Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
penculikan Sheril


__ADS_3

Sheril mencengkram tanganya dengan erat. Ia langsung menghapus jejak air matanya setelah laki-laki itu pergi. Ia tidak ingin karyawan yang lainnya mencurigainya. Akan tetapi itu tidak bisa Sheril tutupi, mereka melihat kelopak mata Sheril sedikit sembab. Untung saja mereka tidak melihat saat ia bicara pada laki-laki itu


"Kakak, kakak kenapa? Seperti habis menangis?" Ujar karyawan yang bernama Lola.


"Em tidak, kakak tidak kenapa-kenapa, tadi mata kakak kemasukan debu saat membersihkan lantai," ujar Sheril berbohong.


"Beneran tidak kenapa-kenapa, Kak?" Ujarnya memperhatikan mata Sheril.


"Iya benar, sekarang sudah tidak apa-apa lagi," ujar Sheril.


Untung saja keadaan cafe lagi sepi. jadi tidak ada yang melihat obrolan Nino dan Sheril.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sheril bersiap ingin pergi menemui janjinya pada Nino. Ia mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum pergi.


Sheril sudah menunggu Nino di taman yang sudah di janjikan sebelumnya. Ia duduk di bangku taman sambil melihat anak-anak yang sedang bermain.


Tidak begitu lama sebuah suara mengagetkan Sheril.


"Hai! Sudah lama menunggu," ujar laki-laki itu. Sheril langsung menoleh ke sumber suara.


"Tidak, saya juga belum lama sampai disini," ujar Sheril datar.


"Perkenalkan namaku Nino," Nino mengulurkan tangannya pada Sheril.


"Tidak perlu basa basi, cepat katakan apa yang ingin kamu katakan," ujar Sheril membuat Nino menghela napasnya.


"Baiklah, sebelum mengatakan sesuatu, aku minta maaf atas kejadian itu, aku ... "


Plak ....


Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pelipis Nino. Muka Nino langsung merah padam, ia menggertakkan giginya, matanya menyala bak kobaran api yang sedang menyala. Jika dia bukan perempuan yang berhubungan dengan kakak sepupunya, tentu saja Nino sudah membalasnya.


Tapi Sheril tidak takut dengan tampilan wajah Nino yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Dengan mudahnya kau mengatakan maaf! Sementara aku sangat menderita dengan jebakan mu itu!" Sheril tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia sangat hancur saat orang yang bersalah padanya hanya meminta maaf.


"Kau sudah menghancurkan hidup ku, masa depanku sudah hancur hiks-hiks-hiks," Sheril melorotkan tubuhnya di tanah, ia menangis tersedu sambil membekap wajahnya.


Wajah Nino yang tadi merah padam kini berangsur sendu, tubuhnya membeku mendengar tuturan wanita itu. Ia merasa sangat bersalah.


"Nona, tenanglah. Dengarkan penjelasan ku dahulu. Bukannya kami ingin melecehkan kamu, tapi keadaan yang memaksa aku melakukan semua itu,"


"Nino, apa yang terjadi!" Tiba-tiba suara berat itu menghampiri Sheril dan Nino. Matanya langsung tertuju pada wanita yang bersimpuh di tanah.


Sementara Sheril masih menangis dengan menundukkan wajahnya.


Nino diam saja, sementara pria itu menatap wajah Nino yang sudah terlukis membentuk lima buah jari di sana.


"Apakah kamu menyakitinya?" ujar pria itu.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa, dialah yang sudah menampar wajah ku," ujar Nino sambil mengelus pipinya yang masih memanas akibat tamparan Sheril yang terlalu keras.


Lelaki itu langsung memegang pundak Sheril. "Nona, bangunlah," ujar pria itu membantu Sheril untuk berdiri, ia tidak lain adalah Alzian.


Sheril menatap pria yang sudah membantunya berdiri itu. Tapi alangkah terkejutnya Sheril saat melihat wajah yang selalu ada di dalam ingatannya itu, wajah yang sangat di bencinya.


Sheril langsung melangkah mundur. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mengepal erat di bawah sana.


"K-kau ... " ujar Sheril menatap pria itu dengan bibir bergetar.


"Aku bisa jelasin semuanya, k-kamu tenang dulu," ujar Zian seraya menatap Sheril dengan terkesima. Gadis ini benar-benar cantik natural. Hatinya bergetar saat menatap Sheril. Entah perasaan apa itu. Ia melangkah kakinya ingin mendekati Sheril.


"Stop ... jangan melangkahkan kakimu lagi, aku jijik melihat wajahmu!" Tukas Sheril yang langsung membuang mukanya kesamping.


Zian langsung membeku. "Nona, aku bersalah padamu, aku minta maaf atas kejadian itu,"


Sheril langsung menatap Zian dengan mata yang tajam. "Maaf kau bilang! Setelah melakukan perbuatan yang keji itu!"


Sheril tidak dapat membendung emosinya lagi. Ia menghapus jejak air matanya dengan kasar, lalu mengangkat tanganya keatas.


Plak ....


Sheril melayangkan tangannya seperti yang ia lakukan pada Nino pagi tadi.


Wajah Zian langsung miring kesamping akibat tamparan Sheril yang cukup keras. Zian langsung menatap Sheril dengan menyipitkan kedua matanya. Baru kali ini ada perempuan yang berani menampar wajahnya.


Nino yang menyaksikan itu langsung bergidik ngeri. Ia ketakutan akan apa yang Zian lakukan.


"Itu belum sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku, kalian berdua sama saja! Dengan mudahnya mengatakan kata maaf, maaf dan maaf! Apa kalian bisa mengembalikan hidupku seperti semula, apa kalian bisa!" Teriak Sheril sambil meneteskan air matanya. Ia tidak takut dengan apa yang akan di lakukan kedua pria yang tidak di kenalnya itu.


"Nona, turunkan suaramu, apa kamu tidak tau dengan siapa kamu bicara?" Ujar Nino, Nino takut Zian akan melakukan yang tidak diinginkan pada perempuan itu.


"Aku tidak peduli dengan siapa aku bicara! Kalian sudah menghancurkan masa depan ku, kalian penjahat, kalian b******n! Kalian tau! B*****n seperti kalian tidak pantas untuk di maafkan!" Tukas Sheril dengan keras


"Nona! Tutup mulut mu itu, kau tidak pantas berkata seperti itu pada ku!" Bentak Zian dengan muka yang beringas. Zian masih menahan emosinya.


"Tidak pantas? Lalu kata apa yang pantas untuk mu setelah kau menghancurkan masa depanku Tuan!" Tukas Sheril tanpa gentar, ia tidak takut sama sekali dengan tatapan Zian yang mematikan itu.


"Kau sangat menguji kesabaran ku, Nona!" Ujar Zian menarik kedua alisnya keatas. Kedua tangannya memeluk dada bidangnya.


Sheril menatap Zian penuh dengan kebencian. Ia mengingat kalau dia sedang mengandung benih dari laki-laki ini. Mata Sheril


"Aku sangat membencimu," ucap Sheril dengan berani.


"Aku juga sangat membenci sikap mu, Nona," timpal Zian dengan cepat.


Sheril langsung mencengkram kerah baju Zian dengan kencang, hingga beberapa kancing baju Zian terlepas.


"Kau laki-laki biadab, kau pantas mendapat kan ini!"

__ADS_1


Plak ....


Ketika Sheril ingin melayangkan tanganya untuk yang ketiga kalinya. Zian langsung menangkap tangan Sheril, dan melipatnya kebelakang hingga Sheril meringis kesakitan. Posisi Zian membekap tubuh Sheril.


Nino hanya terpaku melihat interaksi keduanya. Ia benar-benar menjadi penonton saat ini.


"Aku akui kau sangat berani melayangkan tangan mu padaku! Apa kau cukup kuat melawanku," Ujar Zian berbisik di telinga Sheril.


"Lepaskan tanganku!"


Sheril mencoba meronta. Ia berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman pria itu.


"Apakah perempuan seperti mu bisa melawanku," ucap Zian lagi.


"Kau hanya berani dengan perempuan saja, lepaskan aku b******k!" Teriak Sheril.


Zian terkekeh melihat Sheril yang berusaha melepaskan dirinya. Sheril memukul dada bidang Zian dengan tangannya kirinya, karena tangan kananya di lipat Zian kebelakang. Anehnya bukanya Zian yang merasa kesakitan di pukul, malah tangan Sheril lah yang sakit.


"Laki-laki ini sangat kuat sekali, mungkin tubuhnya terbuat dari besi," gumam Sheril dalam hatinya. Ia mencari cara agar ia terlepas dari laki-laki besi itu. Sheril langsung melancarkan aksinya dengan menggigit tangan pria itu, otomatis Zian langsung melepaskan cengkraman tangannya.


Au ....


Zian meringis kesakitan.


Sementara Sheril langsung pergi dengan langkah seribu.


"Simba! Cepat tangkap dia!" Ujar Zian geram.


Simba langsung bereaksi, ia segera turun dari dalam mobil yang sejak tadi mengawasi keadaan. Ia langsung menangkap Sheril.


Sheril langsung terkejut dengan apa yang di lakukan pria itu, ia langsung meronta ingin melepaskan dirinya dari pria itu.


"Siapa kau! Lepaskan saya, saya ingin pulang!" Teriak Sheril.


Dua orang lagi keluar dari mobil yang di bawa Simba, ia ikut membantu membawa Sheril masuk kedalam mobil. Sheril sangat ketakutan wajahnya memucat, bibirnya bergetar, sementara tubuhnya melemah.


Sheril hanya bisa menangis. Ia pasrah, ingin meronta percuma saja, ia tidak akan bisa lolos dari ketiga laki-laki itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Keseruan sudah di mulai. ayo ikuti terus ceritanya dengan tap β€οΈπŸ’•πŸ’• agar kalian tidak ketinggalan dengan update terbaru nya.


jangan lupa dukungannya dengan cara vote dan like, agar author semakin semangat untuk meneruskan karya ini.


yuk komen agar author update lagi.


πŸ’•voteβœ…


πŸ’•likeβœ…

__ADS_1


πŸ’• GIF βœ…


πŸ’•komenβœ…


__ADS_2