Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Aku adalah suamimu


__ADS_3

"Laki-laki pengecut! Lepaskan saya! Dasar b*****n!" Teriak Sheril sambil menoleh kearah Zian dan Nino. Zian tersenyum sinis menatap Sheril. Sementara Nino hanya diam saja. Ia merasa sangat bersalah, karenanya perempuan itu menderita.


"Tolong ... "


Teriak Sheril dengan suara pilunya.


"Tolong lepaskan saya, hidupku sangat menderita, jangan kalian tambahkan lagi penderitaan ku,"


Sheril menangis tersedu saat di dalam mobil itu, tubuhnya dihimpit oleh dua orang laki-laki yang membuatnya semakin ketakutan.


Sebelum Simba melajukan mobilnya. Ia menghampiri Zian terlebih dahulu.


"Sesuai dengan perintahku dari awal, kurung dia disana, ingat, jangan sampai menyakitinya, besok saya akan menyusul kesana," tegas Zian.


"Baik Bos," jawab Simba dengan cepat. Kemudian ia langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Lepaskan saya Tuan, saya ingin pulang hiks-hiks-hiks, kalian mau apa dari ku!" Teriak Sheril.


"Diam! Kau berisik sekali, atau aku akan membungkam mulutmu!" Bentak salah satu dari mereka.


"Aku mohon tuan ... lepaskan saya, turunkan saya di sini hiks-hiks-hiks," Sheril menangis tersedu.


"Perempuan ini membuat telingaku sakit, jika dia tidak diam, aku akan melemparkannya ke jurang," ujar salah satu dari mereka, laki-laki itu lebih serem diantara yang lain. Wajahnya yang garang, kumisnya yang tebal tampak bergerak-gerak hingga membuat Sheril meringkuk takut.


Sheril memeluk dirinya dengan menekuk kan kedua kakinya di dada. Ia meratapi nasibnya yang malang. Sheril menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.


"Elian, dia pasti menghawatirkan aku, aku harus bagaimana, mereka akan membawaku kemana?" Ribuan pertanyaan membuat kepala Sheril pusing.


Zian dan Nino juga meninggalkan taman itu.


"Ayo cepat jalan," ujar Zian pada asistennya yang bernama Leo.


"Apakah kita akan mengikuti mobilnya Simba Tuan?" Tanya Leo setelah melajukan mobilnya.


"Langsung pulang, besok pagi kita akan kesana," ujar Zian dengan aura wajah yang masih gelap.


"Baik Tuan," ucap Leo.


Leo adalah asisten yang sangat amanah dan konsisten, ia siap siaga kapan pun Alzian Guinandra membutuhkannya. Zian menatap kosong lewat kaca mobil samping. Ia terpaku mengingat kalimat yang di lontarkan perempuan itu. Tiba-tiba Zian mengeraskan rahangnya. Ia mengingat perempuan itu melayangkan tangannya di pipinya.


Zian mengelus pipinya yang sedikit pedas akibat tamparan keras itu.


"Perempuan itu, aku akan memberikan perhitungan pada mu," batin Zian dengan wajah yang suram, tangannya menggenggam erat jemarinya hingga menusuk telapak tanganya. Untung saja Zian memiliki kuku yang selalu rapi dan bersih, kalau tidak, kukunya akan menembus belakang telapak tangannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Sesampainya di rumah, Zian mendapati istrinya yang sedang membaca majalah di ruang keluarganya. Zian berharap istrinya akan menyambutnya dengan senang hati.


"Kamu sudah pulang?" Tanya istrinya tanpa bergerak dari tempat duduknya.


"Iya," ujar Zian yang langsung menganggukkan kepalanya.


Zian menatap istrinya, Ririn malah tidak menghiraukan Zian yang menatapnya, ia melanjutkan membaca buku majalah kesayangannya.


Zian merasa sedih dengan sikap istrinya yang dicintainya itu. Perlahan-lahan Zian meninggalkan istrinya, ia menuju kamarnya dengan langkah yang gontai.


Setelah membersihkan dirinya, Alzian langsung mengganti pakaian santainya, ia mengenakan celana pendek mahalnya dengan kaos oblong yang menambah kesan kece nya.


Zian langsung turun kebawah mencari Istrinya yang masih membaca majalah sejak tadi.


"Ma, sejak tadi kamu tidak menghiraukan aku, bahkan masih saja membaca majalah ini," ujar Zian sendu.


Ririn menatap Zian dengan wajah datarnya.


"Buatkan teh untuk ku," titah Zian pada istrinya.


"Bi ... "


Ririn menghempaskan majalahnya di samping tempat ia duduk, ia melipat wajahnya seraya beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Ririn kesal dengan suaminya.


Zian menarik napas dalam-dalam. Sebatas mana Zian akan sabar menghadapi sikap dingin istrinya. Zian terlalu mencintai istrinya hingga Ririn yakin kalu Alzian Guinandra tidak akan berani berbuat kasar dengannya.


"Ma, aku ingin bicara padamu," ujar Zian setelah istrinya meletakkan teh untuknya di atas meja.


"Iya ada apa?" Ujar istrinya ketus.


"Ma, cobalah bersikap seperti dulu, aku kangen dengan kemesraan kita," ujar Zian memelas, ia menatap manik mata istrinya dengan lembut.


"Entahlah, kamu sendiri yang merubah sikapku seperti ini," ujar Ririn tanpa melirik suaminya.


"Ma, itu adalah kesalah pahaman, kamu sudah salah paham, aku tidak pernah bermain gila dengan perempuan di luar sana, jujur aku akui, aku memang seorang peminum berat, tapi, untuk perempuan aku hanya mencintai kamu? Tolonglah percaya padaku," ujar Zian memohon. Zian memegang kedua tangan istrinya.


Ririn diam saja, ia tidak merespon ucapan suaminya.


"Ma, apakah kamu tidak mencintaiku lagi?" Pertanyaan Zian membuat dada Ririn berdegup kencang. Ia tidak tau harus berkata apa, cintanya pada Zian memang sudah berubah. Perasaan itu hilang setelah ia memergoki Zian di peluk perempuan lain dalam keadaan suaminya mabuk berat.


Ririn tidak percaya apa yang sudah di jelaskan suaminya. Ia tetap kekeh dengan perasaannya.

__ADS_1


"Sudahlah aku tidak ingin membahas perasaanku, yang jelas kamulah yang merubah sikapku seperti ini," ujar Ririn beranjak dari tempat duduknya. Ririn meninggalkan Zian yang terpaku duduk diruang keluarganya.


Zian meremas rambutnya dengan erat. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Sepertinya sangat sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


Zian menyusul istrinya masuk kedalam kamar. Ia langsung membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Sayang, apakah kamu sudah tidur?" Tanya Zian hati-hati.


"Em ...."


"Sayang, aku merindukan kamu, sini menghadap lah padaku," ujar Zian seraya membalikkan tubuh Istrinya.


Zian mencium kening istrinya dengan mesra, tangannya membelai rambut Ririn dengan penuh kasih sayang. "Sayang, aku mencintaimu, sangat mencintai kamu," ujar Zian menampilkan senyuman manisnya.


Tanpa menyia-nyiakan waktu Zian langsung menciumi leher istrinya, sudah hampir satu minggu istrinya menolak hubungan badan yang halal itu.


Karena tidak ada penolakan dari istrinya, Zian langsung menyingkap baju milik istrinya lalu dengan rakus ia menghisap pucuk cokelat yang menempel di dua buah benda empuk itu.


Ririn membelalakkan matanya, lalu mendorong tubuh suaminya.


Zian sangat terkejut dengan sikap istrinya yang kasar seperti itu.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mendorong ku," ujar Zian kesal.


"Aku tidak ingin melakukannya sekarang!" Teriak Ririn.


"Tapi aku ini suami kamu Ririn ...! "


Zian benar-benar kesal dengan sikap istrinya. "Baiklah, aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi," ujar Zian seraya beranjak dari tempat tidurnya.


Ririn melebarkan matanya saat mendengar ucapan suaminya.


Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Zian langsung keluar dari kamar mandi lalu pergi meninggalkan kamarnya.


Jangan lupa dukungannya Dengan cara


πŸ’• vote βœ…


πŸ’•****like βœ…


πŸ’•komenβœ…


πŸ’• GIF βœ…

__ADS_1


tap ❀️ dan juga follow author ya


__ADS_2