Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
SAH


__ADS_3

Sheril segera membersihkan dirinya. Pikirannya sudah bulat, dari pada Zian memaksanya pergi keluar negri, lebih baik ia harus menikah dengannya. Setidaknya Sheril masih dalam negerinya sendiri.


Tok-tok-tok ....


Suara pintu di ketuk dari luar. Untung saja Sheril sudah mengganti pakaiannya, hingga tidak menunggu lama Sheril membuka pintu kamarnya.


"Bibi!" Seru Sheril setelah melihat bibi Arum yang berdiri di depan pintu kamarnya. Sheril langsung memeluk bibi Arum dengan erat. Ia menangis.


Bibi Arum menenangkan Sheril, ia mengelus pundak Sheril.


"Bibi, Sheril kangen sama bibi, bibi kenapa meninggalkan Sheril sendirian di sini," isak Sheril sambil menyeka bulir air matanya.


"Maafkan bibi, bibi tidak sempat memberitahu. Nona tenanglah ada bibi di sini," ujar bibi Arum menenangkan Sheril.


Bibi Arum menyodorkan paper bag dengan Sheril, "apa ini bi?"


"Kebaya pengantin mu, Tuan menyuruh bibi memberikannya padamu, sebentar lagi para MUA akan datang, kamu segera bersiap ya," ujar bibi Arum dengan senyumannya.


"Nanti bibi akan kesini lagi ya, banyak yang ingin bibi persiapkan," ujar bibi Arum berlalu pergi.


Sheril menatap paper bag itu, ia tidak percaya kalau hari ini adalah hari pernikahannya. Hari pernikahan bagi seorang wanita adalah hari bahagia yang selalu di mimpikan oleh setiap pengantin wanita, dimana mereka akan menyiapkan dirinya jauh-jauh hari akan mengucap janji suci di depan penghulu. Tapi tidak dengan Sheril, ia akan menikah tanpa keluarganya, tanpa sahabatnya. Air mata Sheril kembali mengalir, ia berlari menuju tempat tidurnya, ia membenamkan wajahnya di bantal, menumpahkan segala keluh kesahnya yang tidak dapat ia rubah lagi, Sheril tidak henti-hentinya meratapi nasibnya yang buruk.


Tok-tok-tok ....


Pintu kamar Sheril kembali di ketuk. Sheril tidak menghiraukannya sama sekali, hingga seseorang langsung membukanya.


"Non," ujar bibi Arum memegang pundak Sheril dengan lembut.


"Iya Bi," ujar Sheril serak.


"Ayo bangunlah, orang MUA sudah sampai, jangan sedih ya, bibi tau perasaan Non sekarang, bibi yakin Nona cantik bisa melaluinya," ujar bibi Arum sambil mengurut pundak Sheril.

__ADS_1


"Bibi," Sheril bangkit dari tidurnya, ia langsung memeluk bibi Arum.


"Sheril sedih, Bi, pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah Sheril, malah jadi seperti ini," ujar Sheril lirih.


Bibi Anum menyeka air mata Sheril. Ia tersenyum berusaha menghibur Sheril.


"Bibi adalah keluarga mu juga, jangan mikir macem-macem lagi ya, Tuan itu sebetulnya orang yang baik," ujar bibi Arum.


"Bersiaplah, MUA sudah datang," ujar bibi melirik kearah pintu melihat dua orang perempuan perias mau masuk kamar.


Sheril langsung mencuci mukanya di wastafel, setelah itu, ia duduk menghadap kaca rias sesuai yang di perintahkan MUA.


"Baca bismillah terlebih dahulu ya, agar make-up nya bagus, dan acaranya lancar," ujar salah seorang MUA itu pada Sheril.


Sheril menuruti ucapan perempuan dewasa itu, setelah membaca bismillah, ia menarik napas dalamnya, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


MUA yang sudah profesional mulai memoles wajah Sheril yang sebetulnya sudah cantik. MUA menyulap pengantinnya tampil berbeda bak sang bidadari surga, make-up yang natural dan elegan dengan hiasan kepala adat sunda warna silver. Apa lagi saat Sheril memakai model kebaya pengantin putih tulang dengan train panjang menyapu lantai. Sementara kainnya menggunakan batik klasik bernuansa cokelat, kebaya ini merupakan karya desainer ternama di kotanya, ini merupakan pilihan Zian sendiri, walaupun hatinya masih kesal dengan Sheril, namun Zian masih memperhatikan momen hari itu, walaupun ia sudah pernah melakukannya. Tapi Zian tidak ingin hari pernikahannya tidak maksimal.


Sheril menatap pantulan dirinya dari dalam kaca, ia tidak percaya kalu yang ada di dalam kaca itu adalah bayangan dirinya. Matanya berkaca-kaca saat mengingat yang sebenarnya, tapi ia berusaha tidak mengeluarkan air matanya.


Ia sedikit menampilkan senyumannya.


Tok-tok-tok ....


Suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk," ujar Sheril datar.


Ceklek ....


Pintu pun terbuka lebar, bibi Arum langsung masuk, ia tersenyum lebar saat melihat kecantikan Sheril.

__ADS_1


"Non, kau kah ini?" Ujar bibi Arum menatap Sheril dari atas sampai bawah.


Sheril tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun non, cantik sekali, bibi pangling melihatnya, Tuan pasti akan terkesima melihat Non," ujar bibi Arum.


"Ah bibi, biasa aja," ujar Sheril tersipu mendengar pujian bibi Arum.


"Ayo Non, semua sudah menunggu mu di bawah," ujar bibi Arum sambil menggandeng tangan Sheri. Sheril merasa deg-degan saat berjalan meninggalkan kamarnya.


Walupun tidak ada undangan, ruangan tempat mengelar ijab qobul terhias sagat indah dengan rangkaian berbagai macam bunga.Tampak Zian sudah duduk di kursi menghadap penghulu, ia kelihatan gagah dan sangat tampan dengan pakaian formal warna putih tulang yang senada dengan pakaian Sheril.


Sementara Sheril sudah menuruni anak tangga, dengan sangat hati-hati bibi Arum menuntun Sheril. Semua mata tertuju pada pengantin wanita yang sedang menuruni tangga, mereka tampak takjub melihat kecantikan Sheril. Apa lagi Zian, ia tidak mengalihkan pandangannya menatap pengantinnya yang sebentar lagi akan berstatus menjadi istrinya. Ia terkesima melihat calon istrinya yang sangat cantik, bahkan di luar dugaannya, ia seperti bidadari surga yang turun dari kahyangan.


Perasaan Zian sudah tidak menentu, ia semakin yakin dengan keputusannya.


Sheril tampak ragu untuk duduk di samping Zian, melihat calon istrinya belum menduduki kursinya, Zian langsung berdiri sambil mengulurkan tangannya.


Kini Sheril sudah duduk di sampingnya. Perasaannya sudah tidak karuan, dadanya berdegup kencang, napasnya naik turun tidak beraturan. Sudah pasti ia sangat gugup saat menghadapi momen tersebut.


Sementara Zian tampak sumringah, sebentar lagi Ia akan mengucap kalimat sakral itu.


"Saudara Alzian Guinandra, apakah kamu bersedia menerima saudari Sheril Mehrunissa?" Tanya pak penghulu.


"Saya bersedia," ucap Zian dengan lantang dan tegas. Kemudian pak penghulu menjelaskan inti dari pernikahan.


Zian dan pak penghulu saling berjabat tangan. Zian siap untuk mengucap kalimat sakral. Setelah para saksi mengucap kata SAH, maka SAH la Sheril dan Zian menjadi suami istri. Sheril menitikkan air matanya saat kata SAH itu di ucapkan. selesai berdoa Zian menyematkan cincin kawin di jari manis Sheril, Sheril pun mencium punggung tangan Zian dengan perasaan berdebar-debar. Zian pun kemudian mengecup kening Sheril dengan lembut.


Sheril terdiam saat melihat surat pernikahannya hanya terbuat dari sebuah kertas putih saja, bukan buku kecil yang biasa ia lihat seperti pada umumnya orang-orang menikah. Sheril ingin menanyakan hal ini, tapi niatnya ia urungkan setelah berbagai pertimbangan.


Kini Sheril sudah menjadi seorang istri, yaitu istri dari Alzian Guinandra.

__ADS_1


Dukung karya author ya kak? langsung vote, like, komen ya agar author semangat untuk berkarya. jangan lupa follow author ya.


__ADS_2