Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Mulai membaik


__ADS_3

"Kenapa dengan perempuan itu? Jangan-jangan dia depresi," gumam Zian. Zian meremas rambutnya, entah Zian seperti orang yang kesal.


Di dalam kamar, dokter Sarah mencoba menenangkan Sheril. Walaupun dia hanya dokter kandungan, tapi sedikit-sedikit ia juga memahami apa yang di alami oleh nona cantik itu.


"Nona, dengarkan saya, apakah kamu sangat membenci pria itu?" Ucap dokter Sarah sambil mendekati Sheril dan memegang pundaknya dari samping.


Nona cantik itu langsung membekap wajahnya. Ia seperti orang yang ketakutan.


"Pergi kalian dari sini! aku sangat membencinya! Aku ingin pulang!" Sheril kembali menjerit.


Dokter Sarah langsung memeluknya, sambil merapikan anak rambut Sheril yang berantakan.


"Nona, apakah anda benar-benar ingin pulang?" Tanya dokter Sarah dengan suara lembutnya.


Sheril langsung membuka ke-dua tangannya, dan menengadahkan kepalanya menatap dokter Sarah.


Sarah tersenyum menatap Sheril.


"Kalau Nona mau pulang, nona makan dahulu ya, bagaimana nona mau pulang jika dalam keadaan seperti ini, nona harus sehat, nona harus kuat. Kuat itu harus makan dahulu, oke."


Sheril menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Dokter Sarah dan juga bibi Anum langsung tersenyum girang saat nona cantik itu mau menganggukkan kepalanya.


"Biar saya ambilkan makanannya dahulu," ujar bibi Anum.


"Cepat ya Bi," ujar dokter Sarah.


"Nona ini sebetulnya cantik sekali, tapi kenapa dengan Zian? Ada hubungan apa diantara Zian, Kenapa dia ketakutan saat melihat Zian? Atau mungkin Zian sudah menyakitinya?" Praduga sudah memenuhi pikiran dokter Sarah.


"Nona, kamu tau ngk, kalau kamu itu sebenarnya cantik sekali, Aku akan mengikat rambutmu, apakah boleh?" Dokter Sarah kembali bertanya kepada sheril.


Sheril menganggukkan kepalanya kembali.


Sementara bibi Anum sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi bubur buatannya.


"Non, Nona makan dulu ya, biar ngk sakit," ujar bibi Anum dengan suara lembutnya.


Bibi Anum kembali menyuapi Sheril. Sheril pun langsung membuka mulutnya.


Bibi Anum dan juga dokter Sarah sangat senang melihat Nona cantik itu tidak memberontak lagi.


"Nona cantik, kamu tenang saja, bibi akan selalu ada untuk mu," ujar bibi Anum sambil menyuapi Sheril.


Hoek ....


Tiba-tiba Sheril merasa mual.

__ADS_1


"Nona cantik, ada apa?" Ujar bibi Anum.


Hoek ....


Sheril langsung berlari ke wastafel. Ia memuntahkan semua isi perutnya yang barusan ia telan.


Dokter Sarah segera membantu Sheril memijat tengkuknya.


"Nona, kamu sakit?" Tanya dokter Sarah.


"Perutku sangat mual sekali," ujar Sheril.


Dokter Sarah langsung tersenyum mendengar nona cantik itu sudah mau berbicara. Ia pun sudah tau kalau perempuan cantik itu hamil walaupun dia belum memeriksanya


"Ayo berbaring lah, aku akan memeriksa mu," ujar dokter Sarah seraya membimbing Sheril keatas tempat tidurnya lagi.


"Nona cantik, bibi sangat menghawatirkan kamu," ujar bibi Anum sambil mengelus pucuk kepala Sheril dengan lembut.


Sementara dokter Sarah mengeluarkan alat medisnya. Ia mulai memeriksa Sheril.


"Nona, apakah kamu merasakan sesuatu?" Tanya dokter Sarah.


Sheril menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya merasa pusing dan mual," ujar Sheril.


Bibi Anum melebarkan matanya saat mendengar penjelasan dari dokter Sarah.


"Nona cantik ini ternyata lagi hamil? Tapi hamil anak siapa, apa ada hubungannya dengan tuan?" Pikir bibi Anum dalam pikirannya. Tapi ia tidak ingin mengatakan sesuatu, ia takut nona cantik itu akan tersinggung, lagi pula ia tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi tuannya, karena disini ia hanya melakukan tugasnya.


"Nona, jika menginginkan sesuatu katakan saja pada bibi atau padaku ya, kami akan menjaga mu," ujar dokter Sarah setelah ia selesai memeriksanya.


Sheril tidak menyahuti ucapan dokter itu. Pandangannya menatap lurus ke depan.


"Nona cantik, apakah kamu ingin memakan sesuatu?" Tanya bibi Anum.


Sheril tampak ragu untuk mengatakannya.


"Nona cantik, katakan saja, tidak usah ragu ya, bibi akan memasak sesuatu yang kamu inginkan," ujar bibi tersenyum ramah.


"Aku ingin makan bakso saja," ujar Sheril.


"Baik Nona, bibi akan memasaknya untuk mu," ujar bibi Anum seraya melangkahkan kakinya pergi keluar.


"Nona cantik mau makan bakso, tapi bagaimana caranya aku mendapatkan bakso itu, disini tidak ada bahan untuk memasak bakso," bibi Anum tampak berpikir.


"Bibi, bagaimana keadaan Nona itu?" Tanya Zian tiba-tiba mengagetkan bibi Anum.

__ADS_1


"Ah, ia, dia sudah sedikit baikan Tuan, tapi ... " bibi Anum menghentikan ucapannya.


"Tapi apa Bi?" Tanya Zian tidak sabaran ingin tau.


"Tadi Nona cantik itu sudah mau makan, tapi dia memuntahkan semua isi perutnya, saya khawatir jika ia terus saja seperti itu tuan," ujar bibi Anum menundukkan wajahnya.


"Terus, apa yang akan Bibi lakukan?" Tanya Zian lagi.


"Nona cantik mau di masakan bakso, tapi di dapur tidak ada bahan-bahannya," ujar bibi Anum.


"Bibi catat saja bahan-bahannya nanti saya akan menyuruh Simba membelinya keluar,"


"Baiklah Tuan," ujar bibi Anum membungkukkan sedikit badannya tanda ia sangat menghormati majikannya.


Senantiasa menunggu bahan-bahan bakso sampai, bibi Anum membuat jus alpukat untuk nona cantiknya.


"Bibi, bibi tolong jaga nona cantikmu itu, saya akan kembali ke kota. Dan segera hubungi saya jika terjadi sesuatu," ujar Zian.


"Baik tuan," ujar bibi Anum. Bibi Anum segera mengantar dan memberikan jus alpukat itu pada nona cantiknya.


"Nona cantik, ini jus alpukat bibi buat khusus buat nona, nona cantik minum ini saja dulu senantiasa baksonya mateng ya," ujar bibi berbohong. Ia tidak ingin membuat nona cantik itu kecewa, jadi dia mengatakan kalau baksonyo lagi proses memasak.


Sheril langsung mengambil gelas jus itu dari tangan bibi Anum dan langsung menyeruputnya sampai tersisa setengah gelas lagi.


Bibi Anum sangat senang, setidaknya perut nona cantik ini tidak terlalu kosong. Ia akan sedikit kenyang dengan jus itu.


"Nona, sebaiknya nona mandi saja dahulu, agar nona segar," ujar dokter Sarah.


Sheril langsung menatap dokter Sarah, kemudian menundukkan wajahnya.


"Kenapa Nona? Apakah ada sesuatu?" Tanya dokter itu dengan wajah cemasnya.


"Saya tidak memiliki pakaian ganti," ujar Sheril masih menundukkan wajahnya.


Dokter Sarah tersenyum.


"Baiklah aku akan memberikan pakaian untuk mu," ujar dokter Sarah seraya beranjak dari tempat duduknya.


Dokter Sarah segera memberikan beberapa pakaian yang bisa Sheril kenakan.


Sheril pun langsung menuruti titah dokter Sarah. Sheril segera membersihkan dirinya, ia merendam tubuhnya di bathtub. Sementara ia merasa segar dan rileks, ingin rasanya ia tidur dalam bathtub itu.


"Setidaknya aku masih di kelilingi orang-orang baik disini," pikir Sheril dalam hatinya.


jangan lupa vote dan like nya ya reader,


yuk semangati author dengan cara bom like dan berikan banyak gif dan hadiah pada karya author.

__ADS_1


__ADS_2