Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
116


__ADS_3

Setelah menghidangkan makan malam, Sheril melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, dengan hati yang berdebar-debar.


Terlihat di sana ada Zian, mertua dan juga gadis kecil yang sedang bermain-main. Tetapi tidak terlihat istrinya Zian, ini sangat aneh, mungkin saja masih di kamarnya.


"Mas, nyonya, makan malam sudah siap." Sheril menundukkan wajahnya, kemudian beranjak pergi. Apa pun itu, walaupun terkadang makanan yang Sheril masak kadang di makan terkadang tidak, tetapi Sheril tetap menyiapkannya. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Sheril, Zian menyusulnya kebelakang.


"Aku ingin bicara padamu!" Zian menarik tangan Sheril menuju kamarnya.


"Mas, apaan sih kamu!" Sheril memasang wajah kesalnya seraya memegang pergelangan tangannya.


"Mulai malam ini, kau tidur di kamar atas." Ucap Zian datar.


Tidur di kamar atas?


"Apa ...? 'sheril tersenyum kecut' Tidak, aku tidak mau mas. Aku sudah nyaman tidur di sini."


Zian terlihat gusar.


"Baiklah kalau kamu tidak mau, berarti selamanya kau akan tidur di kamar pembantu ini."


Sheril memicingkan matanya lalu tersenyum kecut. "Bukankah seorang pembantu memang tidurnya disini."


Zian semakin kesal dengan jawaban Sheril.


"Tidak berguna aku bicara sama kamu!" Zian keluar dan membanting pintu. Sheril yang ada didalamnya memejamkan mata, menahan dan berusaha kuat, akan tetapi, air matanya tidak dapat di bendung, seketika mengalir begitu saja.


Tiga hari Sheril berada di rumah yang seperti kulkas, dingin dan beku. Tidak pernah ada tawa atau pun candaan, Sheril juga tidak pernah melihat istrinya Zian keluar. Mungkin saja memang tidak bertemu saat istrinya keluar, atau mungkin ia sibuk kerja hingga jarang terlihat.


"Nona, hari ini saya akan mengantarmu untuk memeriksa kandungan mu, bersiaplah," Supir pribadi Zian memberitahu. Namun Sheril menolaknya.


"Tidak perlu pak, saya tidak akan periksa, kandungan ku pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Baiklah Non."


pak supir itu langsung pergi, Sheril tidak begitu hapal dengan nama orang-orang yang ada di rumah ini.


Satu jam kemudian, Zian pulang dengan wajah yang muram, mencari keberadaan Sheril yang saat ini sedang ada di kamarnya.


Zian membuka kamar Sheril dengan kasar, hingga pintu itu terbuka lebar. Sheril mengernyit memandang Zian.


Tampak Zian menghela nafas.


"Kenapa kau tidak mau memeriksa kandungan mu!" Ucap Zian pelan namun kata-kata sangat menekankan.


"Kandungan ku tidak kenapa-napa, untuk apa aku memeriksanya," ucap Sheril dengan datar.


"Cobalah untuk mengerti, kalau terjadi apa-apa dengan mu bagaimana?" Zian tampak khwatir meski marah dan emosi.


Sheril melirik Zian, lalu menghembuskan napas kasarnya.


"Baiklah, aku mau mengganti pakaian ku terlebih dahulu." Ucap Sheril menyembunyikan kekesalannya.


Melihat Sheril belum juga mengganti bajunya Zian mengangkat matanya.


"Kenapa kau masih belum mengganti pakaian mu?"


"Kamu masih disini, bagaimana aku bisa mengganti pakaian ku!"


"Lalu kenapa kalu aku ada disini? Bukankah aku ini suami mu?"


"B .., bukan maksud ku, kamu bisa menunggu ku di luar."


"Ok, terserah kamu."

__ADS_1


Zian pergi meninggalkan kamar Sheril. Benar-benar keterlaluan dia! Emang kenapa kalau aku melihatnya? bukankah aku sering melihatnya? Selama ini juga seperti itu. Zian kembali murung dan menekuk wajahnya.


Tidak begitu lama Sheril keluar dari samping, Zian mengerutkan keningnya, menatap Sheril dengan aneh.


Zian mengemudikan mobilnya, mengantar Sheril ke dokter spesialis kandungan, menemaninya seperti biasa. Sheril merasa canggung, sikap Zian kadang-kadang peduli, dan terkadang juga kasar. Jadi Sheril tidak bisa menebak hati Pria di sampingnya ini seperti apa? yang tidak lain adalah suaminya sendiri.


Hari ini dia mengantarku, Sheril merasa senang, namun perasaan itu ia tutup rapat-rapat, tidak ingin Zian tau, kalu hari ini dia cukup baik dan sedikit senang.


Tidak begitu lama, nama Sheril di panggil. Sheril berdiri dan melangkahkan menuju ruangan dokter kandungan. Zian juga ikut di belakangnya mengiringi langkah Sheril.


Zian memperhatikan komputer, bibirnya tersenyum mendengar penjelasan dokter bahwa kedua bayinya berkembang sehat. Refleks Zian menggenggam tangan Sheri dengan erat, dan tersenyum berbinar. Sudah lama Sheril tidak melihat senyuman ini.


Zian menatap Sheril dengan mata yang berbinar. "Kedua bayi kita sehat." Ucapannya memandang Sheril. Sementara Sheril hanya diam memperhatikan sikap Zian.


Zian sadar dengan perlakuannya. "Maafkan sikap ku," Zian berkata maaf setelah mereka meninggalkan rumah sakit.


Sheril hanya menghela nafas. Tidak menjawab apa yang di ucapkan Zian.


Sheril memegangi kepalanya yang terasa pusing setelah mencium aroma rumah sakit. Melihat Sheril seperti itu, Zian tidak mengucapkan apa-apa lagi, sampai mereka tiba di Mansion nya. Sheril segera turun dari mobil, begitu pula dengan Zian. Setibanya di depan pintu, mereka mendengar tangisan seorang anak kecil. Sheril seperti ragu untuk melangkah, tetapi Zian langsung memegang tangan Sheri dan membawanya masuk.


"Ada apa? Kenapa dia menangis?"


"Ngk tau Tuan, tadi Nona kecil tidak mau makan, dia melempar makanan."


Zian langsung menggendong bocah itu. Sheril tampak tegang. Zian mencoba untuk menenangkan putrinya, tetapi Gadis kecil itu tetap saja menangis. Melihatnya, Sheril jadi bingung.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sekian untuk hari ini.


terimakasih pendukung yang mensupport author untuk tetap update, yakinlah, tanpa dukungan kalian, karya author tidak akan berkembang seperti sekarang ini. terimakasih. jangan lelah untuk tetap mendukung setiap update terbaru author ya.

__ADS_1


untuk kalian, mohon berikan bintang lima di penilaian ya.🙏🙏🙏


...****************...


__ADS_2