Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
sabun mandi


__ADS_3

Sheril menangkap wajah lelah suaminya.


"Tidurlah aku akan memelukmu sepanjang malam," ucap Zian membuat Sheril memejamkan matanya.


Zian kembali mencium kening istrinya, ia sangat menyayangi Sheril meski ia memiliki Ririn, setidaknya istri ke-duanya tidak membuatnya pusing, hanya melihat Sheril seakan melenyapkan semua masalahnya.


Zian membelai rambut istrinya, kemudian ikut memejamkan mata, tidak begitu lama ia pun terlelap.


Merasa suaminya tidak bergerak lagi, hanya terdengar dengkuran halus dari suaminya, Sheril yang pura-pura tidur kembali membuka matanya, menatap suami yang sudah terlelap.


Sheril memperhatikan wajah suaminya, hidung mancung beralis tebal dengan bibir tipis sedikit memerah, ada bulu-bulu seperti jarum di dagunya yang mulai memanjang, Sheril terus memperhatikan wajah tampan itu. Perlahan-lahan Sheril sudah jatuh cinta pada pria yang terlelap di sampingnya.


"Ya tuhan, kenapa setiap aku memikirkan ingin pergi darinya, dadaku sakit. Tapi sampai kapan aku akan bersembunyi di balik layar seperti ini, istrinya akan lebih sakit jika ia mengetahuinya, dan bocah itu akan menjadi korban. Tidak .., tidak, aku tidak ingin menjadi duri dalam rumah tangga mereka," Sheril meremas dadanya yang berasa sesak, setetes kristal menetes jatuh di pelupuk matanya. Ia kembali memperhatikan wajah lelah suaminya. Ia ingin pergi sekarang juga, namun niatnya di urungkannya.


"Setidaknya menunggu sampai anak ini melihat dunia, maka aku akan membawanya pergi jauh. Tapi .., " ia menutup pikirannya seperti itu dengan pikiran yang baru muncul di otaknya.


"Bagaimana jika Zian tidak mengizinkan aku membawanya, atau mungkin Zian memang hanya menginginkan anak ini saja, tapi tidak menginginkan aku,ibunya."

__ADS_1


Sheril meremas rambutnya dengan erat.


"Tidak, aku tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan anak ku, meski aku belum melihat wajahnya, aku sangat mengharapkannya," Sheril meraba perutnya yang membuncit separuh. Lima bulan lagi ia akan lahiran. Ia belum juga bisa memejamkan matanya, tubuhnya gelisah merubah posisi kekanakan dan ke-kiri membuat Zian terbangun meski masih memejamkan matanya, tangannya memeluk pinggang Sheril.


"Sayang, jangan tinggalkan aku ya," tiba-tiba Zian berkata serak membuat Sheril menoleh dan berbalik menghadap suaminya.


"Apakah dia sedang bermimpi," gumam Sheril tapi di dengar jelas oleh Zian.


Zian mengeratkan pelukannya, membuat Sheril tanpa cela. "Aku sangat mencintai kalian, jangan pergi dariku," ucap Zian kembali, ia tau istrinya belum tidur dan memikirkan sesuatu. Tentu saja membuat Sheril bingung, karena Sheril pikir Zian sedang mengigau. Apakah ucapan Zian itu untuk dirinya, atau untuk anak dan istrinya yang di sana.


Tangan Sheril juga merespon memegang telapak tangan suaminya, merasakan jari kuku suaminya juga sudah memanjang, Sheril memperhatikannya.


"Apa dia sengaja memanjangkan kukunya? Atau memang ia tidak sempat membersihkannya?" Pikir Sheril. Zian tetap terdiam tanpa bersuara, tidak juga ingin membuka matanya, ia ingin melihat reaksi Sheril, tubuhnya merasa gerah dan panas meskipun memakai AC.


Zian mendekatkan wajahnya, dan semakin dekat hingga sudah menempel di pipi Sheril. Sheril berusaha menghindar, namun tangan Zian memegang belakang kepalanya, hingga ia tidak bisa mengelak. Bibir suaminya menempel tepat di pipinya, Sheril merasa bergetar, berharap Zian melakukan lebih dari itu.


"Aduh bagaimana ini, aku tidak bisa menahan diriku, jika aku melakukannya, Sheril akan melihat tanda merah di dadanya, tentu saja perasaannya ngk enak," pikir Zian, ia ingin menjaga perasaan Sheril, walaupun bagaimana perasaan perempuan itu pasti sama.

__ADS_1


Detak jantung Zian memacu dengan cepat, sesuatu yang menjadi kebanggaannya sudah meronta ingin keluar dari sangkarnya. Zian tidak tahan, akhirnya ia bangun tanpa melirik Sheril, Sheril pun langsung memejamkan matanya, ia tidak ingin Zian mengetahui jika ia belum tidur, pikir Sheril, padahal dari tadi Zian sudah bangun.


Zian berjalan menuju bathroom. Hanya sabun mandi yang bisa menolongnya malam ini. Setelah menuntaskannya dengan sabun mandi, Zian segera keluar dan melirik Sheril yang masih berbaring seperti tadi. Zian duduk di sofa sambil menyalakan Televisi, lalu ia keluar kamar ingin menuju dapur.


Sheril membuka matanya, mendengar pintu kamar di buka, ia menatap Zian yang keluar dari kamar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang baru saja menyala. Sheril menghembuskan napas kasarnya, ia kecewa karena suaminya tidak bergeming, namun ia pun tidak akan pernah jujur dengan suaminya.


Zian kembali ke kamar membawa cangkir yang terlihat kepulan asap yang keluar dari cangkir marmer itu. Berarti Zian membuat teh ataupun kopi mungkin.


Sementara Sheril tidak bisa membohongi dirinya, ia kecewa dengan sikap Zian, kenapa ia tidak ingin melakukannya.


"Sudahlah aku tidak ingin terlalu berharap," Sheril memejamkan matanya, karena ia merasa sudah mengantuk. Sementara Zian masih duduk di sofa, nonton sambil minum kopi.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


author sangat berharap dukungan dari kalian, tekan like setelah membaca, jangan lupa vote dan komen ya.


kasi semangat buat author dong.

__ADS_1


__ADS_2