
Zian menyudahi renangnya. Ia duduk di pinggir kolam sambil memainkan air dengan kedua kakinya. Rutinitas Zian setiap pagi adalah renang, kalu tidak, ia lari pagi. Itulah yang ia lakukan saat hari libur.
Zian mengusap sisa air di wajahnya, dan pada saat itu juga ia melihat pakaian yang ia letakkan di atas kursi itu sudah tidak ada lagi. Zian langsung berdiri.
"Aku tidak mungkin salah meletakkan pakaian dan handukku di sini. Pasti ada yang sengaja mengerjai ku," ucap Zian dengan geram, tangannya terkepal erat di dana.
"Bibi!" Teriak Zian dari bawah sana. Bibi Arum tentu saja tidak akan mendengarnya. Tapi Sheril lah yang mendengarnya dengan jelas. Sheril langsung memiringkan bibirnya setelah mendengar teriakkan laki-laki itu.
Ia langsung beranjak dari tempat duduknya melangkah menuju tempatnya bersembunyi barusan.
Sheril berdiri di atas sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apakah kamu mencari ini!" Teriak Sheril dari atas sambil menjejerkan pakaian dan handuk Zian keatas. Ia tersenyum menyerigai menatap Zian dari atas.
"Hei ...! Kembalikan pakaian ku, perempuan pencuri! Dasar perempuan pengintai!"
"Ini pelajaran buat kamu! ambil ini!" Teriak Sheril sambil melemparkan pakaian itu kedalam kolam renang.
"Perempuan kurang ajar! Awas saja kamu! Aku akan membalasmu!" Ujar Zian dengan geram, matanya menyala seperti bara api.
Sementara Sheril tertawa terbahak-bahak di atas sana. Zia kembali berenang mengambil pakaiannya yang di lemparkan Sheri.
Sheril langsung pergi meninggalkan taman, ia kembali menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam. Sheril tersenyum puas, Karena ia sudah mengerjai laki-laki brengsek menurutnya itu.
"Brengsek perempuan itu, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!" Tukas Zian. Ia mengenakan handuk yang basah seraya naik keatas. Ia benar-benar emosi dengan perempuan itu.
"Bibi!" Teriak Zian dari taman belakang
Bibi Arum kaget mendengar teriakan majikannya yang tidak seperti biasanya. Iapun segera berlari ke taman belakang.
"Ada apa Tuan?" Tanya bibi tergopoh-gopoh.
"Lihat handukku, pakaian ku, semua basah akibat ulah Nona cantik bibi itu!" Ujar Zian dengan suara geramnya.
"Bagaimana bisa Tuan," ujar bibi Anum.
"Perempuan itu diam-diam mencuri pakaian ku, Bi, dan dia melemparkannya kedalam kolam," tukas Zian.
Bibi Anum menahan tawanya.
"Ternyata Nona cantik suka iseng juga," dalam hatinya bibi, ia langsung menundukkan kepalanya, ia takut majikannya mengetahui bahwa ia menertawakannya.
"Baiklah Tuan, saya akan mengambilkan handuk baru untuk Tuan," ujar bibi Arum, ia segera mengambil handuk untuk Zian.
Bibi Arum tidak bisa menahan tawanya lagi, ia terkekeh saat mengambil handuk. Bibi Arum merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh Nona cantiknya.
"Ini handuknya Tuan," ujar bibi Arum menyodorkan handuk pada Zian.
__ADS_1
"Bikin kopi untuk ku, Bi, sekalian ambilkan pakaian ku, dan ini bawa," ujar Zian meletakkan pakaian basahnya di tangan bibi Arum.
"Baik tuan,"
"Dan satu lagi," ujar Zian menghentikan langkah bibi Arum.
"Iya Tuan," bibi Arum membalikkan badannya menghadap Zian, seraya membungkukkan badannya.
"Suruh Nona cantik bibi itu menemui saya di sini," tukas Zian dengan suara dinginnya.
Bibi Arum ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu dan akhirnya ia memberanikan dirinya untuk mengatakan sesuatu.
"Maaf Tuan, untuk apa Tuan memanggil Nona cantik?" Ujar bibi Arum memberanikan dirinya.
"Sejak kapan bibi ingin mengetahui apa yang ingin saya lakukan," ucap Zian lebih dingin lagi.
"Maafkan saya Tuan," ujar bibi berlalu pergi. Ia mengambil pakaian Zian didalam lemari. Ia ragu-ragu untuk memanggil Nona cantiknya, ia takut Zian akan memarahinya.
Tok-tok-tok ....
"Non! di panggil tuan di taman belakang!" ujar bibi Arum dari luar.
"Iya, Bi, sebentar lagi aku kesana!" Ujar Sheril dari dalam.
"Tuan, berarti pemilik villa ini memanggil ku, ada apa ya, dan seperti apa majikan bibi Arum itu? Apakah dia orang yang baik?" ujar Sheril dengan dirinya sendiri. Sheril pun merasa penasaran dengan pemilik villa yang bibi Arum katakan tempo hari. Sheril berharap kalu pemilik villa ini akan mengizinkannya pulang, itulah harapan Sheril.
"Nona cantik, jangan lari-lari seperti itu, kalu kamu jatuh bagaimana?" Ujar bibi Arum khwatir.
"Iya, Bi," ucap Sheril dengan senyumannya.
"Ini anak senang sekali, mungkin dia memang anak yang periang," pikir bibi Arum.
"Bibi mau kemana? Dan untuk siapa kopi itu?" Tanya Sheril saat menoleh bibi Arum juga mengiringi langkahnya dengan membawa secangkir kopi panas.
"Ini kopi buat Tuan, Non," ujar bibi Arum.
"Kalau begitu biar Sheril saja yang bawa, Bi," ujar Sheril sambil mengambil nampan dari tangan bibi Arum.
"Tapi, Non ... "
"Sudah. Bibi ngk usah khwatir, Sheril bisa kok, Bi," ujar Sheril memotong kalimat bibi Arum. Sheril tidak tau kalau yang dimaksud bibi Arum Tuan itu adalah laki-laki yang di bencinya. Laki-laki yang sudah di kerjainnya barusan.
Sheril langsung pergi ke taman belakang dan meletakkan cangkir kopi di atas meja. Tapi ia tidak mendapati Tuan yang bibi maksud.
Sheril celingukan mencari sosok Tuan itu. Tapi yang muncul malah pria bear ini.
Zian menatap Sheril dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Nona cantik? Cantik apanya, dandanan aja berantakan seperti ini," gumam Zian dalam hatinya. Ia memandang sinis kearah Sheril.
"Hei Bear! Kenapa menatapku seperti itu! Apakah kau tidak pernah melihat perempuan disini?" ujar Sheril dengan keberaniannya.
"Beraninya kamu mengatai ku bear! Siapa dirimu disini ha," ujar Zian sinis.
Sheril sama sekali tidak takut, ia juga tersenyum sinis menatap tatapan Zian yang mematikan itu.
"Emangnya kamu siapa! Aku tidak takut padamu!" Ujar Sheril menantang Zian.
"Perempuan pencuri ini benar-benar membuatku emosi, kau sudah membuat pakaian ku basah, sekarang rasakan akibatnya,"
Zian langsung mencengkram tengkuk Sheril, hingga kepalanya mendongak keatas. Zian menatap Sheril dengan geram hingga mata mereka saling bertemu. Napas Zian mengenai wajah Sheril hingga ia merasakan hembusan napas segar dari Zian karena ia baru saja membersihkan dirinya. Wangi tubuh Zian sangat tercium oleh Sheril. Sheril memejamkan matanya sambil meringis menahan sakitnya.
"Nona cantik, dia memang lumayan cantik," gumam hati Zian.
Lalu mata Zian beralih ke bibir seksi Sheril. Ia menelan saliva nya.
"Sial, ada apa dengan ku,"
Zian langsung melepaskan cengkeramannya hingga membuat Sheril hampir saja tersungkur di rerumputan taman itu.
Zian meninggalkan Sheril, kemudian ia menyeruput kopi yang tadi Sheril letakkan di atas meja.
"Hei Bear! Itu kopi buat Tuan pemilik villa ini bukan buat kamu!" Tukas Sheril sambil menghampiri Zian.
Zian menyunggingkan senyum sinis nya. "Akulah pemilik villa ini, dasar pencuri!"
"Kau ... "
"Kenapa? Kau tidak percaya? Kau takut?" Ujar Zian memotong kalimat Sheril.
"Dasar laki-laki tidak punya hati! Beraninya sama perempuan saja," ucap Sheril dengan geram.
"Kalau kamu memiliki laki-laki, atau bapak kamu, paman kamu, bawa kesini, aku akan menghajarnya," ujar Zian membuat Sheril langsung terdiam. Hati Sheril langsung terhenyak. Matanya berkaca-kaca hendak menangis.
"Kenapa diam, kau tidak memiliki pacar? Atau keluarga laki-laki, ayah mu, atau ... "
Zian menghentikan ucapannya saat melihat perempuan pencuri itu sudah menangis.
Sheril tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia menyadari kalau ucapan laki-laki itu benar.
Sheril langsung berlari meninggalkan Zian yang terpaku menatapnya.
Zian ingin mengejarnya, tapi seketika niatnya langsung di urungkannya. Zian mencengkram pinggiran bangku di hadapannya. Entah mengapa perasaannya tidak tentu. Akhirnya Zian juga meninggalkan taman itu dan pergi dengan mobil mewahnya.
ayo vote dong. jangan diam diam aja setelah membaca, di wajibkan like ya.
__ADS_1
yuk komen agar author update lagi