bisa membelinya kalu sudah habis," ujar Sheril. Zian diam saja.
"Apa lagi?" Tanya Zian.
"Aku rasa tidak ada lagi," ucap Sheril.
Setelah itu Sheril melirik pakaian dalam wanita yang berjejer di tepatnya, sebetulnya ia membutuhkan itu, karena pakaian dalamnya hanya beberapa saja. Tapi Sheril tidak enak hati, ia sudah banyak menghabiskan uang suaminya.
"Ambil saja jika kamu membutuhkannya," ucap Zian seolah-olah tau apa yang di pikirkan Sheril.
Wajah Sheril langsung memerah. Bagaimana bisa Zian bisa membaca pikirannya.
"Atau aku yang akan memilihnya?" Tanya Zian membuat wajah Sheril semakin memerah.
"Tidak, aku tidak membutuhkannya," ujar Sheril memalingkan wajahnya dengan pura-pura melihat barang barang lainnya.
"Jangan berbohong, aku tau pikiran kamu, kalau begitu, biar aku saja yang memilihnya," ucap Zian.
"Ah, t .. tidak, biar aku saja, tapi kamu melihat kesana saja," ujar Sheril malu-malu, dengan refleks ia memegang tangan Zian. ia gugup dalam keadaan seperti ini, karena ia tidak terbiasa membeli pakaian dalam dengan seorang laki-laki.
"Kenapa harus malu," tapi Zian sangat senang melihat sikap Sheril yang menggemaskan menurutnya.
"Ayo pergi dari sini," ujar Sheril.
"Bagaimana aku bisa pergi kalu kamu tetap memegang tangan ku seperti ini," ujar Zian datar.
Sheril baru menyadarinya, ia langsung melepaskan tangan Zian dengan perasaan yang tidak menentu. Ia benar-benar malu dengan sikapnya hari ini.
Sheril segera mengambil ukuran pakaian dalamnya, termasuk Bra penutup gunung kembar miliknya.
Sementara Zian tersenyum dalam melihat sikap Sheril yang masih malu-malu.
Setelah membayar tagihannya, Zian langsung membawa kantong belanjaannya ke mobil. Sementara Sheril masih merasa malu dengan sikapnya.
......................
Zian dan Sheril sudah sampai di villa, pak Ben langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu Tuan," ujar pak Ben sambil membungkukkan badan sedikit.
"Turunkan barang-barangnya pak," ujar Zian.
"Baik Tuan," ujar pak Ben yang segera mengeluarkan barang belanjaan majikannya.
Sheril langsung menuju kedalam kamarnya. Ia ingin segera membersihkan dirinya, karena merasa gerah walaupun di mobil dalam keadaan AC. Sheril ingin melepaskan bajunya, tapi Zian tiba-tiba langsung masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Ah ... " pekik Sheril membuat Zian sangat terkejut. Mereka sama-sama terkejut. Zian menatap Sheril dengan penuh arti.
"Kamu kenapa gugup seperti itu," ujar Zian.
"Tidak, a ... aku hanya kaget saja," ujar Sheril terbata-bata, ia memalingkan wajah malunya.
Zian memegang kedua pundak Sheril. Sheril semakin gugup di buatnya.
"Aku ini suami kamu," ujar Zian menatap Sheril dengan seksama.
Sheril langsung memejamkan matanya, ia tidak sanggup melihat Zian sedekat ini menatapnya. Sementara Zian semakin menikmati wajah cantik istrinya, lalu menatap bibir seksi Sheril, Zian menelan saliva nya, ia sudah tidak tahan untuk mematuk bibir berwarna pink itu. Zian segera membungkukkan badannya lalu mengecup bibir Sheril dengan lembut. Sheril langsung membulatkan matanya. Ingin rasanya ia berteriak, tapi bibirnya di bungkam oleh bibir Zian.
"Bibir mu manis sekali," ujar Zian menyeka bibir Sheril yang basah akibat ulahnya sendiri.
"Mandilah, setelah itu aku ingin bicara padamu," ujar Zian langsung pergi meninggalkan Sheril.
Sheril mengatur napasnya yang tidak beraturan. Perasaannya semakin tidak karuan, jantung berdetak kencang.
"Duh kenapa dengan perasaan ku," gumam Sheril sambil memegangi dadanya.
Sementara Zian berlari kebawah, ia segera pergi ke taman belakang, ia ingin berenang di sana. Bayangan wajah Sheril terus saja melintas di ingatannya.
"Ada apa dengan ku, kenapa perasaanku seperti ini, kenapa aku terus mengingat wajahnya," ujar Zian sambil menceburkan tubuhnya kedalam kolam renang. Dari awal Zian melihat Sheril, sebenarnya ia sudah menyukainya, hanya Zian saja yang tidak ingin mengakuinya. Hatinya berkeras untuk tidak jatuh cinta pada orang lain selain istrinya. Tapi fakta berkata lain, sekeras apapun Zian menyembunyikan perasaannya, wajah perempuan itu tetap ada dalam bayang-bayang ingatannya.
"Ah tidak, walaupun bagaimana dia adalah suamiku, ayah dari anak yang aku kandungan," gumam Sheril di bawah guyuran air shower.
Sheril menyudahi ritualnya. Ia segera mengganti pakaiannya. Seperti biasa Sheril mengeringkan rambutnya dengan menggosok gosokkan handuk kecil di kepalanya agar rambutnya cepat mengering.
Ceklek ....
Suara pintu di buka dari luar, Sheril langsung menoleh. Zian pun menatap Sheril tidak berkedip.
"Benar-benar cantik alami," gumam Zian sambil menutup pintu kamarnya.
Deg ....
Dada Sheril langsung bergetar saat Zian menutup pintu, ia tidak berani memandang Zian, sementara Zian semakin mendekat kearahnya.
"Kenapa kamu tidak memakai pakaian yang di beli tadi?" Pertanyaan Zian yang pertama.
"Em ... tidak, aku cukup memakai ini saja," ujar Sheril sambil menyisir rambutnya yang masih basah.
"Cepat ganti bajumu," titah Zian.
Sheril segera mengambil baju yang masih di dalam paper bag. Ia berjalan menuju bathroom, tapi Zian menahannya.
"Kenapa tidak mengganti baju di sini saja," Zian mencoba menggoda Sheril.
wajah Sheril langsung memerah.
"Aku tidak mau," ujar Sheril langsung berlari ke bathroom dan mengunci pintunya dari dalam, jantung Sheril seperti hendak runtuh.
__ADS_1
Sementara Zian tersenyum, ia berhasil menggoda Sheril.
Zian merebahkan tubuhnya sambil memegangi ponselnya, menggeser geser layar ponselnya melihat sesuatu di dalam sana.
Sementara Sheril sudah selesai mengganti bajunya. Ia menatap dirinya dari dalam cermin yang ada di bathroom. Dadanya semakin berdegup kencang saat ingin keluar, Sheril ragu-ragu memutar kenop pintu. Beberapa kali saja ia mengurungkannya.
Untuk kesekian kalinya sheril memberanikan dirinya memutar kenop pintu.
Zian langsung menoleh saat pintu bathroom terkuak.
"Kenapa dia cantik sekali memakai pakaian itu? Apa dia sengaja ingin menggodaku," pikir Zian sambil menatap Sheril tanpa berkedip. Padahal Zian sendiri yang memintanya untuk mengganti bajunya.
"Hei ... kenapa kamu menatapku seperti itu, jangan bilang kalau kamu tergoda dengan ku," ujar Sheril menyadarkan lamunan Zian.
Zian langsung memalingkan wajahnya.
"Sial," gumam Zian, Ia sagat malu dengan apa yang di ucapkan Sheril barusan. Tapi Zian sangatlah pintar, ia langsung menutupi perasaannya.
"Kamu ada-ada saja, mana mungkin aku tergoda dengan mu, kamu bukanlah wanita tipe ku," ujar Zian menatap wajah Sheril, ia bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
Waja Sheril langsung berubah. Entah mengapa hatinya sakit mendengar ucapan Zian.
"Duduk sini, aku ingin bicara dengan mu," ujar Zian sambil menepuk-nepuk kasur agar Sheril mengerti maksudnya.
Sheril duduk di samping Zian dengan menundukkan kepalanya.
"Besok kamu mau pulang, kan?" Tanya Zian.
"Aku tidak bisa mengekang kamu di sini jika kamu tidak merasa nyaman, pulanglah besok, aku tidak bisa mengantarmu," ujar Zian sambil merogoh saku celananya mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu, juga uang kes yang ada didalam dompetnya. Zian memberikan uang dan kartu atm itu.
"Pakailah ini jika kamu ada keperluan, ini untuk ongkos kamu, besok simba akan mengantarmu ke bandara," ujar Zian datar.
"Simpan saja, aku punya uang," ujar Sheril.
Zian langsung menatap Sheril yang menundukkan wajahnya.
"Aku tidak suka kau menolaknya, jika benar anak yang ada dalam kandungan mu itu adalah anakku, maka gunakanlah ini untuknya," ujar Zian membuat Sheril langsung berkaca-kaca.
"Kamu tidak percaya kalu ini anak mu? Baiklah, tidak apa-apa jika kamu meragukannya, aku juga tidak bisa memaksa kamu untuk mengakuinya," ujar Sheril beranjak dari tempat duduknya.
Zian langsung menahan tangan Sheril. "Bukan itu maksudku, aku tidak ingin anakku menderita, jadi terimalah apa yang sudah aku berikan," Zian berdiri menatap Sheril.
"Aku akan pergi sekarang, hati-hati di jalan besok," ujar Zian sambil mendekati Sheril, dan mengelus perut Sheril yang sudah tampak menonjol. Sheril tidak menolak sedikitpun, ia terpaku menatap Zian mencium perutnya.
"Jagalah Mama kamu sayang," batin Zian sambil menitikkan air matanya. Zian cepat-cepat menyeka air matanya, ia tidak ingin Sheril mengetahuinya.
"Jaga anakku," ucap Zian dengan bibir bergetar, lalu dengan refleks Zian mencium kening Sheril. Kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Sheril terpaku dengan apa yang ia lihat, perasaannya sudah tidak karuan. Ia juga merasa sedih dan sakit.
Sheril mengingat apa yang di ucapkan Zian barusan. Ia juga mengingat kalau Zian tidak menyukainya, dia bukanlah tipe wanitanya, itulah yang Sheril ingat selalu, tapi kenapa sikapnya seperti itu? Sheril merenungkan sikap Zian terhadapnya.
"Ah, mungkin karena anaknya, makanya ia bersikap seperti itu, tapi ... " Sheril menghentikan pikirannya.
"Sudahlah Sheril, tidak usah kau pikirkan," batin Sheril melawan perasaannya.
wajib vote dan like setelah membaca.
jangan lupa dukung mulai dari sekarang, agar dukungan anda beruntung. siapa tau anda beruntung di akhir cerita.
__ADS_1
yuk komen.