
Di kamar
Sheril sudah mandi dan wangi, Aura juga sudah mandi bersamanya, tinggal menunggu Zian mengambilnya baju untuk bocah itu.
Serena yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Zian membawa baju Aura keluar dari pintu kamar putrinya.
"Zian ..., itu."
"Ini baju Aura, Ma. Dia sudah mandi bersama Sheril."
Serena menatap datar. Mandi bersama Sheril?
Sekilas Serena suka mendengarnya, meski dia belum bisa menerimanya sebagai menantu di keluarga ini, tetapi dia juga tidak berprilaku buruk terhadapnya.
Sheril mengganti baju Aura, menyisir rambutnya yang yang halus, serta memberinya sedikit bedak tabur khusus baby. Walupun dia sudah dewasa dan sebentar lagi akan memiliki anak, dia juga tidak pernah meninggalkan bedak baby untuk perlengkapan hiasannya.
"Eh ..., sudah cantik aja, wangi lagi." Sheril menatap bocah itu dengan tersenyum. Aura juga membalasnya dengan senyuman malu-malu. Zian menoleh dan ikut tersenyum, lalu menghampiri mereka, ikut duduk di lantai yang beralas karpet.
"Ih anak Papa sudah cantik dan wangi. Mandi sama siapa tadi?" Zian bertanya dengan menaikkan kedua alisnya, menunggu jawaban bocah itu, lalu mendongakkan kepalanya melirik Sheril, tangannya yang kecil menunjukkan kearah Sheril.
"Sama mama!"
Mama?
Sheril terkejut, ada rasa suka di hati kecilnya. Zian dan Sheril saling pandang. Kemudian dia tersenyum, memeluk Aura dan mencium keningnya. "Mas, apakah kamu mengizinkan Aura memanggil ku ...."
"Kenapa tidak. Bahkan aku sangat menginginkan kamu lah yang akan menjadi mamanya. Jika kamu tidak keberatan, perhatikan dia seperti anak mu sendiri." Mengatakan itu hati Zian terasa teriris, sakit mengingat putrinya tidak mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari ibunya.
Sheril menghela napas. Dia mengerti perasaan Zian. Matanya berkaca-kaca.
"Aku sangat senang dia memanggilku Mama. Tapi aku hanya seperti sedang merebut posisi mamanya dia, aku seperti wanita jahat yang merampas kebahagiaan ...."
Zian membekap mulutnya Sheril. Tidak ingin mendengar kata-kata itu selanjutnya.
__ADS_1
"Berhentilah berkata seperti itu, jangan menyalahkan diri sendiri, ini bukan sepenuhnya salah kamu. Setelah pulang dari luar negeri nanti, aku akan mengurus semuanya. Kamu jangan khwatir."
Mengurus semuanya? Sheril bertanya apa maksud nya. Tapi Zian tidak ingin memberi tahunya. Cukup dia yang akan menyelesaikan permasalahannya. Jika Sheril tau, maka akan menjadi beban pikirannya. Dia tidak ingin Sheril memikirkan itu.
Sheril mengangguk. Tidak ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya, yang jelas dia juga senang merawat dan memberikan memperhatikannya sama anak kecil ini.
Pepatah mengatakan, sekejam-kejamnya ibu kandung, namun lebih kejam seorang ibu tiri.
Sebaik-baik ibu tiri, mereka tetaplah ibu tiri yang tidak akan pernah bisa menggantikan ibu kandungnya.
"Papa, Mama ...." Bocah itu berdiri dan berjalan ke arah mereka, duduk di antara Sheril dan Zian. Tangannya yang kecil merangkul leher Zian dan Sheril, lalu mencium pipi keduanya secara bergantian.
Sheril dan Zian terpaku, mereka saling tatap, kemudian saling lempar sebuah senyuman yang tipis.
"Lihatlah, dia menyukai mu."
"Aku suka dia seperti ini," Sheril membalas ciuman Aura.
Lalu Zian juga mendekati wajahnya, bahkan hampir tak berjarak.
Sheril menatapnya malu. Pipinya yang putih memerah seperti tomat.
"Sudah tua, ngk perlu di sayang."
Mendengar kata tua, Zian tidak terima.
"Masih muda dan tampan seperti ini kamu bilang tua? Banyak wanita yang antri di luar sana, menunggu ku untuk ...."
"Ya sudah, cari saja yang di luar sana, walaupun memang benar, aku juga tidak bakal tau."
Sheril bangkit dan berjalan menuju meja rias. Wajahnya cemberut.
Ada apa dengan dirinya?
__ADS_1
Zian bangkit dan menghampiri Sheril di meja rias. Lalu merangkul pinggang Sheril dari belakang, serta mengelus perutnya yang membuncit. Zian mencium pipinya.
"Aku mencintaimu, bagaimana bisa aku mencari wanita lain di luar sana." Zian bicara setengah berbisik, membuat bulu kuduk Sheril merinding. Zian menyusuri leher istrinya, memberi sentuhan halus. Sesaat Sheril menikmatinya, membiarkan Zian menyapu lehernya, menerima setiap ciuman yang semakin dalam. Zian semakin memburu, detak jantungnya naik turun dengan cepat.
Sheril tersadar ada anak kecil di sini, meski dia tidak tau apa-apa, tapi dia takut Zian tidak bisa menahan keinginannya. Dan itu tidak mungkin di lakukan di depan seorang anak.
Dengan pelan, Sheril mendorong tubuh Zian. Zian terkejut dan wajahnya tampak kecewa.
"Ada Aura di sini, walaupun dia anak kecil yang belum tau apa-apa, kita harus menghargai dia."
Zian terdiam sesaat, mengatur napasnya kembali yang tadi sempat tidak beraturan.
"Terimakasih, kamu sudah menyadarkan aku. Zian kembali memeluknya sebentar, kemudian melepaskannya, melirik Aura yang berdiri menatapnya. Zian tersenyum lalu mengangkat tubuh kecilnya itu keatas, Aura tertawa dengan riang. Zian membuat tubuh Aura seakan melayang ke udara, seperti pesawat yang terbang di angkasa. Sheril merasa cemas.
"Mas, nanti jatuh, turunkan dia!"
Zian menurunkan Aura. Tiba-tiba suara pintu di ketuk dari luar. Zian segera membukanya.
"Makan malam sudah siap Tuan, Nyonya sudah menunggu kalian di bawah."
"Baiklah, sebentar lagi kami akan turun."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Author sudah update ya
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
__ADS_1
komen jika ada kritik dan saran☑️
dan jangan lupa follow akun author