Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Menunda keinginan istri


__ADS_3

Pulang dari klinik. Zian mengajak Sheril mampir di toko baju, walaupun pikirannya masih tertuju pada bayinya, namun Zian masih memperhatikan pakaian Sheril, agar Sheril berasa nyaman menurutnya. Mereka langsung di sambut dengan ramah oleh pemilik toko.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan, cari apa?" Tanyanya dengan ramah.


"Carikan baju yang besar untuk istriku," ujar Zian datar.


"Baik tuan," ujar perempuan itu.


Sheril langsung menatap Zian, ia tidak mengerti baju besar seperti apa yang Zian maksud.


"Aku sendiri yang akan memilihnya," ujar Sheril melirik Zian.


"Ingat jangan mengambil baju yang ketat, pilihlah yang sedikit longgar," ujar Zian.


"Iya, baiklah," ujar Sheril seraya melangkah meninggalkan Zian. Sekarang Sheril baru paham, kenapa Zian rewel dengan baju yang ia kenakan pagi tadi, hingga Sheril beberapa kali saja mengganti bajunya demi kemauan Zian. Taunya Zian tidak ingin Sheril menampakkan lekuk tubuhnya di tempat umum


Sheril sedang memilih milih pakaian, tiba-tiba Zian datang menghampirinya, ia pun mengambil beberapa potong gaun yang cukup longgar menurutnya.


"Mas rasa, ini juga pas untuk mu, ambil saja," ujar Zian.


Sheril langsung mengambil baju itu dari tangan Zian.


"Mbak, bajunya yang ini ya," ujar Sheril memberikan beberapa potong pakaian pada pelayan itu.

__ADS_1


Kemudian mereka langsung pergi menuju kasir untuk melakukan pembayaran tagihan.


Zian memberikan kode pada pelayan itu secara berbisik bisik. Sheril tidak mengerti apa yang di katakan Zian pada pelayan itu, ia sebetulnya ingin tau, tapi sepertinya Zian tidak ingin Sheril tau, hingga Sheril pun mengurungkan niatnya menghampiri Zian di meja kasir.


Pelayan itu nampak berjalan kearah kanan, dimana tempat mereka memilih baju barusan. Tidak begitu lama, pelayan itu kembali dengan membawa beberapa potong pakaian lagi, yaitu pakaian lingerie. Sementara Sheril tidak mengerti itu pakaian seperti apa.


Setelah membayar tagihannya, mereka segera kembali ke mobil. Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas, aku mau makan di sana," rengek Sheril dengan suara khasnya seraya menunjuk di ujung jalanan itu.


"Aduh sayang, bukannya Mas tidak mau, tapi Mas sudah telat nih," ujar Zian melirik jam tangan mahalnya yang bertengger di tangan kirinya.


"Bagaimana kalau nanti malam saja, mas janji akan mengajak mu makan apa pun yang kamu mau," ujar Zian melirik istrinya, kemudian ia kembali pokus menatap jalanan.


"Iya sayang, Mas janji, maaf bukannya Mas mau menunda keinginan kamu sayang, tapi waktunya tidak cukup," ujar Zian seraya mengacak rambut Sheril dengan gemas.


"Tidak apa-apa, Mas, terimakasih untuk nanti malam," ujar Sheril terlihat senang, Zian pun terkekeh mendengar ucapan Sheril seperti itu.


"Belum saja malam, kamu sudah berterimakasih," ujar Zian melirik Sheril seraya tersenyum manis. Ia sangat senang melihat Sheril sebahagia ini, tampak dari wajahnya kalu ia benar-benar bahagia.


Sheril pun menatap Zian dengan pikirannya.


"Ya ampun, ternyata suamiku setampan dan semanis ini," gumam Sheril dalam hatinya.

__ADS_1


"Tadi malam Mas membawakan banyak makanan untuk mu, mungkin kamu tidak tau, susun aja di kulkas," ujar Zian.


"Iya, aku sudah melihatnya, tapi aku belum sempat membukanya," ujar Sheril.


Zian memarkirkan mobilnya di depan villa, ia segera turun, dan membuka pintu belakang sambil mengeluarkan barang belanjaannya tadi.


"Pak ben, bawa ini ke atas!" Ujar Zian.


"Mas, aku bisa membawanya sendiri," ujar Sheril.


"Kamu tidak boleh terlalu banyak bekerja sayang, kamu ingat apa yang di katakan dokter tadi," ujar Zian mengingatkan.


"Tapi ini tidak berat Mas," ujar Sheril lagi.


"Diam dan masuk, saya langsung pergi kerja, sekarang sudah telat," ujar Zian dengan suhu yang dingin. Sheril tampak tidak berkutik, ia tidak berani lagi menyangkal ucapan Zian.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya mas," Sheril mengambil tangan Zian dan mencium punggung tangannya. Ia tidak mengerti dengan sikap Zian seperti ini, terkadang ia bersikap halus dan lembut, terkadang ia juga bersikap dingin seperti kulkas. Entahlah, sikap Zian tidak bisa di tebak.


Sementara pak Ben tergopoh-gopoh menghampiri mobil Zian dan mengambil barang belanjaannya membawanya ke atas.


Zian pun langsung meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak berapa lama, ia pun sampai di proyek terbarunya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Nantikan kelanjutan berikutnya ya, jangan lupa klik ❤️ aga kalian langsung mendapatkan notifikasi update terbaru author, dan follow author juga ya, terimakasih.


__ADS_2