Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
104


__ADS_3

"Mama," Zian melirik Mamanya sebentar, kemudian duduk di sampingnya.


Zian tampak menghela napasnya dengan berat.


Sementara Serena begitu acuh mengabaikannya.


"Maaf kan Zian Ma, Zian memang bersalah."


"Dengan mudahnya kamu mengatakan maaf. Seharusnya maaf itu untuk istri kamu, bukan kau ucapkan padaku!" Ucap Serena dingin, kemudian ia bangkit dan berdiri, hendak meninggalkan Zian. Dengan cepat Zian menahan tangan Serena.


"Ma, dengarkan aku dulu! Oke aku ngaku salah. Semua terjadi begitu saja tanpa aku sadari, Zian menyesal. Tapi apakah Zian salah untuk mempertanggung jawabkan bayi yang ada di kandung perempuan itu? Mereka tidak salah, akulah yang bersalah dalam hal ini."


Serena duduk kembali, dan mendengarkan celotehan Zian.


"Apakah kau yakin dia adalah anak mu?"


Dia mengingatnya. pertanyaan mamanya sama dengan pertanyaan Ririn sebelumnya.


Zian menghembuskan napasnya secara perlahan.


"Sebenarnya aku tidak ingin meragukannya, Karena akulah yang pertama merusak masa depan perempuan itu. Tapi ..., Zian akan membuktikannya setelah anak itu lahir, agar Mama percaya!"


Zian menceritakan semuanya pada Serena, termasuk kejadian dimana ia merenggut kesucian Sheril sampai wanita itu hamil.


Waktu itu, aku sengaja di beri obat perangsang oleh seorang wanita, yang ada tempat itu, dan Nino lah yang menolong ku.


Serena mengerutkan dahinya. Ia percaya dengan kata-kata putranya, sejak dulu Alzian tidak pernah bercerita bohong. Ya Serena tidak pernah mengajarkan kebohongan.


"Kamu sangat yakin?"


Zian menganggukkan kepalanya.


"Ya, kau ulangi lagi, agar kau memiliki semua anak dari perempuan-perempuan lainya," Serena memalingkan wajahnya tidak ingin melihat putranya.


"Ma ..., kenapa busa bicara seperti itu? Aku tidak seperti itu, aku tidak mudah di rayu, Mama tau itu."


Ya, Serena tau itu, Zian tidak mungkin mudah untuk di goda. Namun Serena tetap kesal, meski bukan Zian sengaja, tetapi Zian tetaplah bersalah.


"Di mana perempuan itu?"


Pertanyaan Serena yang tiba-tiba membuat Zian membeku. Matanya menatap lurus kedepan. Zian membisu!


Melihat Zian diam, Serena menyipitkan matanya.


"Kenapa kau diam?"


Serena mendesak.


Zian menarik napasnya, lalu menghembusnya secara kasar.


"Aku tidak tau dia ada dimana sekarang."


Serena melihat ada raut wajah yang putus asa di dahinya.


Serena semakin serius ingin tau apa yang dipikirkan putranya.


"Kenapa? apakah dia pergi?"


Zian kembali diam untuk sesaat: "Iya, setelah kejadian itu, dia pergi," kemudian Zian menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Apakah kau merasa kehilangannya?"


Pertanyaan Serena membuat Zian menoleh dan menatap mamanya. Ada setitik harapan.


Zian kemudian menundukkan kepalanya. "Ya, setelah mengenalnya, dan menikahinya, aku menyayanginya."


Serena menghela napasnya yang dalam. Sebenarnya ia juga prihatin dengan wanita itu, mungkinkah wanita itu tidak membohongi putranya?


"Biarkan saja dia pergi, kamu tidak perlu repot-repot mencarinya."


Ungkapan Serena membuat Zian menatapnya dengan tidak suka, ia mengerutkan keningnya.


"Ma, aku menghawatirkan bayinya, kenapa Mama bicara seperti itu!"


Zian mendengus kesal, lalu bangkit dan meninggalkan Serena.


Iya, Zian seperti papanya, ia akan bertanggung jawab atas kesalahan apa pun, tapi suaminya tidak pernah melakukan hal bodoh ini.


Ririn


Ririn memeluk mama Rosna dengan erat, menangis di pelukannya. Rosna terlihat menenangkan Ririn.


Wajah Rosna langsung berubah ketika mendengar penjelasan putrinya.


Laki-laki kurang ajar, laki-laki brengsek, beraninya dia melukai perasaan putriku! Rosna mengeraskan rahangnya, ia semakin membenci keluarga Guinandra. Seakan kebencian yang sudah lama tersembunyi.


"Istrahat disini, Mama mau keluar sebentar."


Ririn mengangguk tanpa curiga sedikitpun.


Berapa lama Ririn di sini? Kenapa tidak kembali? Apakah tidak menghawatirkan putrinya yang menunggu di rumah?


Rosna mengendarai mobilnya menunju rumah Alzian. Karena jalan tidak begitu ramai, dengan waktu yang singkat, ia sudah samapi di halaman rumah Zian. Dia memarkirkan mobilnya dengan mantap.


Rosna keluar dari dalam mobil dengan kedua kakinya, lalu berjalan menuju pintu utama, kemudian mengetuknya dengan tidak sabar.


Serena yang ada di ruang keluarga, mendengar jelas ketukan pintu yang kasar tanpa henti.


"Siapa yang mengetuk pintu seperti itu! Tidak sopan sama sekali!" Serena bangkit dan berdiri dari sofa.


"Nyonya, biar saya yang membukanya."


"Biar saya saja!" Aku ingin tau siapa orang yang tidak tau sopan santun itu!" Kemudian Serena berjalan kedepan, dan langsung memutar kenop pintu sambil ngomel-ngomel dengan kesal.


"Hanya orang yang tidak bermoral mengetuk pintu seperti ..."


Seketika, ketika pintu terbuka, ia menatap wajah Rosna, wajah besan, mertua anaknya. Rosna pun menyiapkan matanya, saat pintu terbuka malah ia di sambut dengan kata-kata tidak bermoral.


Rosna menatap Serena dengan tajam. Sementara Serena menghela napasnya. Oh tuhan, ia tidak menyangka kalu itu adalah besannya. Pantaskah ia di bilang tidak bermoral?


"Apa yang kau katakan barusan?"


Rosna bertanya seakan ingin Serena mengulangi kalimatnya barusan.


"Oh, apakah kamu mendengarnya?" ucap Serena datar.


"Aku belum tuli, jadi aku mendengarnya dengan jelas."


"Kalau begitu, kenapa kamu masih bertanya?" Serena mengulum senyum.

__ADS_1


"Kau ...!"


He-he-he.


Rosna melipat kedua tangannya di dada. "Apakah kau akan membiarkan aku terus berdiri disini?" Ucap Rosna kemudian.


"Oh iya, silahkan masuk."


Serena mempersilahkan tamunya masuk.


"Menyambut tamu dengan tidak sopan sekali," Rosna memalingkan wajahnya dengan sinis.


Serena tersenyum, lalu mempersilahkan besannya untuk duduk. Ia cukup mendengar Apa yang di katakan olehnya barusan, jadi dia tidak perlu bertanya lagi.


"Tamu yang tidak sopan, apakah pantas di hormati oleh tuan rumahnya?"


Perkataan Serena membuat Rosna menatapnya benci.


"Kau ...."


"Tidak perlu banyak drama, katakan apa maksud kamu datang kesini," Serena langsung bertanya, ia tidak ingin berlama-lama berdebat dengan mertua putranya.


Sejak menjadi besan, Rosna tidak pernah bicara baik dengan Serena, yang ada hanya kata sindiran. Sepertinya, perempuan tua ini iri dengannya.


"Mana Zian putramu, aku ingin menemuinya."


"Dia lagi tidak ada di rumah."


"Jangan bohong."


"Kenapa aku harus berbohong dengan mu? Jika kau tak percaya, periksa saja," Ucap Serena tidak suka,


Mereka kemudian terdiam sesaat. Setelah itu Rosna kembali bicara.


"Apa yang terjadi dengan putra anda! Kenapa dia tega sekali menyakiti putriku! Terlebih lagi dia menghianatinya! Kurang ajar sekali putra mu! Apakah dia memang gila dengan perempuan j*****g!"


Mendengar kata-kata Rosna. Pandangannya menjadi gelap.


"Tutup mulutmu itu Rosna! Jangan pernah kau menghina putra ku!" Serena mengeratkan genggaman tangannya.


"Jika kau kesini hanya untuk menjelekkan putraku, silahkan keluar!"


Rosna menatap Serena dengan sinis. "Baik. Aku mau Zian meninggalkan perempuan itu."


"Oh ya? Ternyata anak mu sudah mengadu padamu."


Kedua besan ini saling tatap, Serena tampak tersenyum, sementara Rosna menatap dengan enggan.


"Aku harap, kamu juga menasihati putri kesayangan kamu Ririn itu. Aku tau Zian salah, akan tetapi, sebagai seorang istri, Ririn seharusnya bersikap bagaimana menjadi seorang ibu dan juga seorang istri,"


Apa?


"Jadi kamu menyalahkan putriku dalam hal ini?"


Serena menggeleng. Ia merasa lelah bicara dengan orang seperti ini.


Bagaimana kisahnya?


ikuti terus ya

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2