
Tiga bulan Ririn meninggalkan rumahnya.
Mamanya mengabarkan kalau Zian membawa istri sirihnya itu tinggal bersama di rumah mereka. Awalnya Ririn tidak percaya, namun ketika mamanya membenarkan Ririn seakan tak bertenaga.
Dia tak percaya suminya bisa nekad membawa wanita penghancur rumah tangganya.
Tapi Ririn tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Zian.
Saat Ririn mengetahui jika istri kedua Zian tinggal di rumahnya wajahnya langsung hancur, rasa sakit hatinya tiba-tiba menyeruak, dadanya seperti ada bom yang siap meledak.
"Kurang ajar! Wanita j*l*Ng itu! Beraninya dia tinggal di rumah ku!" "Ririn mengepalkan kedua tangannya dengan erat hingga jari tangannya memutih.
Aura membunuh terpancar di wajahnya yang saat ini sangat buruk.
Ririn membanting semua benda yang ada di dekatnya, semua hancur berantakan.
"Zian! Beraninya kau membawa perempuan itu!" Ririn berteriak didalam apartemennya seperti orang gila. Rahangnya mengeras, emosinya meluap seperti api yang berkobar.
"Aku harus pulang sekarang!" Saat dia berkata harus pulang, Ririn terduduk di lantai. Tiba-tiba dia ingat telpon mamanya.
__ADS_1
Ririn mencari-cari ponselnya yang tadi terjatuh saat mamanya memberi kabar buruk itu.
"Halo Mama, Mama masi di sana kan?"
Tak ada jawaban, ternyata mamanya sudah mengakhiri telponnya.
Ririn kembali menghubungi Rosna.
"Halo, Ma. Ririn akan pulang, tapi apa yang akan kita lakukan?" Suara Ririn gemetar saat berbicara.
"Ririn, kamu tidak apa-apa, kan?" Rosna tampak khwatir dengan putrinya.
"Ririn, kamu yang sabar yah, Nak. Kita tidak boleh gegabah, menghadapi mereka jangan emosi seperti ini! Yang ada kamu akan mendapatkan masalah, mereka tidak akan tinggal diam jika kamu mencelakai mereka."
"Tapi Zian suami Ririn, Ma. Zian tega membawa perempuan itu ke rumah kami. Aku tidak terima dia menyentuh barang-barang ku, aku tidak terima!"
"Ya sudah, kau pulang, kita bicarakan ini di rumah, oke?"
Ririn mengngguk sambil menyeka air matanya. Dalam hatinya membayangkan Sheril tidur di kamarnya bersama Zian.
__ADS_1
Hatinya merasa hancur ketika membayngkan Zian dan wanita itu tidur di kamarnya.
Sejenak Ririn membayngkan wajah Zian, wajah yang tampan, bersikap lembut ketika menenangkan dirinya yang sedang marah.
Sebelum perempuan itu datang dalam kehidupan Zian, Zian selalu mengalah demi anaknya dan juga rumah tangganya. Zian tidak menginginkan penceraian, dia tetap mempertahankan rumah tangganya meski terkadang istrinya itu membuatnya menyerah.
Namun naas, Zian tidak dapat menghindari perbuatan yang tanpa dia sadari, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Zian berubah setelah menikahi Sheril, dia bisa membantah Ririn ketika dia marah. Saat Ririn menolak waktu Zian meminta haknya di atas ranjang, waktu itu pula Zian tidak mau menyentuhnya. Bukan sekali dua kali Ririn menolak, bahkan berminggu-minggu Zian di anggurin, laki-laki mana yang bisa setahan itu satu kamar dengan istri tetapi tidak di berikan haknya ketika dia minta.
Ririn sangat kejam dengan suaminya, dia merasa Zian akan sellu mencintai dan menyayanginya meski sikapnya seperti itu.
Zian sering ke bar saat hatinya sedang penat, mencari ketenangan di sana meski tidak bisa menyelesaikan masalah. Mungkin Zian akan tetap seperti itu jika tidak ada kejadian yang membuatnya merasa harus bertanggung jawab.
Ririn menyadari sikapnya terhadap Zian.
Hu ....
Menyadari ketika semua sudah hancur!
Menyadari ketika Zian mencintai perempuan lain? Sadar ketika sudah terlambat.
__ADS_1
Perusahaan Zian maju pesat saat ini, Zian juga tidak henti-hentinya bersyukur, bahkan tak percaya beberapa perusahaan besar mau berkerjasama dengannya dan menanamkan saham di perusahaannya.