Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Tidak ingin bercerai


__ADS_3

Semakin hari Zian semakin sibuk di kantor, bagaimana tidak, pendapatannya naik 4 x lipat dari sebelumnya. Zian pun kewalahan menghadapi klien yang ingin bekerja sama dengannya. Kenaikan saham di perusahaannya melambung tinggi. Selama ini Zian sudah sangat bersyukur dengan perusahaannya yang tetap stabil, karena banyak perusahaan yang mengalami gulung tikar. Zian hanya berpikir jernih, mungkin memang saatnya perusahaan yang ia bangun selama ini mengambil nama terdepan di negaranya.


Wah ... Zian Guinandra semakin jaya. Ia pun semakin disegani oleh berbagai kalangan pebisnis. Ririn tidak tau masalah ini, bukannya Zian sengaja menutupinya dari Ririn, namun Ririn lah yang tidak ingin tau, ia sama sekali tidak peduli dengan apa pun yang terjadi terhadap Zian. Ririn tidak mengerti soal bisnis dan perkembangan perusahaan suaminya, yang terpenting ia akan meneruskan kariernya setelah Aura cukup besar. Zian pun pernah mendukung keinginan istrinya, asal istrinya tidak mengabaikan keluarganya.


Hari ini Zian benar-benar lelah sekali, tidak biasanya Zian merasa capek seperti ini. Zian menyandarkan badanya di kursi kebesarannya setelah selesai menemui kliennya. Zian meraih ponselnya yang tergeletak di samping kiri meja. Ia mencari nomor ponsel Mamanya.


"Iya, ada apa? Sayang," ujar Serena dari seberang sana.


"Ma, Ririn pulang ngk?" Tanya Zian setelah Serena mengangkat panggilan telpon darinya.


"Ngk, emangnya kemana istri kamu itu, semalaman ngk pulang, istri macam apa itu meninggalkan suami dan anak kecil seperti ini? Zian, kalian ribut lagi? Apa masalahnya?" Tanya mama Serena.


"Entahlah, Ma, aku pusing, udah dulu aku mau siap-siap pulang," ujar Zian langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Hallo Zian," Serena masih ingin bicara tapi Zian sudah memutuskan telponnya secara sepihak, Serena menghembuskan napasnya dengan kasar.


Bagaimana kalau rumah tangga seperti ini terus? kasihan Aura.


"Ini tidak bisa di biar kan," ucap Serena dengan dirinya sendiri.


...****************...


"Zian, Mama ingin bicara padamu," ujar Serena duduk di tepi ranjang samping Zian yang sedang berbaring.


"Ma, Zian capek banget, nanti saja bicaranya," ujar Zian dengan nada yang datar.


"Zian, mama ingin bicara yang serius, ada apa dengan kamu dan Ririn, coba ceritakan sama mama," ujar Serena seraya mengelus pucuk kepala putranya dengan lembut.


Zian bangkit dan duduk dengan malas.


"Zian sudah mencari Ririn kerumahnya, tapi dia tidak ada, Zian juga sudah menghubungi teman-temannya, tapi mereka tidak ada yang memberitahu Zian," ungkap Zian menceritakan motif yang sebenarnya.


"Zian, kamu itu sebetulnya sering kemana? Kenapa kamu sering tidak pulang kerumah? Apakah kamu mempunyai perempuan lain? Tapi itu tidak mungkin terjadi kan. Kamu sangat mencinta Ririn, jadi mama rasa kamu tidak mungkin menduakan nya," Tanya Serena seraya menatap Zian dengan seksama.


Deg ....


Dada Zian langsung bergetar saat mendengar pertanyaan mamanya. Zian langsung menundukkan kepalanya. Seraya menarik napasnya dengan berat.

__ADS_1


"Apa aku harus memberitahu Mama tentang hal ini," pikir Zian dalam hatinya.


"Zian, kok kamu diam saja," ujar Serena membuyarkan lamunan Zian.


"Mama jangan bicara yang aneh-aneh, aku itu benar-benar sibuk sekarang, Ma, di tambah lagi Ririn yang suka marah-marah setiap aku pulang, jadi Zian malas pulang kerumah," ujar Zian.


"Sayang, kamu itu laki-laki, harusnya kamu lebih tegas dengan istri kamu, jangan kamu biarkan istri kamu seperti ini, dia itu punya suami, punya anak, masak ada istri seperti itu, apa ada dia memperhatikan kamu? Tidak, kan? Bukanya mama ngomporin kamu, kamu bersikap tegas dong, kasihan aura kalu seperti ini terus," tukas mama Serena.


Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.


"Bukankah itu suara mobilnya Ririn?" Tanya Serena pada Zian.


"Sepertinya iya," ujar Zian.


Serena langsung keluar kamar meninggalkan Zian, ia menuju lantai dasar, sementara Zian langsung menyusul mamanya turun.


Prok ... prok ... prok ....


"Bagus sekali, istri yang sempurna hingga tidak pulang sehari semalam, lupa dengan adanya anak kecil yang membutuhkan kamu, istri macam apa kamu Ririn!" Tukas Serena menatap Ririn dengan geram.


"Ma, sudahlah," ujar Zian setengah berbisik pada Serena.


"Aku kesini hanya ingin mengambil sesuatu, bukan untuk berdebat dengan kalian," ujar Ririn seraya ingin pergi melalui Zian dan mertuaya.


Zian langsung menahan tangan Ririn.


"Apa maksud kamu? Dan apa yang ingin kamu ambil?" Tanya Zian menatap Ririn dengan tajam.


"Aku ingin mengambil barang milikku, aku akan pergi dari sini," tukas Ririn menepiskan tangan Zian.


"Ririn! Apa kau sama sekali tidak memikirkannya anak mu, bagaimana bisa kamu pergi begitu saja," ujar Serena meninggikan nada suaranya.


"Kenapa tidak bisa, Ma, kalian bisa mengurusnya, aku mau menenangkan diriku untuk beberapa saat, aku sudah muak tinggal di rumah ini," tukas Ririn dengan wajah yang merah padam.


"Ririn ... ! " Bentak Serena yang langsung di tahan dengan Zian.


"Ma, biarkan jika itu kemauannya, dia tidak bisa seenaknya keluar masuk dari rumah ini, ini bukan yang pertama kalinya Ririn pergi meninggalkan rumah, jadi silahkan pergi jika itu kemauan kamu, tapi jangan harap kau bisa masuk kerumah ini lagi," tukas Zian penuh penekanan.

__ADS_1


Serena kaget dengan apa yang di ucapkan Zian barusan, Serena tidak menyangka Zian akan membiarkan Ririn meninggalkannya.


Sementara Ririn menghentikan langkahnya, ia langsung terdiam, hatinya langsung terhenyak mendengar ucapan Zian yang membuatnya sedikit shock.


Ririn menatap Zian dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jadi benar kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Pantas saja kamu sudah berubah Zian, kamu sama sekali tidak takut kehilangan ku?" Ucap Ririn datar dengan mata yang kendur.


"Seharusnya kamu itu sadar diri! siapa yang merubah sikapku seperti ini? Jangan kamu pikir karena aku terlalu mencintai kamu, kamu seenaknya melakukan semau mu, tidak selamanya aku bisa sabar menghadapi sikap egois kamu, kamu kira aku akan selalu mengemis cinta dengan mu? Tidak Ririn, ada batas kesabaran ku," ucap Zian dengan nada yang dingin.


Ririn terdiam mendengar tuturan Zian. Jika ucapan Zian benar, maka ia benar-benar tidak akan bisa menginjakkan kakinya lagi di rumah ini.


Serena merasa puas dengan ucapan Zian, lalu ia pun pergi ke ruang keluarganya, ia pikir Zian sudah cukup tegas dalam bersikap, hingga ia tidak mencampurinya lagi.


"Zian, apa kau lupa bagaimana dulu kamu mencintaiku? Kamu sudah melupakan semuanya?" Lirih Ririn.


"Sama sekali aku tidak lupa, dengan kebodohan ku yang di butakan dengan cintamu, makanya kamu jadi besar kepala," tukas Zian membuat Ririn tersentak kaget.


"Zian, kamu bisa berkata seperti ini sekarang," ujar Ririn terpaku tidak percaya.


"Kenapa tidak bisa? Seharusnya dari dulu aku bersikap seperti ini sama kamu," ucap Zian sambil ingin melangkah pergi.


"Zian, hiks-hiks-hiks," Ririn langsung memeluk Zian dari belakang dengan erat.


"Maafkan aku, aku sadar, aku banyak salah sama kamu, aku benar-benar minta maaf, aku ... "


"Sudahlah Ririn, aku capek, terserah kamu saja," ucap Zian memotong ucapan Ririn seraya melepaskan pelukannya. Zian langsung meninggalkan Ririn.


Ririn menangis tersedu. Sementara Serena langsung keluar dari ruang keluarga menuju ruang tamu.


"Tidak ada seorang istri memperlakukan suaminya seperti kamu, seharusnya kamu itu ngaca! Siapa kamu? Sehari semalam tidak pulang, kami tidak tau apa yang di lakukan seorang istri di luaran sana, memalukan sekali," hardik Serena pada Ririn.


"Mama, maafkan Ririn, Ririn janji akan berubah, Ririn mengakui kesalahan Ririn selama ini, Ma, maafkan Ririn," Serena menepis tangan Ririn dengan kasar, lalu meninggalkannya begitu saja.


"Jika aku meninggalkan rumah ini, aku tidak tau apa yang akan terjadi, aku tidak ingin Zian menceraikan aku, jika aku bercerai dengan Zian, aku tidak akan mendapatkan uang bulanan lagi. Dan Aura, hak asuhnya sudah di pastikan akan jatuh di tangan Zian. Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini, aku tidak ingin bercerai," gumam Ririn dalam hatinya.


...****************...

__ADS_1


Di VillaZa. Sheril merasa gelisah, sudah dua hari tidak ada Khabar dari Zian, bahkan Zian sama sekali tidak menghubunginya. Sheril menahan perasaannya. Ia selalu berpikir positif terhadap Zian.


yuk vote lagi, lagi dan lagi ........


__ADS_2