
"Sayang bersiaplah kita akan pergi sekarang,"
Alzian akan mengantar Sheril untuk memeriksa kandungannya.
"Iya mas," jawab Sheril sambil beranjak dari tempat duduknya mempersiapkan dirinya. Sheril merasa senang di perhatikan seperti ini, setidaknya Zian ada di saat waktu yang ia inginkan. Yaitu melihat bayinya di dalam komputer secara bersama-sama, salah satu keinginan Sheril.
Sheril keluar dari kamarnya dengan wajah yang berbinar, menemui suaminya yang menunggu di luar kamar. Sheril terlihat sangat cantik meski perutnya sudah sangat jelas menonjol kedepan. Zian menatap Sheril dengan rasa kagumnya, bibirnya tersenyum simpul sambil mendekatkan dirinya dengan Sheril, lalu meraih tangan Sheril menggenggamnya dengan erat seakan tidak ingin terlepas dari perempuan itu.
"Cantik sekali," puji Zian yang membuat Sheril tersipu malu. Zian sedikit menundukkan kepalanya mengelus perut Sheril dengan tangan kanannya. Ia sangat menyukai Sheril berpakaian seperti ini, menampakkan perutnya yang membesar.
"Sayang cepat keluar ya, papa sudah tidak sabaran ingin menggendong mu," ucap Zian seraya mencium perut Sheril.
"Jangan dong mas, ngk boleh bicara seperti itu," ucap Sheril terlihat tegang, ia memegangi perutnya seraya melangkah mundur.
"Kenapa?" Tanya Zian mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti kenapa Sheril tidak ingin mengeluarkan bayinya.
"Kan belum waktunya, jangan di doain cepat keluar, kalo cepat keluar berarti bayi kita prematur," sewot Sheril merubah wajahnya dengan sedih.
Zian menarik napasnya. "Maksudnya bukan begitu sayang," (duh salah lagi nih). Zian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, aku tidak sabaran ingin menggendong anak ku," ucap Zian.
"Anakku juga mas," rengek Sheril tidak terima kalau Zian mengatakan anaknya. Sheril mengayunkan bibirnya kedepan.
"Iya maksudnya anak kita,"
"Kok hari ini omonganku banyak salah ya," pikir Zian.
"Ya sudah, ayo kita jalan," ucap Zian kembali meraih tangan Sheri yang tadi sempat terlepas, di halaman villa sudah menunggu Heru yang akan mengantarkan mereka hari ini.
Mereka berjalan secara bersamaan menuju mobil. Zian langsung membuka pintu mobil buat Sheril, kemudian ia pun ikut masuk duduk tepat di samping Sheril. Heru melirik Sheril dan Zian secara bergantian dari kaca spionnya. Wajah Zian terlihat senang, ia terus menggenggam tangan Sheri. Sesekali mereka bercanda dan tertawa, hal itu jarang sekali Heru lihat. Ia pun ikut senang melihat bos sekaligus sahabatnya terlihat bahagia. Yang Heru tau, Zian dan Ririn sering terlihat bertengkar, dan Zian lah yang mengalah, mereka jarang bercanda seperti ini, hampir tidak perna Heru lihat.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Mereka selesai memeriksa kandungan Sheril. Kini Zian dan juga Sheril sudah keluar menuju mobil dengan merangkul pinggang istrinya dengan mesra seperti yang mereka lakukan tadi, tapi kali ini wajah Zian berbeda dari sebelumnya, ia tampak lebih berbinar. Heru menatap mereka dari dalam mobil, ada perasaan iri dalam hatinya Heru. Ingin sekali ia bahagia seperti itu, jika suatu saat nanti ia berkeluarga, namun Heru belum menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya nanti.
Waduh babang heru jomblo nih😁.
Heru segera membuka pintu mobilnya buat bosnya itu. Merekapun langsung masuk kedalam mobil. Perlahan-lahan mobil mewah mereka sudah membelah jalanan meninggalkan rumah sakit.
"Mas, kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang," ucap Sheril menatap suaminya dengan penasaran, karena Sheril tidak tau Zian akan membawanya ke mana.
"Kesini, kita akan membeli perlengkapan bayi kita," ucap Zian yang langsung di tanggapi oleh Sheril.
"Tapi, disini semua mahal mas, kita cari tempat lain saja," ucap Sheril seraya melihat keluar menatap toko Baby Shop yang berkelas itu. Bukan Sheril tidak suka, namun Sheril tidak ingin membeli yang terlalu mahal buat perlengkapan baby yang akan dipakai sebentar saja, baginya itu mubazir, karena ia tau, baby-nya tidak akan lama memakainya.
Zian menatapnya dalam. "Sayang, walaupun mahal, tapi kita mampu membelinya, aku ingin anak kita nyaman, dan akan aku lakukan yang terbaik untuknya," ucap Zian mengelus perut Sheril dengan lembut.
Sheril mengangguk pelan. Merekapun langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke toko Baby Shop itu.
Saat masuk, yang pertama kali Sheril lihat adalah gaun cantik berwarna pink muda, bibirnya langsung tersenyum, ia langsung menghampiri gaun kecil itu dengan mengangkatnya. bibirnya terus tersenyum. Zian yang melihat itu langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa ia mengambil gaun? bukankah ia tau kalau anaknya adalah laki-laki," batin Zian.
"Mas, lihat cantik sekali," ucap Sheril antusias.
__ADS_1
"Sayang, anak kita kan laki-laki? kenapa kamu membeli gaun?" tanya Zian tidak mengerti jalan pikiran istrinya.
Sheril tersenyum menatap Zian.
"Siapa yang mau beli, aku cuma mau melihatnya kok," ucap Sheril mengayunkan bibirnya kedepan.
"Iya nanti kita buat yang perempuan juga, sekarang kita cari peralatan khusus baby laki-laki kita," ujar Zian seraya mengambil gaun imut yang sedang Sheril pegang, bibirnya tersenyum sambil meletakkan gaun itu lagi ketempat semula.
Sheril melotot kearah Zian. "Emangnya kita akan punya baby lagi setelah ini?" Tanya Sheril menatap Zian jengkel.
"Iya dong, aku ingin kamu melahirkan anak yang banyak dari ku," ucap Zian yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari Sheril. Zian meringis menahan sakit karena di cubit istrinya. Ia merasa geli melihat tingkah Sheril. Zian memesan banyak perlengkapan baby.
"Baik Tuan akan kami siapkan," ucap salah satu karyawan Baby shop setelah mendengarkan penjelasan Zian. Zia sengaja ingin membelinya sendiri, agar mereka merasa puas pikirnya. Sementara Sheril hanya melongo mendengar begitu banyak pesanan Zian untuk baby-nya, bagaimana bisa membawa barang sebanyak itu. Dan kenapa tadi Zian memberikan alamat lain, bukan alamat villa yang mereka tempati sekarang?.
Beberapa pertanyaan di benak Sheril, namun ia tidak berniat menanyakan langsung sama Zian.
.
.
.
.
Selesai belanja, mereka segera menuju mobil. Sheril tidak berkata apa-apa, ia hanya diam mengikuti langkah Zian.
"Sayang, kamu kenapa? apa capek?" tanya Zian setelah mereka berada di dalam mobil. Sheril hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suaranya. Heru langsung melajukan mobilnya sesuai arahan Zian sebelumnya.
Lagi-lagi Sheril bingung, karena Heru melajukan mobilnya bukan ke arah villa, Sheril hapal betul jalan menuju pulang.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Semangat ya reader, jangan jera untuk menunggu update terbaru dari author. semangat juga bagi yang menunaikan ibadah puasa 🤲🤲.