
Setelah dua hari Zian tidak pulang ke rumah, Ririn berniat akan menemui suaminya di kantor. Ririn sengaja berdandan cantik, agar suaminya kembali menata harinya, dengan begitu, dengan mudahnya Zian akan menuruti kemauan Ririn, pikirnya.
Saat ini Aura bersama Serena, gadis kecil itu dengan riang bermain dengan Omanya.
"Ma, aku mau ajak Aura keluar sebentar," pamit Ririn tiba-tiba berbicara pada Serena, setelah dua hari mereka tidak saling menyapa.
"Mau kemana kamu membawa Aura?" Tanya Serena tanpa melirik Ririn sedikitpun.
"Em, aku mau ajak Aura ke mall, sudah lama aku tidak mengajaknya bermain," ujar Ririn dengan alasan seperti itu, agar Serena tidak mencurigainya kalau ia akan menemui Zian di kantor.
"Terserah kamu, tapi awas ya kalau Aura kenapa-napa," ancam Serena.
Serena sangat menyayangi cucunya, walaupun ia tidak menyukai ibunya, tapi Serena tidak melarang Ririn mengajak Aura hanya sekedar bermain.
Ririn diam saja mendengar ucapan mertuanya itu. Dalam hatinya berkata, "yang melahirkan aku, ngapain ngancam aku segala."
Ririn menggendong Aura. Sementara Aura tampak senang, ia terkekeh geli sambil menggoyang-goyangkan kakinya dalam gendongan Ririn.
"Dah Oma," ucap Aura dengan suara balitanya.
"Dah, cucu Oma jangan nakal ya, jangan lama-lama ninggalin Oma," ucap Serena menirukan suara khas Aura.
Aura langsung menganggukkan kepalanya.
Tanda ia mengerti ucapan Serena.
"Udah yuk, kita pergi sekarang," ucap Ririn bicara pada Aura.
Mereka pun pergi di antar supir.
"Pak ke-kantor Zian dulu," ucap Ririn yang kini memangku Aura.
"Loh bukannya kita mau ke mall Bu?" Tanya supir yang yang bernama Yanto yang kerap di panggil pak Yan.
"Habis dari kantor baru ke Mall," ujar Ririn.
"Baik bu, kalo boleh tau, mau apa ya ibu ke-kantor nya Tuan?" Ujar pak Yan. Ia takut Zian akan memarahinya jika tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Ririn menatap pak Yan tidak suka.
"Kenapa bapak ingin sekali tau urusan saya, saya ini istrinya, emang kenapa kalau saya kesana?" Ujar Ririn dengan kesal.
"Bukan begitu bu, saya takut Tuan akan marah jika tidak memberitahu Tuan terlebih dahulu," ucap pak Yan ketakutan.
"Ini urusan saya pak, bapak tidak perlu banyak bicara," ujar Ririn menegaskan.
"Baik bu," ujar pak Yan, ia tidak berani menatap Ririn dari kaca spion.
Setelah sampai di depan kator, Ririn segera turun dengan menggendong putrinya Aura. Ia segera menuju ruang kerja Zian. Tidak ada yang berani melarangnya.
__ADS_1
"Pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah seorang perempuan cantik yang berada di samping ruang kerja Zian.
Ririn hanya tersenyum kecut menanggapi sapaan perempuan itu, sambil melajukan langkahnya menuju pintu ruang kerja Zian.
"Sombong sekali," desis perempuan itu yang tidak lain sekretaris Zian, namun terdengar jelas oleh Ririn. Ririn menghentikan langkahnya lalu menoleh perempuan itu dengan geram.
"Apa kamu bilang," ucap Ririn menatap tajam perempuan itu.
"Tidak, saya tidak mengatakan apa-apa," ucap sekretaris Zian.
Ririn mendekati perempuan itu.
"Kamu kira saya tuli ha!" Bentak Ririn dengan menatap perempuan itu seakan ingin membunuh.
"Apa alasan saya harus peduli sama kamu?" Ujar Ririn.
"Maaf saya,"
Kalimat perempuan itu terpotong saat suara pintu ruang kerja Zian terbuka dari dalam.
"Ada apa ribut-ribut di sini?" Ucap Zian dingin.
"Ini pak, saya,"
"Ini loh sayang, sekretaris kamu menghalangi saya untuk masuk," ucap Ririn berbohong, ia sengaja mengatakan seperti itu, agar Zian memarahi perempuan itu, ia tidak suka dengan sekretaris Zian.
"Ririn, Aura," Zian langsung menggendong Aura.
"Kenapa kamu berbohong, saya tidak menghalangi kamu masuk," ujar perempuan itu.
"Saya tidak pernah berbohong, yang saya katakan benar," ucap Ririn menatap sekretaris Zian dengan sinis.
"Sudah-sudah! Diam kamu!" Zian membentak Ririn, kemudian juga menatap sekretarisnya.
"Kamu juga, pagi-pagi ribut di sini! Selesaikan tugas kamu! dan kamu, ikut aku," ujar Zian memutar handel pintu ruangan kerjanya.
"Zian, kenapa kamu membentak ku, kenapa kamu tidak menyalahkan sekretaris kamu itu?" Ujar Ririn setelah berada di ruangan kerja Zian.
Zian menarik napas panjangnya.
"Sayang, kamu duduk disini ya, nih coklat kesukaan kamu," Zian membuka bungkus coklat itu dan memberikannya pada Aura.
"Kalua kamu datang kesini hanya ingin membuat keonaran di sini, lebih baik kamu pulang sekarang," ucap Zian menghampiri Ririn dengan tatapan tajamnya.
"Apa?" Ririn menatap Zian tidak percaya.
"Kenapa kamu malah mengusirku, aku ini istri kamu Zian, apa kamu lupa?" Ujar Ririn masih dengan kekesalannya.
"Aku tidak pernah lupa itu, tapi ini kantor, mau siapapun dia, jika membuat keributan di sini, aku tidak akan segan-segan mengusirnya," ucap Zian.
__ADS_1
"Termasuk aku gitu?" Ujar Ririn menunjuk dirinya.
"Iya, termasuk kamu," ucap Zian.
Ririn menghembuskan napas kasarnya. "Kamu memang sudah berubah Zian, kamu sudah tidak seperti dulu lagi, dulu hampir setiap hari aku datang kesini, dan kamu tidak pernah menolak ku, tapi sekarang kamu berani mengusir istri kamu sendiri," lirih Ririn.
"Kamu benar, aku memang sudah berubah aku tau itu, dan apakah kamu tau kenapa? Apa kamu tidak menyadarinya?" Ujar zian datar.
"Kenapa?" Tanya Ririn.
Zian tersenyum kecut.
"Kamu benar-benar tidak sadar, asal kamu tau, kamulah yang merubah keadaannya, sikap kamu sendiri," ujar Zian tanpa ekspresi. Ririn menundukkan wajahnya.
"Aku minta maaf, aku kesini sengaja ingin bicara baik-baik padamu, aku ingin merubah segalanya, dan aku ingin kita memulainya dari awal lagi," Ririn memegang kedua tangan Zian.
"Zian, aku juga tidak ingin berdiam diri saja di rumah, aku mau agar aku ada kesibukan," ujar Ririn yang tidak di mengerti oleh Zian apa maksudnya.
"Bukankah kamu sudah kebiasaan sibuk dengan teman-teman sosialita kamu itu," ucap Zian.
"Itu masalahnya Zian, agar aku bisa menghindari mereka, setidaknya mereka tidak akan memaksaku menemui mereka kalau aku punya kerjaan," ujar Ririn.
"Memangnya kamu mau kerja apa?" Ujar Zian melunak.
"Hem, entahlah aku belum tau, tapi aku berpikir ada baiknya aku membantu Mama mengurus butiknya itu, Mama kan bisa sekali-kali untuk mengecek butiknya, secara tidak Mama juga bisa istrahat di masa tuanya," ujar Ririn mempengaruhi Zian.
Zian terdiam mendengar ucapan istrinya. Ucapan Ririn ada benarnya, apa lagi akhir-akhir ini Mama sering ngeluh kecapekan.
"Apakah Ririn bisa di percaya? Tidak, mama tidak akan pernah mempercayai Ririn," pikir Zian, suaminya saja tidak yakin, apa lagi Serena.
"Tidak, Mama tidak akan mungkin mau, jika kamu memang ingin bekerja, nanti pikirkan lagi," ujar Zian. Menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Zian, aku benar-benar minta maaf atas sikap ku selama ini, aku benar-benar ingin memperbaiki segalanya," ujar Ririn menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, soal itu terserah kamu, aku hanya kasihan sama Aura, dia tidak tau apa-apa," ucap Zian.
"Zian," Ririn kembali memegang kedua tangan Zian.
"Zian, bagaimana jika kita membeli satu buah rumah lagi, agar aku juga bisa belajar hidup mandiri, dan kamu jangan khwatir, kita bisa sekali-kali pulang kerumah utama," ucap Riri membuat Zian menatapnya dalam.
Zian segera menarik tangannya. "Tidak, untuk apa membeli rumah lagi? Rumah di pinggir kota ada, apartemen ada, rumah utama juga ngk ada yang tempati, hanya Mama, ngk mungkin kita ninggalin Mama sendirian meski ada pelayan di rumah, apa maksud kamu," ucap Zian menatap Ririn penuh tanda tanya.
"Tidak, bukan begitu maksudnya, aku hanya mau belajar mandiri, memasak sendiri, membersihkan rumah sendiri, aku ingin belajar itu," ujar Ririn.
"Tidak Ririn, kalau kamu memang benar-benar ingin mandiri, kamu bisa kok melakukannya di rumah," Zian menatap Ririn yang kini menundukkan wajahnya.
"Soal kamu, ingin bekerja, nanti kita pikirkan, yang penting tidak menggangu usaha Mama," imbuh Zian lagi, entah mengapa Zian merasa ada siasat buruk dari keinginan Ririn.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
follow akun author ya. silahkan tinggalkan jejak dan komentar positif nya, agar author update lagi.