Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
119


__ADS_3

Di rumah


Sheril ikut bermain dengan Aura, tertawa dan bercanda. Ia merasa senang dan tidak merasa kesepian lagi, meski di hatinya mengganjal beberapa pertanyaan.


Serena yang tidak ingin banyak bertanya, dia cukup memperhatikan dari jauh.


Meski baru bertemu dan mengenal Sheril, Aura sudah begitu dekat dan akrab.


"Sus, ajakla Aura mandi, sudah terlalu sore untuknya masih bermain, sebentar lagi papanya akan pulang."


Ucapan Serena membuat hati Sheril sedikit terhenyak. Namun ia menyadari kalu benar apa yang di katakan mamanya Zian, seharusnya Aura memang sudah mandi. Karena keasikannya bermain, hingga Sheril lupa.


"Ya, Aura mandi dulu ya, nanti main lagi, oke."


Gadis itu mengangguk. Baby sister langsung menggendong Aura lalu pergi menuju lantai atas. Sheril menatap kepergian mereka dengan sekilas, lalu beranjak pergi ke dalam kamarnya.


...----------------...


Sementara itu, suara mesin mobil Zian sudah terparkir di halaman, itu tandanya dia sudah pulang.


Zian membuka pintu mobilnya dan keluar di susul Reza di belakangnya.


Tampak Reza mengedarkan pandangannya.


"Wah kak, aku sudah lama sekali tidak pulang, sedikit ada perubahan di rumah ini!" Reza berucap dengan antusias, sambil melirik garasi yang semakin lebar dan besar, di sana terlihat ada beberapa mobil mewah yang berjejer rapi.


"Kak, kau sangat kaya sekarang, berati kau sukses mengelola perusahaan. Bolehkah aku memakai salah satunya?"


Zian melirik reza.


"Boleh, asal tidak kau salah gunakan."


"Hem."


Reza menghela napasnya, lalu melangkah masuk mengikuti Zian yang sudah mendahuluinya.


"Mama ...," Reza menatap Serena yang baru saja hendak turun, bibirnya tersenyum.


"Reza. Kau sudah datang? Kenapa tidak memberi tahu Mama kalu kau akan sampai hari ini ? Dan kenapa bersama Zian? Apakah putra sulung ku menjemput mu?"

__ADS_1


Pertanyaan Serena begitu banyak, hingga membuat Reza mendengus kesal.


"Pertanyaan Mama banyak sekali, aku bingung mau menjawabnya." Reza melipat tangannya di dada. Serena tersenyum.


"Baiklah, kenapa kau tidak memberi tahu kami?"


"Reza sengaja melakukannya, Ma, ingin kasi surprais pada kalian," Zian tersenyum mengejek.


"Surprise apaan? Tadi dia menggangu ku yang lagi bekerja, Ma. Lalu menggoda wanita yang ada di sana."


Zian sengaja mengucapkan itu, agar Serena memarahi adiknya.


Sementara Reza membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang di sampaikan kakaknya.


"Kau sengaja berbohong agar aku di marahi Mama," Reza tampak kesal.


"Untuk apa aku berbohong."


"Reza, apa yang kamu lakukan? Benarkah begitu?"


"Tidak seperti itu, Ma. Ya memang tadinya aku hanya melihat mereka saja, masa orang punya mata tidak boleh melihat."


"Lalu kenapa kau langsung ke kantor Zian?"


"Aku hanya ingin bertemu dengan kakak terlebih dahulu, karena sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi aku merindukan dia."


Zian tersenyum mengejek.


"Alasan. Alasan agar dia minta traktir di restoran termahal."


Serena tersenyum melirik kedua putranya itu. "Zian segeralah mandi." titah mamanya.


Zian segera keatas.


Kemudian Serena memeluk putranya itu.


"Kau juga, mandilah dan istrahat, kau pasti capek."


"Baiklah, Ma."

__ADS_1


Reza segera menyusul kakaknya ke atas, tentu saja masuk ke dalam kamar yang berbeda.


Sementara Serena menuju dapur, melihat apa yang ada di sana. Serena menatap masakan itu, dia memasak apa? Sambil membuka panci yang masih di atas kompor. Sheril keluar, dan matanya langsung tertuju pada Serena yang membuka tutup panci.


Kemudian, nyonya membuka kulkas dan mengeluarkan bahan dan rempah-rempah, serta mengambil beberapa macam seafood. Ia akan memasak makanan kesukaan putranya.


Sheril mendekat dan bertanya: "Nyonya mau memasak apa? Bolehkah aku membantu?" Sheril berkata dengan sedikit ragu-ragu, takut wanita tua itu menolak dan marah.


Serena menoleh dan menatap Sheril. "Boleh, kau bisa membersihkan ini." Seraya menyodorkan wadah seafood, Serena berucap dengan datar. Sheril tersenyum dan langsung mengangkat seafood yang sudah di keluarkan Serena dari dalam kulkas. Dia senang bisa membantu wanita ini di dapur.


Walupun dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa memasak lagi dan ini lebih banyak? Dia kan sudah masak dan belum di sentuh sedikit pun.


Namun Sheril tidak ma menanyakan itu, dengan membantunya di dapur, Sheril cukup senang.


Sheril sudah selesai membersihkan seafood.


"Nyonya, apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


pertanyaan Sheril membuat perempuan itu menatapnya. Apakah dia tidak lelah bekerja di dapur? tadi juga sudah di dapur. pikir Serena dalam benaknya.


"Apakah kau memang hobby di dapur?"


Sheril tersenyum malu-malu.


"Hobby sih tidak nyonya, hanya memang sudah terbiasa di dapur, dari kecil sudah sering membantu nenek masak."


Nenek? kenapa bukan ibunya?


"Oh. baiklah, kau bisa menghaluskan bumbu ini."


"Baik." Sheril langsung menghaluskan bumbu-bumbu itu. Di dalam hatinya sangat senang, setidaknya banyak berbicara dengan mamanya Zian.


Mereka berdua tampak serius memasak di dapur. Diam-diam Zian memperhatikan itu dengan takjub, ia tidak menyangka Sheril dan Mama akan memasak berdua. Dan ini membuat bibir Zian melengkung, tersenyum dengan seribu bahasa.


Berikan bintang lima di penilaian ya, pendukung setia ku


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Yuk follow akun author ya, tap love agar mendapatkan notifikasi update terbarunya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2