
Setelah kepergian Sheril, Zian juga pergi meninggalkan villa. Ia pulang ke rumah besarnya di kota.
Ririn langsung menghampiri Zian. "Aku ingin bicara pada mu!" Tukas Ririn dengan wajah dinginnya.
Deg ....
Dada Zian langsung berdetak. "Ada apa ini? Apakah Ririn sudah mengetahuinya? Tapi siapa yang memberitahunya," pikiran Zian berkecamuk.
"Ada apa dengan mu, kenapa marah marah seperti ini," ujar Zian.
"Kemana saja kamu? Akhir-akhir ini kamu sering tidak pulang kerumah," ujar Ririn menatap maik mata Zian, ia ingin Zian berkata jujur.
"Sudah aku katakan, aku keluar kota mengurus proyek baru itu," ujar Zian berbohong.
"Bohong! Kamu tidak ada di sana, bahkan sudah satu minggu ini kamu tidak kesana," ujar Ririn bertambah marah.
Zian mengeryitkan dahinya.
"Dari mana kamu tau itu," ujar Zian menatap Ririn.
"Aku sendiri yang kesana. Kenapa kamu kaget?" Tanya Ririn.
"Ririn sudahlah, aku capek mau istrahat," ujar Zian ingin berlalu pergi meninggalkan Ririn, namun Ririn menahannya.
"Zian! Jangan mengalihkan pembicaraan, aku belum selesai bicara padamu," ujar Ririn dengan mata yang tajam.
Zian mendudukkan pantatnya di sofa ruang tamu. Ia menghela napas panjangnya.
"Katakan dengan jujur, kemana saja kamu, kamu pergi kemana!" Bentak Ririn dengan marahnya.
"Ririn stop, aku benar-benar capek, aku juga kurang enak badan, kenapa kamu selalu tidak membuatku sedikit ketenangan di rumah ini! Apa pedulinya kamu kalau aku ada di rumah! Bagaimana sikap kamu terhadap seorang suami?" Ujar Zian dengan emosinya.
"Zian! Kenapa kamu menyalahkan aku, aku hanya bertanya pada mu, kenapa kamu malah membentak ku! Kamu dan mama kamu sama saja, selalu menyalahkan aku," Ujar Ririn dengan mata yang berkaca-kaca.
Zian menggenggam kedua tangannya dengan erat.
"Kamu jangan pernah membawa nama mama ku dalam masalah kita, apa yang mama ku katakan itu adalah benar. Kamu kira aku akan selalu sabar menghadapi sikap kamu, kamu kira aku tidak bisa marah!" Ujar Zian yang sudah tersulut emosi.
Ririn terpaku melihat perubahan dari sikap suaminya. Ia melangkah mundur.
Zian menatapnya dengan tajam. Tidak pernah Zian semarah ini, Zian yang dulu selalu lemah lembut, kini sudah berani membentaknya.
"Zian ada apa denganmu, kenapa sikap kamu berubah jauh,"
__ADS_1
"Tanyakan dengan dirimu sendiri," ujar Zian melangkah pergi meninggalkan Ririn.
...****************...
Sementara Sheril sudah sampai di kampung halamannya. Ia langsung memeluk neneknya begitu ia sampai di rumah yang sangat ia rindukan itu.
"Nenek, maafkan Sheril, bukan Sheril tidak ingin memberi khabar, tapi di tempat Sheril KKN tidak mendapatkan jaringan sama sekali," ujar Sheril.
Nenek Mala langsung melepaskan pelukannya.
"Kamu jangan berbohong, kami tidak pernah mengajarimu untuk berbohong Sheril," ucap nenek Mala memalingkan wajahnya.
Sheril membulatkan matanya. Neneknya tidak ingin menatapnya, padahal Sheril sangat merindukannya.
"Kenapa Nenek berkata seperti itu?" Ucap Sheril yang sudah berkaca-kaca.
"Kami sudah tau segalanya Sheril, untuk apa kamu menutupinya lagi," sahut Kakek Samit yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Kakek," seru Sheril melihat kakaknya ia langsung ingin memeluknya, tapi kakek Samit menghindari Sheril.
Sheril langsung tertegun, air matanya langsung mengalir deras.
"Kakek, maaf kan Sheril, Sheril tidak bermaksud untuk membohongi Kakek dan Nenek, Nenek, hiks-hiks-hiks, maaf kan Sheril, Nek," ujar Sheril dengan tangisannya.
"Kakek, Sheril bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kalian dengar," ucap Sheril lirih.
"Dengar apa, kami datang langsung ke kampus, kami tau semuanya dari sana. Jadi apa lagi yang harus kamu jelaskan Sheril," ujar nenek Mala dengan suara seraknya, ia menahan air matanya. Ia sagat kecewa dengan cucu kesayangannya itu.
"Setelah membuat malu di sana, kamu kembali kesini. Kamu tau aib mu itu sangat mempermalukan kami," ujar nenek Mala.
"Nenek hiks-hiks-hiks," tangis Sheril semakin menjadi. Ia ingin bersimpuh di kaki nenek Mala dan Kakek Samit, namum Mereka malah meninggalkannya. Sheril semakin sedih. Orang yang selalu menyayanginya selama ini sudah tidak ingin melihatnya.
Sheril langsung berlari menuju kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan. Ia menatap ruangan kamarnya sambil menyeka airmatanya. Kamarnya masih sama seperti dulu, nenek Mala memang selalu membersihkan kamar Sheril. Sheril memikirkan bagaimana caranya agar Nenek dan Kakek nya bisa memaafkannya.
Nenek Mala menangis di dalam kamar miliknya. Ia sebetulnya sangat senang Sheril kembali, ia sangat merindukan cucunya. Namun karena kecewa, ia tidak dapat menahan marahnya.
Pagi harinya.
Sheril baru saja bangun dari tidurnya.
Sheril berusaha ingin bicara lagi pada Kakek dan Neneknya, namun kedua orang tua itu tidak di ditemukannya. Sheril sudah mencarinya kemana-mana, namun tetap tidak ada.
"Kemana mereka? Kakek, Nenek! Kalian dimana?" Panggil Sheril sambil pergi kebelakang, siapa tau mereka ada di kolam. Namun tidak ada. Sheril pergi ke dapur, ia ingin membuat teh untuk dirinya sendiri, sambil menunggu kakek dan neneknya.
__ADS_1
Sheril sudah menghabiskan tehnya, namun kakek dan neneknya juga belum kelihatan. Sheril berniat ingin mengembalikan gelas yang sudah kosong kedapur, namun ia melihat kakek dan neneknya datang dengan satu orang laki-laki.
Sheril sangat mengenali laki-laki itu, ia adalah orang yang pernah meminangnya waktu itu, namun Sheril kakek dan neneknya menolaknya dengan alasan Sheril masih ingin melanjutkan sekolahnya.
"Kakek, Nenek," Sheril mengulurkan tangannya ingin memberi salam pada mereka, namun tidak di tanggapi oleh kakek dan neneknya. Sheril menarik tangannya kembali.
"Duduklah, kami ingin bicara," ucap kakek Samit pada Sheril.
"Ada apa ya, apa yang ingin kakek bicarakan, dan kenapa ada Denis juga," batin Sheril bertanya-tanya dalam hatinya.
"Begini Sheril, kami akan menikahkan kamu dengan Nak Denis, ia akan bertanggung jawab sepenuhnya sama kamu," ujar kakek Samit memulai pembicaraan.
Sheril membulatkan matanya dengan sempurna.
"Iya Sheril, sejak dulu kamu tau, kan, kalu aku sangat menyukai kamu, apa pun yang terjadi sama kamu, aku tidak peduli, aku siap menikahi kamu dan bertanggung jawab, aku tidak peduli itu anak siapa, aku akan menerimanya seperti anak ku sendiri," ujar Denis dengan keyakinannya.
"Tapi Kakek, Nenek, aku sudah menikah," ujar Sheril melirik mereka secara bergantian.
Mereka yang ada di sana terkejut dengan tuturan Sheril, terutama Kakek Samit dan nenek Mala.
"Mana suami kamu, jika benar kamu sudah menikah, kenapa dia tidak ikut dengan mu" ujar Kakek Samit.
"Iya Sheril, mana buktinya jika kamu sudah menikah, aku ingin melihat buku nikah kamu," ujar Denis ingin memastikan.
"Iya benar aku sudah menikah, tapi ... " Sheril menghentikan ucapannya.
"Tapi aku tidak membawanya, suamiku kerja, ia sibuk makanya ia tidak bisa mengantarku pulang," sambung Sheril sambil menundukkan wajahnya.
"Itu artinya kamu berbohong lagi. Sudah cukup Sheril, hentikan sandiwara kamu ini, kamu harus menikah dengan Denis," ujar Kakek Samit.
"Tapi kakek bagaimana bisa, aku sudah menikah," ujar Sheril.
"Tunjukkan bukti buku nikah kamu jika benar kamu sudah menikah, cepat ambil, kami ingin melihatnya," ujar pak Samit.
"Kakek, Nenek, mengerti lah, aku tidak membawanya," ujar Sheril.
"Sudah cukup kamu berbohong, minggu depan kamu harus menikah dengan Denis," ujar kakek Samit.
Sheril menundukkan wajahnya, ia tidak dapat menolak keinginan kakeknya.
yuk komen, agar author update lagi.
jangan lupa dukung karya author ya dengan cara vote, like dan GIF hadiahnya. terimakasih
__ADS_1