Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Orang yang sama


__ADS_3

Zian melajukan mobilnya mengelilingi kota S. Setelah beberapa jam lamanya ia memutar setir mobilnya, ia berpikir kalau lebih baik ia ke villa saja. Ia akan melihat perempuan yang menjadi tawanannya menderita di sana.


Zian langsung menancap gas menuju villa yang lumayan jauh dari kota. Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dengan waktu satu jam setengah, akhirnya Zian tiba di villa.


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Zian melangkah memasuki villa dengan langkah seperti orang sombong pada umumnya. Karismanya memancarkan pesona Pria dewasa yang tampan dan angkuh. Dia adalah pria penakluk setiap orang menatapnya.


Zian setengah berlari menaiki anak tangga. Setelah sampai di depan pintu kamar milik pribadinya, para bodyguard yang menjaga ketat kamar itu menyambut Zian dengan hormat. Ia segera membuka kunci pintu kamar itu dan mempersilahkan Zian masuk.


Manik mata Zian langsung tertuju di atas ranjang. Ia mengernyitkan dahinya setelah tidak melihat apa yang ingin dia lihat.


"Kemana perempuan itu!" Ucap Zian dingin, ia mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar. Bodyguard itu tampak ketakutan, ia segera mencari Sheril, barangkali ia ada di dalam kamar mandi, bodyguard itu langsung membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada siapapun di sana. Ia langsung keluar.


"Di kamar mandi tidak ada Bos," ujar bodyguard itu. Zian mendekati jendela kamarnya, ia langsung tertegun saat melihat perempuan itu meringkus tertidur di lantai tepat di bawa tirai jendela.


Zian langsung berjongkok, ia menatap wajah perempuan itu dengan sinis. "Perempuan sial, rasakan akibatnya. Ini belum seberapa dengan apa yang sudah kau lakukan padaku, aku akan menampar wajah mu berkali-kali lipat," Zian menampilkan wajah yang suramnya.


"Nenek, Kakek, Sheril kangen kalian, maafkan Sheril Nenek hiks-hiks-hiks," tiba-tiba Sheril mengigau menyebut kedua orangtuanya yang sudah membesarkannya selama ini.


Zian nampak kaget mendengar ucapan dari perempuan itu.


"Oh, namanya Sheril," ujar Zian menyunggingkan senyumannya. Zian kembali menatap perempuan itu, ia merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Dada Zian langsung bergetar saat menyentuh rambut hitam perempuan itu. Pengelihatan Zian, Sheril sangat manis sekali walaupun keadaannya acak-acakan.


"Tubuhnya dingin sekali," gumam Zian.


"Tono! Angkat dia keatas ranjang!" Titah Zian pada bodyguard yang bernama Tono.


Tono langsung berlari menghampiri Zian. "Baik Tuan," ujar Tono seraya ingin mengangkat tubuh perempuan itu.


Tapi hati kecil Zian seolah meronta, ia tidak ingin ada orang lain menyentuh perempuan itu selain dirinya.


"Minggir!" Ujar Zian mendorong tubuh Tono sampai ia terpental kesamping.


Tono sangat terkejut dengan sikap Zian. "Tapi Bos, katanya tadi suruh angkat dia keatas ranjang," ujar Tono sambil berdiri.

__ADS_1


"Biar saya saja, kau itu sangat lelet sekali!" Ujar Zian menyembunyikan perasaannya.


Zian langsung mengangkat tubuh Sheril ala bridal. Dan membaringkannya dengan hati-hati agar perempuan itu tidak terbangun.


"Kenapa masih berdiri di sana! Cepat keluar dari sini!" Bentak Alzian pada Tono. Tono segera keluar dan menutup pintu kamarnya.


Zian kembali memperhatikan wajah perempuan itu yang sedang tertidur pulas. Entah mengapa hasratnya mulai nakal, apa lagi rok yang Sheril kenakan sedikit terangkat keatas, Zian langsung menelan saliva nya, dengan cepat ia menutupi setengah badan perempuan itu. Napas Zian sudah tidak beraturan lagi. Ia segera keluar dari kamar itu melarikan hasratnya agar tidak terjebak lagi dengan perempuan sialan itu.


"Tono! Cepat kau cari makanan, sepertinya kalian tidak memberikan makanan pada perempuan itu!" Tukas Zian.


"Maaf Tuan, restoran di sekitar sini sudah tutup sejak jam 8 malam tadi, jika Tuan mau, saya bisa memasak untuknya," ujar Tono menundukkan wajahnya.


"Saya tidak menjamin kalau masakan kamu enak," ujar Zian ketus.


Tono tersenyum samar. "Saya berani jamin kalau Tuan akan ketagihan setelah mencicipi masakan ku," ujar Tono membuat Alzian langsung menoleh padanya.


"Terserah kamu saja, tapi awas saja jika tidak sesuai dengan apa yang kamu katakan," ancam Zian.


"Baik Tuan, tunggu saja disini, saya akan membuatnya sebentar," ujar Tono sambil beranjak pergi meninggalkan Zian.


Sementara menunggu masakan Tono, Zian kembali kedalam kamar. Ia memperhatikan kembali wajah gadis itu.


"Apa benar wanita ini mengandung anakku?" Ucap Zian dalam hatinya.


Entah mengapa tiba-tiba Zian ingin sekali mengecup bibir perempuan itu. Zian langsung mencondongkan badanya mengarah ke wajah perempuan itu. Tiba-tiba Sheril merasakan hembusan napas dari seseorang mengenai wajahnya, ia langsung terbangun dan membuka matanya dengan lebar. Ia hendak berteriak, namun


seketika itu juga Alzian langsung membungkam mulut Sheril dengan lembut.


Sheril tidak bisa berkutik, kedua tangannya di pegang erat oleh pria yang sangat di bencinya itu, ia tidak bisa menggerakkan badannya lagi, laki-laki ini sangatlah kuat. Sheril sangat ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.


Sheril berharap ini hanyalah sebuah mimpi.


Zian terus saja menautkan kedua bibirnya, tanpa jeda. Lalu turun ke leher memberikan kismark di sana.


"Apa yang kamu lakukan padaku! Kenapa kamu ada disini!" Teriak Sheril setelah Zian melepaskan bibirnya, sambil menendang nendang Zian dengan sisa tenaganya.

__ADS_1


"Tidak usah berteriak seperti itu, tidak akan ada yang akan menolong mu di sini," ujar Zian menyerigai. Hasrat Zian tidak terkendali lagi setelah merasakan bibir manis Sheril, sesuatu di balik celananya sudah meronta minta di tuntaskan. Zian kembali ingin mematuk bibir Sheril. Namun tiba-tiba pintu terkuak lebar, seseorang membukanya tampa mengetuknya terlebih dahulu. Tono melihat dengan jelas kalau Zian sedang mencumbui perempuan itu.


"Maaf Tuan, saya tidak tau, saya hanya ingin mengantar makanan ini," ujar Tono ketakutan, tubuhnya gemetar setelah mendapati mata tajam yang menatapnya.


"Tutup pintunya!" Titah Zian menoleh Tono dengan sorot mata yang tajam, tanpa melepaskan pegangan tangan Zian.


Tono langsung menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari luar.


Sementara Sheril mendapatkan kesempatan untuk meloloskan diri dari cengkraman pria b*****t itu, dengan cara menggigit tangan Zian.


Tapi anehnya, laki-laki itu tidak bergerak sama sekali, bakan ia semakin mengeratkan cengkraman tangannya. Manik matanya menatap Sheril dengan geram.


"Lepaskan saya Tuan, jangan lakukan itu pada ku, apa yang membuat mu menyiksaku seperti ini!" Teriak Sheril dengan genangan air matanya.


"Diam! Diam!" Bentak Zian dengan suara tingginya.


"Jika kau tidak mau menuruti kemauan ku, aku akan melakukannya dengan kasar!" Ancam Zian membuat tubuh Sheril melemah. Ia hanya bisa menangis meratapi kehidupan pahit yang menimpanya.


Sheril terisak dalam diam, sementara Zian sama sekali tidak mengindahkan keluhan perempuan itu, ia tetap saja dengan kegilaannya menyusupi setiap inci tubuh mulus Sheril.


Anehnya, Sheril merasakan sentuhan hangat dari laki-laki itu, tubuhnya menegang saat Zian menyentuh area sensitifnya. Ia tidak lagi meronta, Sheril hanya pasrah dengan keadaannya saat ini.


Saat Zian memasukkan benda keras itu ke dalam miliknya, Sheril langsung memejamkan matanya. Sheril merasakan sakit di selangkangannya, tapi tidak sesakit yang pertama itu. Ini kali kedua dengan pria yang sama, yang merusak kesuciannya, kini kembali untuk yang kedua kalinya sheril merasakan hentakan dari benda yang menghancurkan hidupnya.


Tapi Sheril merasakan getaran-getaran aneh di dalam dadanya. Sheril langsung menggigit bibir bawahnya. Zian menatap perempuan itu yang sedang menggigit bibirnya sendiri. Sebenarnya hati Zian tersenyum, ia menyukai gerakan perempuan ini.


Zian merasakan nikmat yang luar biasa, ia tidak pernah merasakan ini pada istri tercintanya. Bahkan sejak satu bulan ini, Ririn sering menolaknya dengan kasar. Zian menumpahkan hasratnya sampai ia melupakan masalah keluarganya.


Selesai


Sheril mengernyitkan dahinya setelah sinar mata hari menerpa wajahnya dari cela- tirai jendela. Dalam keadaan setengah sadar Sheril menjerit melihat tubuhnya tanpa pakaian. Ia melirik kesamping, ia sangat terkejut saat mendapati seorang laki-laki yang sama sepertinya tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Laki-laki itu masih terlelap, Sheril langsung meraih selimut dan menutupi tubuhnya. Sheril langsung berlari menuju kamar mandi dan menyalakan shower, Ia berusaha mengingat kejadian malam itu di sela membasahi tubuhnya. Ia menangis seraya menggosok tubuhnya dengan keras, apa lagi saat melihat banyak tanda merah yang terlukis di sana.


"Pria brengsek! Aku membencimu!" Teriak Sheril dalam guyuran air shower. Sheril merasa tubuhnya sangat lelah, belum lagi perutnya berasa sangat perih, karena tidak makan dari sore kemarin. Penglihatannya mulai berkunang-kunang dan kabur, tubuhnya ambruk kelantai. Ia pingsan di bawah air shower yang yang menyirami tubuhnya.


Wajib Like setelah membaca.

__ADS_1


yuk komen agar author update lagi, jangan lupa follow author ya.


__ADS_2