
Malam yang begitu indah, gemerlap bintang menyinari alam. Zian menggandeng tangan Sheril dengan erat memasuki restoran paling mewah disana. Ia takut wanita itu jauh darinya.
Zian sengaja mengambil room VIP, karena ia tidak ingin terganggu dengan suasana keramaian pengunjung restoran itu.
Sheril terpaku saat Zian menarik tangannya memasuki ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa. Gemerlap lampu warna-warni menerangi ruangan itu.
Sheril menghentikan langkahnya, ia mendongak kan kepalanya keatas, menatap Alzian yang sekarang juga menatapnya.
"Mas,"
Lirih Sheril sambil tersenyum dengan suara serak dan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa sayang?" Ucap Zian.
"Apa yang kamu lakukan? Dan ini untuk apa?" Tanya Sheril kemudian menundukkan wajahnya. Ia takut kalau salah apa yang ia pikirkan.
Zian menangkup pipi Sheril dengan kedua tangannya. Matanya menatap dalam wajah Sheril.
"Sayang, lihat mataku?" Ucap Zian.
Sheril menuruti apa yang Zian ucapkan, manik mata mereka saling bertemu, menatap dalam dan mengartikan tatapan masing-masing.
"Ini untuk mu sayang, yang kulakukan ini semua untuk mu, karena aku benar-benar mencintaimu," ungkap Zian seraya menatap sheril dengan lembut.
Sheril pun demikian, ia mencari sesuatu dari tatapan mata Zian, karena Sheril belum sepenuhnya yakin dengan ucapan Zian. Namun Sheril menemukan tatapan cinta yang tulus, ia tidak menemukan adanya kebohongan di mata Zian.
"Mas," lirih Sheril.
Ia langsung menghambur dan memeluk Zian dengan erat.
"Aku juga mencintai kamu,"
Ungkap Sheril hampir tak terdengar oleh Zian. Sheril merasa beruntung, ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, tak terasa buliran bening mengalir di pipi mulusnya.
"Sayang, aku tidak mendengar apa yang kamu ucapkan barusan," ucap Zian. Zian sebetulnya tau apa yang di katakan Sheril, namun ia ingin mendengar lebih jelas lagi.
__ADS_1
"Aku juga mencintai mu mas," ucap Sheril lagi.
Zian tersenyum mendengar ungkapan Sheril. Ia melepaskan pelukannya dan kembali menatap Sheril dengan mata hatinya.
"Apakah aku salah mendengar?" Ucap Zian membuat Sheril mengadakan kepalanya keatas karena Zian terlalu tinggi dari Sheril.
Setelah menatap mata Zian sekilas, Sheril kembali menundukkan wajahnya yang memerah, ia malu dengan ungkapnya barusan. lalu ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kamu tidak salah mendengar mas," ucap Sheril pelan.
"Kamu mencintaiku?" Tanya Zian membuat wajah Sheril semakin bersemu.
Sheril tidak dapat menyembunyikan perasaannya Lagi, ia tersipu malu, tidak ingin menatap Zian, bahkan Sheril berusaha ingin mengalihkan pembicaraan.
Zian memegang kedua tangan Sheril.
"Aku ingin mendengarnya sekali lagi," goda Zian yang sangat menyukai tingkah Sheril seperti itu.
"Tidak, aku tidak akan mengulangi kalimat yang sama, kamu sudah cukup mendengarnya tadi, kamu sengaja ingin menggodaku,"
"Tidak, aku tidak sedang menggoda mu, aku benar-benar tidak mendengarnya. Ya sudah kalau kamu tidak mau mengulanginya lagi," Zian pura-pura ngambek, perlahan ia ingin melangkah menuju sofa. Namun Sheril menahan tangannya, matanya menatap Zian dengan lembut.
"Aku mencintai mu mas, aku juga mencintai kamu," ungkap Sheril sambil menatap dalam manik mata Zian.
Zian menatap Sheril dengan seksama. Perasaannya ingin meledak sekarang juga, jantungnya berdegup kencang, dadanya meluap saking bahagianya ia mendengar pengakuan Sheril. Ia menampilkan sebuah senyuman indah dari bibir tipisnya, lalu memeluk Sheril dengan erat.
"Aku ingin kamu berjanji untuk menjaga rumah tangga kita, apa pun yang terjadi sayang," bisik Zian di telinga Sheril.
Sheril menganggukkan kepalanya, lalu merenggangkan pelukannya menatap Zian.
"Kita sama-sama berjanji mas, berjanji saling menjaga, dan melengkapi di setiap kekurangan kita," ucap Sheril.
Zian menganggukkan kepalanya, lalu ia merogoh saku celananya serta memperlihatkan sebuah kotak kecil berwarna merah di hadapan Sheril. Sheril menatap apa yang di perlihatkan Zian padanya.
"Bukalah," ucap Zian yang masih memegang kotak kecil itu.
__ADS_1
Sheril segera mengambil kotak merah itu dari tangan Zian. Ia menduga kalau itu hanya sebuah cincin.
Sheril pun segera membukanya, ia tertegun saat melihat isi kotak itu.
Sebuah cincin yang tidak familiar bagi Sheril, cincin peninggalan kedua orang tuanya, yang selama ini hilang entah kemana, Sheril sudah berusaha mencarinya kemana-mana, bahkan kakek dan neneknya tidak ia beritahu. Tidak seorang pun yang tau kalu selama ini Sheril kehilangan satu-satunya benda yang paling berharga dalam sejarah hidupnya.
Mata Sheril kembali berkaca-kaca.
"Dari mana kamu mendapatkan cincin ini mas?" Tanya Sheril serak.
"Pesawat, ia waktu itu aku menemukannya di dalam pesawat, ini milikmu kan?" Ucap Zian.
Sheril kembali menatap Zian.
Ia ternganga sambil mengingat beberapa tahun lalu, ia bertemu seseorang yang memberikan sebuah sapu tangan untuk menghapus air matanya.
"Jadi sapu tangan itu milikmu mas?" Ujar Sheril berbinar. Ia sedikit mengembang bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Zian pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Mas," Sheril kembali memeluk Zian.
Zian mengelus pucuk kepala Sheril dengan lembut.
Sheril tampak sangat bahagia di perlakukan Zian malam ini.
.
.
.
.
maaf kan author yang jarang update ya reader. Dukung terus karya author ya.
__ADS_1