Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Draft


__ADS_3

Ririn tenang, kamu tidak boleh seperti ini, tahan emosi mu, tahan amarahmu. Ririn berusaha menguatkan dirinya sendiri saat melihat wanita yang sudah merebut suaminya.


Ririn menatap Mama mertuanya dengan banjir air mata. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Mama, Mama tega mengusirku? Seakan-akan semuanya kesalahan ku? Aku cukup menderita Ma, perasaan ku sakit setelah mengetahui suamiku selingkuh, bahkan diam-diam sudah menikah tanpa sepengetahuan ku, apa lagi mereka akan memiliki anak dari perempuan lain! Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya menikah lagi?" Raung Ririn begitu sedih, seolah-olah dialah yang terzolimi.


"Kau kira aku bodoh, kau kira aku tidak melihat bagaimana kelakuan mu terhadap anak saya, apa kau sadar bagaimana kau memperlakukan putraku? Aku memang tidak mendukung Zian untuk selingkuh, tapi Zian seperti ini juga kesalahan kamu sebagai istri. Kamu tidak bisa menjadi istri yang baik, bahkan anak sendiri saja tidak kau urus, kau hanya mengurus dirimu sendiri, mementingkan hidup mu sendiri. Apa kau peduli dengan putrimu yang masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya? Kalau kau memang ibu yang baik, istri yang baik! Apa pun keadaan rumah tangga mu seharusnya kau tidak akan meninggalkan rumah, tidak akan meninggalkan seorang anak, sebelum ada keputusan yang jelas."


"Aku seperti itu karena Zian, Ma. Aku tidak bersemangat mengurus rumah tangga karena Zian jarang pulang ke rumah, aku meninggalkan rumah karena aku mau menenangkan pikiran ku, tidak mungkin aku membawa Aura dalam keadaan pikiranku yang tidak tau arah. Aku sudah berusaha berubah, tapi Zian tidak berubah. Bahkan dia semakin menyakiti ku dengan membawa perempuan itu kerumah ini. Hiks ...."


"Sekarang kau pergilah." Ucap Serena dingin pandangannya menatap lurus kedepan.


"Baiklah, aku akan membawa Aura pergi dari rumah ini." Ujar Ririn membuat mata Serena melebar seketika.


"Kau tidak bisa membawa Aura begitu saja, Ririn!" Tegas Serena maju kedepan menatap tajam ke Ririn.


"Kenapa, Ma? Aku ini mamanya, ibu yang melahirkannya, kenapa Mama tidak mengizinkan aku pergi membawa putriku sendiri, Mama tidak berhak melarang ku, dia putri kandung ku." Ucap Ririn dengan isak tangisnya.


"Kalau kau memang benar menyayangi putrimu, kenapa tidak kau bawa sejak kau pergi, kenapa?" Tutur Serena.


"Ma, tolong jangan seperti ini aku mohon, jangan pisahkan aku Dan Aura, aku memang salah, tapi izinkan aku bersama Aura, mengurus Aura, dia putriku, Ma."


"Aku tidak percaya kamu bisa mengurus Aura dengan baik!"

__ADS_1


"Ma, aku akan membuktikannya, aku akan menunjukkan kalau aku ibu yang baik buat Aura, akan aku buktikan."


"Terserah kamu, aku capek ngomong sama orang yang tidak punya urat malu." Usai bicara Serena melangkah kakinya masuk kedalam kamarnya.


Sheril merasakan degup jantungnya semakin berpacu, apa lagi saat melihat tatapan Ririn yang mematikan dia langsung menundukkan kepalanya, melihat ke lantai.


Melihat ibu mertuanya sudah masuk kedalam kamar, Ririn mendekati Sheril, kedua tangannya terlipat di atas perutnya yang datar. Sementara Sheril melangkah mundur ketakutan. Takut akan apa yang di lakukan perempuan itu kepada dirinya? wajah Sheril terlihat pias saat melihat gerakan Ririn melangkah maju mendekatinya.


"kau merasa menang sekarang? kau puas sudah merampas semuanya dari ku?" Ririn berkata dengan suara pelan namun cukup membuat Sheril tegang.


"Kak, aku tidak bermaksud mengambil apa yang kamu miliki, aku tau aku salah, aku minta maaf."


"Sok naif kamu, hidup senang dengan merampas kebahagiaan rumah tangga orang lain, merebut suamiku, berusaha baik dengan keluarga ini agar kamu mendapatkan tempat di rumah ini? Aku tidak yakin anak yang ada di dalam perut mu itu anaknya Zian. Kau sengaja ingin menjebak suami ku agar dia menikahi mu, kan?"


Sheril merasa terhenyak mendengar kata-kata Ririn. Dalam keadaan seperti ini dia tidak mungkin meninggalkan rumah, apa lagi Zian sedang keluar kota. Sheril ingat apa yang dikatakan Zian sebelum dia berangkat ke luar kota.


"Aku akan pergi setelah anak ini lahir Mbk, maaf kan aku, sebagai sesama wanita, aku tau perasaan mu Mbk, aku ...."


"Pintar sekali berkata manis, aku benci dengan kamu yang pura-pura baik ini." Ririn mendorong bahu Sheril dengan jari telunjuknya, dia mendekati Sheril lagi, membuat Sheril merasa cemas.


"Sheril!" Tiba-tiba Mama Serena keluar. Dia melihat Ririn dan Sheril sedang berdiri di sana.


"Ngapain kamu di sana?" Serena berjalan mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Aku hanya bicara sebentar padanya."


"Aku tidak yakin, kau pasti mau mencelakainya, kan?"


"Terserah Mama mau bilang apa." Selesai bicara Ririn berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Sheril, lain kali jangan dekati perempuan itu."


Serena sengaja berkata agar Ririn mendengar.


Meskipun mendengar, Ririn tidak mengubris ucapan Serena, dia masuk ke kamarnya.


"Sheril, ponsel mu mana, Zian telpon Mama, ini Zian mau bicara." Serena memberikan ponsel ke Sheril.


Setelah bicara sebentar, Sheril memberikan ponsel itu kembali pada Mama mertuanya.


"Makasih, Ma."


"Ya sudah cepat masuk kamar, jangan lupa kunci pintunya, kalau ada apa-apa panggil Mama."


"Baik, Ma. Terimakasih."


Sheril masuk kamar, sementara Serena kembali ke kamarnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2