
"Ririn ..! "
Zian tertegun di tengah pintu yang tidak tertutup itu, menatap Ririn yang mengobrak abrik kamarnya.
"Zian .... "
Mata Ririn melotot, menatap Zian tidak berkedip.
"Mana perempuan j*****g itu!" Sambung Ririn sambil mendekat kearah Zian suaminya.
"Ririn, tenanglah, kenapa kamu ada di sini, dan apa yang kamu lakukan?" ucap Zian tenang.
Ririn memicingkan matanya, menata Zian yang sangat tenang.
"Tenang? Apa yang aku lakukan?" ucapannya, menatap Zian dengan wajah yang merah padam.
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Ririn menantang mata Zian.
"I... iya maksud ku, tenang dulu, kita bisa bicara baik-baik,"
"Kamu kira aku bisa baik-baik saja ha! setelah penghianat kamu!"
"Mana perempuan itu, aku ingin melihat wajahnya! secantik apa dia, hingga kamu tergoda dengannya!" Ririn mencengkram kerah kemeja Zian dengan erat.
"Ririn, dengarkan aku, kamu tidak akan tau yang sebenarnya, jika dalam keadaan emosi begini, jadi tenang lah," bujuk Zian dengan nada datar.
Plak ....
Tangan Ririn menempel di pelipis kanan Zian.
"Bajingan kamu! penghianat ...! mana perempuan itu, seperti apa hubungan mu hingga ia berani tidur dengan mu!" Ririn menatap Zian dengan tatapan jijik. Matanya tajam, setajam belati.
Plak ....
Sekali lagi Zian menerima tamparan dari Ririn yang membabi buta karena emosinya.
Bibi Arum yang menyaksikan itu sangat terkejut dan takut. Takut Zian akan berbuat lebih dari itu pada istrinya, karena sudah berani menampar wajahnya.
Namun Zian sama sekali tidak membalasnya. Bibi Arum menganga di buatnya. Wajah Zian merah padam. Marah namun ia pun merasa bersalah, ia ingin mengatakan ini secara baik-baik, namun Ririn tidak ingin mendengarkannya.
"Penghianat ...! Dasar munafik!" Ririn melempar semua barang yang ada di sana, Zian berusaha menenangkan, namun ia mendapatkan tendangan kaki Ririn.
Dalam keadaan begini, pikiran Zian tidak tenang, ia memikirkan Sheril. Bagaimana jika dalam keadaan begini Sheril datang? Zian sangat menghawatirkan Sheril, apalagi ia dalam keadaan hamil.
"Bibi ..., " panggil Zian.
"Iya Tuan, baik,"
Bibi Arum tau apa maksud Zian memanggil namanya. Ia langsung keluar dan ingin menelpon Sheril.
Namum, tiba-tiba Sheril datang lebih cepat, sebelum telpon terhubung. Sheril sudah di depan pintu. Ia tertegun, matanya menatap apa yang terjadi.
Ririn yang melihat itu, langsung menghampiri Sheril dengan wajah yang gelap. Ia berpikir, inilah perempuan itu. Sheril melangkah mundur, tubuhnya bergetar, bibirnya sedikit terbuka.
Suasana mencengkeram.
__ADS_1
"Kau ...."
Ririn menatap Sheril dengan mata tajamnya. berhenti di perut Sheril yang membesar. Zian langsung mendekati mereka berdua. Ia berusaha melindungi Sheril dari amukan Ririn. Walaupun bagaimana Sheril lagi hamil, ia tidak akan mampu melawan Ririn yang seperti itu.
Ririn gelap mata, tubuhnya gemetar, ia mengeraskan rahangnya. Bibirnya melengkung keatas.
"Rupanya kamu lebih melindungi l****e ini," ucap Ririn mengerikan.
"Perempuan j*****g, m*****n! Beraninya kamu menggoda suami ku!"
Plak ....
Pukulan keras mendarat di pipi Sheril, sama seperti Zian barusan, mereka mendapatkan hadiah yang sama dari Ririn. Rasa perih dan sakit yang Sheril rasakan, cairan bening itu sudah lolos di pelupuk matanya.
"Ririn! apa yang kamu lakukan!" teriak Zian dengan keras. Ia memeluk kepala Sheril, namun Sheril menghindarinya.
Ririn tertawa seperti iblis.
"Oh ..., rupanya kamu sudah termakan rayuan maut j*****g ini?" ucap Ririn sinis.
"Ririn!" Sentak Zian.
"Diam kamu!" ancam Ririn sambil mengacungkan telunjuknya. Ia kembali menatap wajah Sheril dengan jijik.
"Menangis?"
Ririn meludah sinis dan mengejek, sambil menatap Sheril dari ujung rambut sampai di perut Sheril yang membuncit.
Ia tersenyum kecut, mata tajamnya menembus hati Sheril.
"Rupanya kau masih bisa menangis? bagaimana rasanya? sakit? Apakah sama seperti rasa sakit di hianati?"
"Mendengarkan mu? Hahahhaha .... Dasar p*****r, yang suka mengganggu rumah tangga orang,"
"Cukup! Mbk, aku tidak seperti yang kamu kira, aku bisa jelaskan seperti apa yang sebenarnya,"
Tawa Ririn menggelegar.
Ririn ingin menamparnya lagi, dengan cepat Zian mencengkeram tangan Ririn,
"Lepaskan aku Zian! jangan halangi aku, kalian sama-sama bajingan!"
Ririn memberontak, melepaskan diri dari cengkeraman Zian. Terlepas dari Zian, Ririn langsung mencekik leher Sheril hingga ia terbatuk-batuk. Zian yang melihat itu, langsung melerai dan mendorong tubuh Ririn. Ia memeluk Sheril dan melindunginya dari serangan Ririn.
Ririn tersungkur, tapi dengan cepat ia bangkit dan menghampiri Zian yang memeluk Sheril.
Emosinya semakin meluap, apalagi menyaksikan suaminya melindungi dan membela wanita lain, yang bukan dirinya.
Ririn mencengkram kemeja Zian dari belakang, hingga kemejanya robek. Sheril terlepas dari pelukannya.
Bibi Arum segera ingin membawa Sheril pergi dari kamar itu, namun Ririn lebih cepat menarik Sheril dan mendorong bibi Arum keluar. Ia mengunci kamar dengan cepat, dan memasukkan kunci pintu kedalam saku celananya.
Melihat itu, Zian memicingkan matanya. menatap Ririn yang berdiri mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu menutup dan mengunci pintu?" Tanya Zian.
__ADS_1
"Aku mau memberikan pelajaran kepada perempuan m*****n ini,"
Ririn segera melancarkan aksinya, menarik Sheril dan mendorongnya kelantai, setelah itu ia ingin menginjak bayi Sheril yang masih dalam perutnya. Sheril meringis.
"Ririn hentikan ...! "
Zian langsung melangkah dengan cepat, dan mendorong tubuh Ririn dengan keras, hingga ia tersungkur ke lantai.
"Kau sudah gila, apakah kamu ingin membunuh bayinya? dia lagi hamil! kenapa kau kasar sekali!"
Zian membantu Sheril duduk, menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Apa peduliku! hamil anak haram, hasil dari penghianatan!"
Zian menatap Ririn dengan geram, matanya memerah, ia tidak suka ada yang mengatakan anaknya Sheril itu anak haram. Tidak ada bayi haram.
"Jaga bicara mu Ririn! kamu jangan keterlaluan," tukas Zian menatap tajam manik mata Ririn. Ririn tidak mau kalah, ia pun lebih dalam dan sinis menatap Zian, mereka seperti harimau yang saling bermusuhan.
"Kamu yang keterlaluan, beraninya kamu membela perempuan p*****r ini!"
"Ririn! stop! atau aku akan merobek mulutmu itu, pergi kamu dari sini!"
Ririn tersenyum kecut.
"Robek saja Zian, aku tidak takut! Demi perempuan j*****g itu kau mengusir ku?"
Plak ...
Zian melayangkan tangannya. Ririn terkejut, sambil memegangi pipinya yang panas. Sejauh pernikahannya, Zian belum pernah menampar wajahnya, tapi, demi membela perempuan ini, Zian sudah melukai hatinya, bahkan menghancurkan perasaannya. Ia tidak percaya dengan kata lembut dan manis, yang selama ini Zian katakan.
"Kau ...,"
"Kamu pantas mendapatkannya, kamu sudah keterlaluan, kamu kira aku tidak bisa melakukan apa pun! Sekarang pulanglah, kita selesaikan di rumah," ucap Zian dengan suara yang dingin.
Ririn menangis, hatinya seperti tercabik-cabik. Perasaannya hancur. Zian yang ia kira melakukan apa pun demi dia, ternyata lebih membela perempuan lain dari padanya.
Sheril yang mendengar itu, berdiri, menghampiri keduanya. Ia tau perasaan sesama wanita.
"Aku lah yang akan pergi dari sini, aku tidak ingin merusak rumah tangga kalian," Sheril menatap Ririn. Sementara Zian membulatkan matanya menatap Sheril yang tidak ingin menatap wajahnya.
"Tapi ingat satu hal MBK, aku bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan,"
"Apa ada seorang P*****r bicara sok suci begini!" Ririn tersenyum sinis, tapi tidak berusaha menyakiti perempuan itu lagi. baginya percuma, karena Zian tidak akan membiarkannya.
Sheril menatap pintu yang terkunci. "Buka pintunya, biarkan aku keluar dari neraka ini," ucap Sheril dengan raut wajah yang tegar, meski hatinya berasa nyeri. Mungkin tidak sesakit hatinya Ririn.
Zian menatap wajah Sheril dengan tajam.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini," ucapan Zian, membuat Sheril menoleh dan menatapnya, begitupun dengan Ririn, ia menatap Zian dengan penuh kebencian.
.
.
.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya?
ikuti terus cerita serunya, jangan lupa tap love, dan komentar yang bijak ya. selamat membaca.