
Sheril sengaja memilih kamar belakang, dengan alasan dekat dengan dapur, Serena menawarkannya untuk tidur di kamar tamu, tetapi dia menolaknya dengan halus. Pada saat itu Zian kebingungan, Sheril harus tidur dimana? Tidak mungkin Zian akan mengajaknya ke kamarnya. Lagi pula Sheril pasti tidak akan mau.
Sejenak Sheril berpikir, istrinya Zian tidak kelihatan ataupun turun, hatinya bertanya-tanya? namun ia juga merasa lega, karena wanita itu tidak keluar, jika istrinya keluar, maka habislah dia.
"Kamu bisa tidur di kamar atas?" Ujar Zian.
"Tidak, aku di bawah saja, agar aku mudah untuk bangun pagi." Ucap Sheril dengan wajahnya yang datar.
Zian pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah membawa Sheril kerumah, ia baru berpikir, apakah tindakannya ini benar atau tidak.
Zian memanggil supir. "Pak, besok bersihkan kamar atas yang di ujung, kosongkan semua isinya, dan ganti dengan cat yang baru."
"Baik tuan, tidak akan menunggu besok, malam ini juga saya akan membersihkannya."
"Bagus, itu lebih baik."
Setelah mengucapkan itu, Zian langsung bergegas ke atas, ingin membersihkan tubuhnya yang berasa lengket.
Sementara Sheril sudah di kamar yang dipilihnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, bukan karena lelah bekerja, namun lelah karena pikirannya.
Malam ini, setelah masuk kamar, Sheril tidak keluar lagi dari kamarnya. Ia menahan segala rasa, rasa perut yang mulai lapar, tetapi ia masih bisa menahannya sampai pagi. Tapi ..., rasa haus? dia tidak dapat menahannya. Dengan memberanikan diri akhirnya ia keluar dengan hati-hati, takut berpapasan dengan tuan rumah, ataupun takut langkah kakinya menyandung sesuatu dan akhirnya menarik perhatian pemilik rumah. Sheril melangkah pelan, kebetulan kamarnya terletak dekat ruang makan, jadi dia tidak perlu terlalu jauh melangkah.
__ADS_1
Perlahan Sheril mengambil teko dan mengisinya dengan air minum, juga cangkir yang akan dia bawa ke dalam kamar, agar dia tidak bolak balik mengambil air minum.
Saat ingin melangkah ke kamar, sebuah bayangan yang mengagetkannya, Sheril takut dan langsung menoleh. Ia tertegun melihat perempuan setengah baya yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Maaf nyonya, saya hanya mengambil air minum." Sheril menundukkan wajahnya, dadanya langsung bergetar.
Perempuan setengah baya itu tidak menjawab, dia langsung membuka kulkas, dan mengambil beberapa makanan.
Lalu menyodorkan roti kaleng padanya. Dia adalah mamanya Zian. Sheril tertegun, melihat Sheril tidak bergeming, wanita itu mengeluarkan suaranya, sedikit sekali hanya kata: "Hemm..."
Dengan ragu-ragu Sheril mengambilnya. dia tidak tau apa maksudnya, menyuruhnya memegangnya atau memberikan padanya?
"Ini ...."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. kemudian melangkah pergi mendahului Sheril.
"Terimakasih ..., Nyonya," Sheril sedikit tersenyum, ia senang, setidaknya ada kebaikan di hati wanita itu. Walaupun Sheril ragu-ragu untuk menyebutnya apa? Mama mertua? Sheril takut, dia tidak menganggapnya seperti itu.
Sementara, Zian di dalam ruang kerjanya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ya dia memikirkan Sheril yang tidur di kamar, dekat ruangan makan. Terlintas di benaknya untuk melihat dan menghampiri istrinya. Zian segera keluar. Kamar yang ditempati Sheril terlihat dari atas. Ia melihat pintu itu tertutup rapat, ia segera turun.
Dengan hati-hati ia memutar kenop pintu kamar Sheril.
Sheril yang mendengar derap langkah seseorang, ia segera memejamkan matanya, pura-pura tidur.
__ADS_1
Dan Zian langsung masuk melihat Sheril sudah terlelap. Ia menatap perempuan yang tertidur tanpa selimut, lalu dengan inisiatif Zian mengambil selimut kemudian menutupi setengah badan Sheril. Ia tertegun sejenak, lalu pergi keluar dengan menutup pintu kembali.
Sheril menghela napasnya. Tidak mengerti dengan sikap Zian terhadapnya. Masih ada sedikit perhatian, namun berkata dingin dan menyakitkan. Jika dia di posisiku, mungkin dia akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari itu.
Sheril tidak dapat memejamkan matanya, pikirannya menerawang langit-langit kamarnya, menembus atap rumah megah yang dia tempatinya sekarang.
Andai saja dia memiliki kemampuan untuk pergi menghilang jauh sampai Zian tidak dapat menemukannya, dia akan melakukannya sebelum ia di temukan.
Sheril menyingkirkan selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya. Ia mengambil minum dan meneguknya. Melihat roti kaleng, ia mengingat nyonya itu memberikan padanya, lalu mengambil dan membukanya. Perutnya memang berasa lapar, dia mengambil sepotong roti dan menggigitnya sampai habis. Kemudian merebahkan tubuhnya kembali, memeluk hangat selimut yang di berikan Zian, sampai-sampai ia tidak sadar sudah terlelap.
Pagi harinya.
Jam menunjukkan angka lima pagi, selesai mencuci muka dan mensucikan diri dengan berwudhu, ia segera menunaikan ibadah, setelah itu, Sheril keluar dari dalam kamarnya. Suasana hatinya sangat tegang, ia tidak tau harus apa dan memulainya dari mana. Ia merasa serba salah.
Baiklah, sebaiknya aku menyiapkan sarapan terlebih dahulu. Ia juga bingung harus masak apa? Dia tidak tau apa kebiasaan penghuni rumah ini. Dengan buah pikirannya sendiri, akhirnya sarapan yang di buatnya pagi ini selesai. Setelah menata makanan di atas meja, ia mengerjakan aktivitas yang lainnya.
Tidak begitu lama Serena turun, ia tertegun melihat hidangan di atas meja. Siapa yang masak? Apakah perempuan itu?
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
...****************...
Tinggu kelanjutannya ya reader. Seperti biasa, wajib like setelah membaca. Terimakasih 🙏🥰
__ADS_1