Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
ide rujak


__ADS_3

Anak buah Zian sudah menemukan apa yang di inginkannya. Tinggal mencari cara bagaimana harus menemui perempuan yang mereka maksud. Mereka akan melancarkan rencananya dengan rapi.


Dengan peralatan yang canggih, mereka bisa menemukan Sheri dengan mudah. Sudah dua hari anak buah Zian mengintai rumah Elian. Tapi mereka agak kesulitan, karena penghuni rumah tidak keluar.


"Tuan, kami belum melihat apapun disini, penghuni rumah itu tidak ada yang keluar," ujar anak buah Zian, mereka menelpon karena sudah seharian menunggu, hari pun sudah hampir larut.


"Ya sudah, kalian pulang saja," ujar Zian dari seberang sana.


Mereka pun pulang sesuai perintah Zian. Zian sudah merasa sedikit lega, karena sudah menemukan keberadaan perempuan itu walaupun belum melihat wajahnya.


...****************...


Malam harinya, Sheril ingin membicarakan soal kegiatannya. Ia tidak terbiasa jika harus berdiam diri saja di rumah. Lagian, Sheril cukup tau diri, ia merasa tidak enak jika tidak melakukan sesuatu.


"Elian, aku mau mencari pekerjaan, agar aku ada kegiatan. Aku tidak enak hati jika terus-terusan diam di rumah mu," ujar Sheril melirik sahabatnya.


Elian mengernyitkan dahinya. "Tidak usah berperasaan seperti itu, kamu lagi hamil, lagian mau kerja seperti apa? Bukannya orang hamil tidak boleh kelelahan?" Ujar Elian menatap Sheril.


"Elian, orang hamil memang tidak boleh kelelahan, tapi aku cukup kuat, aku bisa mengimbangi kondisiku," ucap Sheril.


"Emangnya kamu mau kerja apa?" Tanya Elian menatap Sheril dengan wajah kekhawatiran.


"Apa saja, yang penting aku punya kesibukan, agar pikiranku sedikit terbuka," ucap Sheril.


"Baiklah, kalau memang kamu ingin kerja, aku akan mengatakan dulu sama orang tuaku," ujar Elian menatap sahabatnya.


Sheril menatap sahabatnya. "Kenapa harus mengatakannya dengan Om dan Tante?" Ujar Sheril.


"Iya, setidaknya kita memberitahu.


Pagi harinya. Sheril sudah menyiapkan sarapan pagi, seperti biasanya ia membantu bibi memasak dan menyiapkan makanan. Sheril tetap saja melakukannya meski kedua orang tua Elian melarangnya. Ia sudah terbiasa dengan aktivitas bangun pagi.


Kedua orang tua Elian sudah duduk menghadap meja makan, sementara Elian baru saja turun untuk ikut sarapan.


"Sheril mana, Ma?" Tanya Elian sambil menarik kursinya.

__ADS_1


"Mungkin masih di belakang," ujar Maria sambil celingukan melihat kearah dapur.


"Sheril!" Panggil Maria.


"Iya tante," ujar Sheril dari belakang.


"Ayo sini, kita sarapan!" Ujar Maria meneriaki Sheril.


"Tante, Om, dan Elian. Kalian duluan saja, aku belum lapar," ujat Sheril berdiri beberapa meter saja dari mereka.


"Sheril ... duduk," ujar Elian menarik kursi buat Sheril.


"T-tapi aku ... "


"Sheril, kamu itu bukan pembantu di sini, jadi biarkan mereka melakukan tugasnya, kamu tidak perlu membantunya. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan," ujar papanya Elian yang bernama Chandra.


"Yang jelas kamu itu tidak boleh terlalu capek, karena kandungan mu masih rentan," ujar Maria menimpali ucapan suaminya.


"I-iya Om, Tante," ujar Sheril menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Kedua orang tua Elian melirik kearah Sheril, sementara Sheril menundukkan wajah sendunya.


"Jika kamu ingin memeriksa kandungan mu, pergilah bersama Elian, jangan sungkan untuk mengatakan sesuatu, kami sudah menganggap mu seperti anak kami sendiri," ujar Maria datar.


"Terimakasih banyak Tante, aku tidak tau harus berbuat apa dengan kebaikan kalian, aku tidak mempunyai keluarga selain Kakek dan nenekku," ujar Sheril serak, ia tidak bisa menahan air matanya. Cairan bening itu sudah lolos di pelupuk matanya.


"Sheril, kami juga keluarga mu, sudahlah jangan bersedih lagi, habis sarapan kamu bersiaplah, aku akan mengantarmu ke Dokter kandungan," ujar Elian mengelus pundak sahabatnya.


Papa dan Mama Elian, terharu melihat sikap putrinya yang begitu peduli dengan sahabatnya.


"Ayo sarapan, tidak baik menangis di meja makan," ujar papa Elian. Maria segera mengambilkan makanan buat suaminya, begitupun Sheril dan Elian. Mereka segera sarapan tanpa mengeluarkan suara lagi, hanya suara dentingan sendok lah yang terdengar.


Setelah sarapan Papa dan Mama Elian segera berangkat kerja, mereka melakukan aktivitasnya masing-masing. Mama Elian memiliki pekerjaan sendiri di bidan online. Sementara suaminya Chandra bekerja menjadi seorang CPNS. Mereka bisa mengelola keuangan dengan baik, hingga kebutuhan mereka lebih dari terpenuhi.


Sementara Elian masih menunggu Sheril. Tidak begitu lama Sheril pun turun dari atas. Mereka langsung berangkat menuju rumah sakit.

__ADS_1


Di perjalanan menuju rumah sakit. Sheril merasa ada yang mengikuti. Sheril memperhatikan kaca spion, ia melihat sebuah mobil hitam mengikuti sejak mereka keluar dari rumah Elian.


"Tapi untuk apa dia mengikuti kami?" Pikir Sheril. Sheril kemudian melirik Elian yang sedang pokus dengan setirnya. Elian nampak tidak mencurigai mobil itu.


"Elian, aku mau makan rujak, kita mampir di sana ya," ujar Sheril, ia tersenyum menatap Elian dengan alasan ingin makan rujak.


"Ya ampun Sheril, kenapa tidak mengatakannya dari tadi kalau kamu mengidam rujak," ucap Elian.


"Iya aku menginginkannya setelah melihat rujak itu," ujar Sheril tersenyum samar.


"Baiklah, aku tau tempat rujak yang enak dan lezat. Kamu pasti ketagihan setelah mencicipinya," ucap Elian, ia menampilkan senyum termanisnya.


Sheril tersenyum melirik Elian, kemudian ia kembali melirik kaca spion, mobil hitam itu tetap saja mengikuti mereka.


"Elian ayo cepat turun," ujar Sheril, wajahnya nampak ketakutan, setelah melihat mobil yang mengikutinya tadi juga berhenti tidak jauh dari mobil Elian.


"Sheril, kamu kenapa? Wajahmu nampak cemas," ujar Elian menatap Sheril.


"Elian, nanti akan aku ceritakan setelah kita turun, ayo cepat turun," ujar Sheril langsung turun. Elian mengikuti langkah Sheril masuk kedalam kedai rujak. Kedai itu cukup ramai oleh pelanggan.


"Sheril, ada apa dengan mu, kenapa kamu nampak ketakutan?" Ucap Elian.


"Elian ... " Sheril nampak celingukan. Ia menghentikan ucapannya sebentar.


"Sejak kita keluar dari rumah, ada sebuah mobil mengikuti kita, dan begitu aku mengajakmu membeli rujak, mobil itu ikut berhenti tidak jauh dari mobil mu,"


"Sheril, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, mungkin saja itu hanya kebetulan, lagi pula apa yang mereka inginkan dari kita? Sudah lah jangan berpikir yang tidak-tidak ya," ujar Elian memotong ucapan Sheril.


"Tapi Elian ... "


"Sheril, tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa dengan kita, itu hanya kebetulan, makan lah rujaknya, dan aku akan memesan beberapa bungkus untuk mu, agar kamu bisa memakannya di rumah nanti," ujar Elian.


Sheril tidak menjawab ucapan Elian. Ia masih memikirkan mobil yang mengikuti mereka tadi. Tapi Sheril tidak melihat orang yang menyetir mobil itu masuk. Perasaannya sedikit lega, mungkin benar Apa yang di katakan Elian.


Elian dan Sheril menikmati rujak pesanan mereka. wajah Sheril sudah tida ketakutan lagi, mereka memakan rujaknya sambil bercerita dan bersenda gurau, mereka terkadang tertawa, menertawakan ucapan mereka.

__ADS_1


jangan lupa dukungannya dengan menekan like' Dan vote ya.


__ADS_2