
Zian membopong Sheril ke UGD. Para perawat segera memberi pertolongan. Zian tidak di izinkan untuk masuk, dia hanya menunggu di depan pintu UGD. Dengan tidak sabar ia menunggu perawat keluar, dan memberitahu keadaan Sheril.
Dia tampak tidak tenang, kadang-kadang duduk kadang-kadang berdiri, dia benar-benar cemas dan khwatir.
Perasaan bersalahnya begitu besar, dia menyadari betapa egoisnya dirinya. Zian mencengkeram rambutnya begitu kasar.
Tiba-tiba ruang UGD di buka, dan perawat langsung keluar. Zian langsung berdiri dan menghampiri perawat tersebut.
"Keluarga pasien yang bernama Sheril Khairunnisa?"
"Ya, saya sendiri sus, bagaimana keadaan istri saya?"
"Bapak suaminya?"
"Ya."
"Baiklah, pasien akan kami pindahan ke ruang rawat, mohon bapak segera mengurus administrasinya."
"Baik."
Setelah selesai mengurus administrasi. Sheril langsung di pindahkan ke ruang VVIP.
Zian segera masuk ke ruangan rawat Sheril. Terlihat Sheril masih belum membuka matanya.
"Dokter, bagaimana keadaannya? kenapa dia belum juga sadar?"
Dokter itu tersenyum.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi dia siuman. Hanya perlu banyak istrahat, karena dia sedang hamil. Tidak boleh banyak pikiran, Sepertinya dia sangat lelah."
Setelah bicara. Dokter itu pergi.
Zian menatap Sheril yang sedang berbaring. Memegang tangannya dan menciumnya.
"Maafkan aku, aku begitu kasar dan tidak peduli dengan mu. Bangunlah, aku ingin bicara padamu."
Zian menggenggam erat tangan Sheril. Tangan satunya membelai rambut hitamnya.
Begitu lama Sheril memejamkan matanya. Hingga Zian yang merasa lelah, baru pulang dari kantor, dan belum sempat untuk makan. Dia tertidur membawa perut yang lapar, sembari memeluk tangan Sheri.
Di rumah
Reza memikirkan apa yang di katakan Alzian.
Istrinya?
Apa benar yang dikatakan oleh Zian?
Tapi ..., Kenapa mereka tidur terpisah? Kak ipar Ririn kemana? Dan mengapa sikap mereka seperti itu? Ini benar-benar tidak masuk akal!
Bukankah Alzian sangat mencintai istrinya?
Ah ..., memikirkan ini aku pusing.
Reza bangkit dan berdiri, mengambil kontak mobil dan pergi menyusul ke rumah sakit.
Di rumah sakit
Sheril terbangun dari tidurnya. kepalanya sedikit pusing dan berat. Dia belum sadar sepenuhnya, hingga ia merasa tangannya berat untuk di angkat. Perlahan dia membuka matanya, mengerjapkan matanya beberapa kali. Melihat ruangan yang serba putih, ia semakin melebarkan matanya hingga dia mengumpulkan beberapa ingatan sebelumnya.
__ADS_1
Rumah sakit?
Dia sadar kalua dirinya berada rumah sakit. Lalu melirik tangannya yang di peluk seseorang, Sheril menatap Zian yang sedang tertidur, terlihat wajahnya yang sangat lelah.
Sheril tidak tau harus berbuat apa?
Tangannya begitu ringan untuk mengusap kepala suaminya.
Merasa kepalanya dielus, Zian membuka matanya lalu memejamkan matanya kembali. Ingin lebih lama dielus seperti ini. Seorang suami juga mau di perhatikan, juga mau di manja oleh istrinya.
Jelas saja kalu Zian kurang perhatian, kurang kasih sayang dari seorang istri. Tetapi posisinya Sheril serba salah ...?
Tiba-tiba Sheril menarik tangannya dan berhenti mengelus rambut suaminya. Zian langsung bangun dan mengangkat kepalanya.
"Kau sudah bangun?"
Zian menatap Sheril.
Sheril menundukkan wajahnya. Tidak ingin menatap suaminya. Lalu dia mengangguk dengan pelan.
Zian menghela napasnya. Mengingat Sheril tertawa bahagia saat bersama dengan Reza.
"Maaf kalau aku salah. Aku hanya ingin bertanya, apa hubungan mu dengan adik ku? Kau terlihat bahagia bersamanya? Apakah kau menyukai adik ku? Jangan bilang kau sengaja menggodanya?"
Pertanyaan Zian tiba-tiba membuat Sheril mengernyit.
"Apa yang kamu pikirkan, Mas!" Sheril menatap dengan mengernyitkan keningnya. Zian cemberut sambil memalingkan wajahnya.
"Kau benar-benar keterlaluan! Begitu jauh pikiran mu? Aku memang mengagumi dan menyukainya, dia bisa membuat ku tertawa,"
Zian menatapnya dengan memicingkan mata.
"Dia adikmu, itu berarti dia adikku juga, kamu jangan menduga ku dengan yang tidak-tidak."
Tiba-tiba pintu di buka dari luar, Zian melepaskan genggaman tangannya, ingin melihat siapa yang datang.
Melihat Reza, Zian langsung membuang mukanya ke samping.
"Bagaimana keadaan mu cantik."
Sapa Reza sedikit melirik Zian. Sementara Zian melipat kedua tangannya di dada.
Anak ini lagi, anak ini lagi. Mau ngapain dia kemari! Tapi Zian tidak mencetuskan kata-katanya. Dia tidak ingin membuat keributan di sini. Mengingat bagaimana Reza menatap Sheril, Zian semakin geram. Sheril bisa saja berkata seperti itu, tetapi Reza? Dia bisa saja memiliki perasaan pada Sheril. Melihat perhatian dan caranya terhadap Sheril.
Melihat ekspresi Zian seperti itu Sheril merasa gelisah, dia takut mereka akan ribut lagi.
"Keadaan ku baik-baik saja, aku tidak kenapa-napa kok, dan kamu kenapa kesini?"
"Aku menghawatirkan kamu, karena tidak yakin dengannya!"
Deg ....
Dada Sheril langsung bergetar.
Sementara wajah Zian langsung merah padam, dia ingin bangkit dari tempat duduknya, tetapi Sheril menahannya dengan memegang tangan Zian.
"Reza, sebaiknya kamu pulang saja, ada kakakmu disini yang menemani ku."
"Tapi aku ...."
__ADS_1
"Reza, kau tidak mempercayai apa yang aku katakan? Kau tidak perlu menghawatirkan istri ku, ada suaminya yang menjaganya di sini."
Reza mengernyit dan tidak percaya.
"Apa yang kau katakan?" Reza melipat kedua tangannya.
"Yang ku katakan adalah benar ...."
Reza tersenyum kecut. "Kenapa? Apa karena dia terlihat lebih cantik dari istrimu? Kenapa kau tiba-tiba mengakuinya sekarang? Kau tampak tamak sekali."
Zian menata Reza tidak senang.
"Jaga bicara mu anak muda, kau tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, jadi tutup mulutmu itu."
"Kakak, aku menyukai dia, dan kenapa kamu menghalangi aku!" Reza mulai meninggikan emosinya.
Sheril melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang di katakan Reza.
"Reza kau ...," Sheril terkejut mendengar ucapan Reza barusan.
"Dia istriku! Kenapa kau menyukainya!"
"Cukup dengan drama mu ini! Aku tidak percaya kau akan menghianati istrimu."
Zian mengusap wajahnya berkali-kali, tidak tau harus bagaimana menjelaskannya pada adiknya yang bodoh ini.
"Reza, apa yang kamu katakan barusan? Aku menganggap mu tidak lebih dari seorang adik, benar apa yang di katakan kakak mu, kau tidak tau permasalahan kami." Sheril menundukkan wajahnya. Sementara Reza memandangnya dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Reza, ikut aku!"
Zian menarik tangannya, keluar dari ruangan rawat Sheril.
Setelah menjauh dan mencari tempat yang sepi. Zian menceritakan semuanya dan Reza terdiam tanpa berkata sepatah kata pun.
Sepertinya dia sudah memahami perjalanan kisah hidup kakaknya. Tetapi ada raut kecewa di matanya.
Dia benar-benar menyukai perempuan itu, sebanyak wanita yang dia kenal, walaupun banyak wanita cantik di luaran sana yang bisa menandingi Sheril, tetapi baru kali ini, Reza merasakan perasaan yang berbeda. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta pada perempuan yang sedang hamil itu?
"Kau laki-laki tampan yang masih muda, tidak perlu terburu-buru untuk memikirkan seorang perempuan. Suatu hari nanti, kau juga akan menemukan pasangan sejati mu."
Reza menarik napasnya dalam-dalam. Batinnya menangis dalam diam.
.
.
.
Author sudah update ya.
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
komen jika ada kritik dan saran☑️
__ADS_1
dan jangan lupa follow akun author ☑️