
Sudah beberapa hari ini, Zian tidak melihat Sheril. Dia penasaran, kenapa wanita itu tidak keluar dari dalam kamarnya?
Terlintas di hatinya untuk memastikannya, Zian keluar dari dalam kamar dan langsung turun. Saat dia hendak ke ruang makan, tiba-tiba dia melihat Reza sedang ngobrol dengannya, sepertinya mereka sedang memakan sesuatu, mereka terlihat sedang tertawa.
Zian memicingkan matanya, sudah lama ia tidak melihat Sheril tertawa seperti ini dengannya. Tetapi dengan orang lain, Reza adiknya, Sheril terlihat begitu senang.
"Eh itu punya ku, kenapa kau yang makan? bagian mu kan sudah aku berikan!"
"Ini enak sekali dan aku suka, kau tidak perlu memakannya lagi," ucap Sheril.
"Siapa yang membelinya tadi?"
"Kamu," he-he-he .... Sheril kembali tertawa, Reza juga ikut tertawa.
"Ngk apa-apa, yang terpenting kamu suka, nanti aku akan membelinya yang banyak untuk mu,"
"Wah ..., benarkah?"
Sheril terlihat gembira.
Reza mengangguk.
"Tapi kamu ...."
Hem ....
Reza langsung menghentikan ucapannya dan menoleh ke sumber suara yang terdengar berat. Sheril juga menatap Zian yang wajahnya terlihat masam.
"Kakak, kapan kau datang? Tiba-tiba saja menggangu kami yang lagi makan!"
Zian diam tidak menyahuti kata-kata Reza. Ia menatap Sheril dengan ekspresi sulit di artikan.
"Enak?"
Tiba-tiba Zian bertanya dengan nada yang dingin, dengan tidak mengalihkan pandangannya terhadap Sheril.
Sheril mendongak ke atas, menatap mata zian sekilas, lalu menundukkan pandangannya sambil menghela nafas.
"Lain kali kau bisa membelinya sendiri, tanpa menerima pemberian dari orang lain."
Zian meletakkan segenggam uang ratusan ribu di depan Sheril.
Reza terkejut dengan apa yang di lakukan Zian. Begitu pun dengan Sheril, ia berhenti makan dan menatap Zian dengan seksama.
"Kak, orang lain apa maksudnya? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu, aku hanya membeli chicken ayam, dan dia menyukainya. Apa salahnya aku memberikan padanya? Dia lagi hamil dan tidak di perhatikan oleh suaminya. Dan aku ...."
"Tutup mulutmu itu, kau tidak perlu memperhatikannya, aku sudah memberinya uang, dan dia bisa membelinya sendiri."
Setelah bicara seperti itu, Zian meninggalkan mereka.
Reza menghela napasnya, dan menggeleng melihat kelakuan kakaknya yang aneh.
"Jangan di ambil hati, dia memang seperti itu, kau makan saja, habiskan." Ucap Reza dengan penuh perhatian. Bibirnya melengkung menampilkan senyuman.
Dia benar-benar tampan, tidak salah jika semua wanita terhipnotis dengannya. Tetapi Sheril hanya menganggapnya sebagai adik dan teman, tidak lebih dari itu, karena menurutnya Reza mengasikan untuk di ajak ngobrol.
Tetapi mungkin berbeda dengan Reza. Baginya, gadis atau janda itu sama saja. Bahkan, lebih mulia seorang janda dari pada seorang gadis. Karena gadis zaman sekarang sudah banyak yang rusak.
Zian pergi ke ruang kerja dengan hati yang tidak tenang, ia tidak berhenti mengingat kata-kata Reza barusan.
Apa salahnya aku memberikan padanya? Dia lagi hamil dan tidak di perhatikan oleh suaminya!
__ADS_1
Zian memukul meja berkali-kali. Pikirannya melayang kemana-mana, bagaimana jika anak itu menyukainya?
Tidak aku harus memberi tahu Reza sekarang.
Saat Zian hendak melangkah ke luar, tiba-tiba ponselnya berdering, ia menoleh dan mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya dengan cepat.
"Ya ada apa?"
Terlihat Zian mendengarkan pembicaraan di dalam telponnya.
"Baiklah aku akan segera kesana?"
Zian melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan mengganti dengan pakaian yang lebih formal.
Setelah cukup, ia buru-buru keluar dan setengah berlari menuruni anak tangga. Sheril melihatnya dari samping, dan mengernyit melihat Zian seperti buru-buru sekali.
Ya, Zian mendapatkan telpon dari asistennya, bahwa ada klien dari Tokyo datang mendadak, inilah yang Zian tunggu-tunggu, dan ini keberuntungan yang tidak bisa di lewatkan begitu saja.
Sampai di kantor, mereka segera mengadakan rapat dadakan, dan berlangsung beberapa jam.
Zian hampir tidak percaya, dia mendapatkan proyek terbesar di Tokyo. Ini benar-benar di luar dugaannya.
Setelah rapat selesai, Zian ke ruang kerjanya. Dia bersandar di kursi kebesarannya. Dia akan berangkat ke luar negeri beberapa hari lagi dengan asistennya. Dengan begitu, dia akan jarang berada di sini. Senyum mereka di bibirnya yang merah.
Semangatnya bekerja lebih serius lagi. tiga tahun sebelumnya, perusahaan Zian tidaklah apa-apa, dia bahkan tidak ingin mengurusnya lagi.
Tetapi ..., tiba-tiba Zian mengingat sesuatu. Setelah dia mengenal Sheril dan menikahinya.
Begitu cepat perusahaannya naik level.
Soreh ****harinya****
Zian kembali kerumah, dia akan memberi tahu Sheril tentang ini.
"Ah ..., pelan-pelan."
"Seperti ini bagaimana?"
Terdengar suara laki-laki yang tidak lain adalah adiknya sendiri.
Zian langsung mengepalkan tangannya, dadanya naik turun menahan emosi.
"Ya, seperti itu lebih enakan."
Terdengar lagi suara Sheril dari dalam kamar.
Dengan pikirannya yang negatif, Zian tidak dapat menahan emosinya lagi, dia segera mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Reza dan Sheri terkejut melihat pintu yang di banting begitu keras.
Zian melihat Reza sedang memegangi kaki Sheril, matanya menyipit memandangi keduanya secara bergantian.
Melihat wajah Zian yang merah padam, Sheril menarik kakinya yang berasa sakit. Sementara Reza berdiri di hadapan Zian.
"Kakak kenapa memandang kami seperti itu?"
"Berani sekali kau masuk ke dalam kamar seorang wanita!"
Reza mengernyit.
"Kak, aku hanya membantunya, kau ...."
__ADS_1
Buk ....
Sebuah bogem mentah mendarat di bibir Reza, seketika itu langsung mengeluarkan darah sega. Reza menatap Zian dengan marah, sementara Sheril membulatkan matanya.
"Mas! Kenapa kau memukul adikmu?!"
Zian ingin memukulnya lagi, namun dengan cepat Reza menangkap tangannya.
"Hentikan semua ini! Aku hanya menolongnya karena kakinya terkilir, dan kamu kenapa? Bukankah kamu juga sering menyelinap masuk di kamar ini? Apakah kau cemburu? Jika aku menyukai dia, itu adalah hak ku! Bahkan aku berniat menikahinya jika anaknya sudah lahir nanti!"
Sheril terkejut mendengar tutur kata anak itu.
"Reza ...!"
Suara Zian melengking keras, emosinya semakin membara saat mendengar kata-kata menikahinya.
Zian ingin memukulnya lagi, namun Sheril menghalangi.
"Cukup mas cukup ...."
Dan pukulan Zian tepat mengenai pelipis Sheril. Seketika pandangan Sheril langsung buram, dan tiba-tiba jatuh tanpa sadarkan diri.
Zian melebarkan matanya, seketika tubuhnya gemetar tidak karuan, sambil menatap tangannya yang sudah memukul Sheril.
"Kau sangat keterlaluan, apakah kau akan membunuhnya?"
Reza menatap Zian dengan rasa benci.
Bagi Zian adalah sekarang Sheril, tidak ada gunanya melayani Reza. Saat Zian ingin mengangkat tubuh Sheril, Reza sudah mendahuluinya.
"Kau jangan menyentuhnya, aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang juga."
Zian menatap Reza dengan penuh emosi.
"Kau tidak berhak atas dirinya, dia istriku, dan anak yang di kandungnya adalah anak ku."
Reza tertawa.
"Sandiwara yang tidak berguna."
"Nanti aku akan menunjukkan buktinya."
Selesai bicara, Zian mendorong tubuh Reza. Dan dia langsung mengangkat tubuh Sheril, membawanya ke rumah sakit.
.
.
.
Besok kemungkinan author tidak akan update ya. lihat kondisi, jika pendukung banyak yang menunggu update terbaru, author akan berusaha.
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
komen jika ada kritik dan saran☑️
__ADS_1
dan jangan lupa follow akun author ☑️