
Setelah bibi Arum menghubungi majikannya, akhirnya Nona Sheril di perbolehkan keluar dari dalam kamarnya. Akan tetapi, Sheril masih diawasi ketat oleh penjaga villa itu.
Sheril bingung, untuk apa orang itu mengurung nya? Dan apa tujuannya?
"Bibi, kapan aku bisa keluar dari sini, aku sangatlah bosan,"
"Nona cantik, kamu sudah bisa keluar, pintunya tidak terkunci, tapi Nona cantik jangan keluar villa ini ya, bibi takut Tuan pasti akan memarahi bibi," ujar bibi Arum memelas.
"Baik bibi, bisa keluar dari kamar ini saja aku sudah sangat senang," ujar Sheril.
"Ayo, Nona cantik mau kemana? Biar Bibi temani," ujar bibi Arum.
"Aku mau melihat-lihat sekeliling gedung ini bibi," ujar Sheril.
"Baiklah, ayo," ajak bibi Arum seraya merangkul pundak Sheril.
Sheril mengedarkan pandangannya di sekeliling gedung.
"Wah, ternyata gedung ini sangat luas sekali, bibi, aku mau kedapur, antarkan aku kesana," ujar Sheril girang.
Bibi Arum sangat senang melihat Sheril sudah bisa menampilkan senyuman manisnya.
"Non, kamu itu sangat cantik, apa lagi tersenyum seperti tadi, aura kecantikan mu sungguh luar biasa," ujar bibi Arum.
Sheril terkekeh mendengar celotehan bibi Arum.
"Bibi bisa aja memujiku seperti itu," ujar Sheril tersenyum simpul. Ia merasa malu dengan bibi Arum.
"Yang bibi katakan itu benar, Non," ujar bibi Arum lagi.
"Ini dapurnya, Non," ujar bibi Arum
Sheril bengong melihat dapurnya sangat luas. Dapur ini lebih besar daripada rumah neneknya di kampung
"Wah bibi ... dapurnya besar sekali! Apakah semuanya bibi yang membereskan dapurnya setiap hari?" Tanya Sheril.
"Iya, Non, bagian dapur adalah tugas bibi," ujar bibi Anum.
"Bibi, apakah kita bisa memasak sesuatu?" Ujar Sheril dengan semangatnya.
"Apakah Nona tidak ingin berkeliling lagi," tanya bibi Arum.
"Di lanjutkan lain kali saja bi, aku mau masak sesuatu," ujar Sheril sambil membuka kulkas besar yang ada di sampingnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Malam harinya Sheril hendak mengambil air minum, ia turun kelantai bawah.
Sheril mendengar dengkuran halus dari sofa ruang keluarga. Sheril langsung menghampirinya, ia ingin memastikan siapa yang tidur di sana? Apa bibi Arum? Atau siapa?.
__ADS_1
Saat melihat wajah pria itu Sheril langsung melangkah mundur, dadanya bergetar kencang saat mengetahui pria itu. Bau alkohol sangat menyengat hidung Sheril.
"Laki-laki pemabuk, laki-laki bajingan, dia selalu saja kemari, dia ...
"Kau, kau selalu menganggap ku tidak berarti, apa artinya aku ini bagi kamu," laki-laki yang tidak lain adalah Zian itu mengigau.
Sheril tertegun mendengar ucapan pria itu, ia menghentikan tuturannya.
"Rupanya dia sedang patah hati, hu ... " Sheril mendengus kesal, ia langsung meninggalkan pria itu kedapur dan mengambil air minum.
Saat ingin menaiki anak tangga Sheril kembali menoleh pria itu. Pria itu tiba-tiba menggigil kedinginan, karena Sheril pemilik hati yang baik, ia mengambil selimut dan langsung menutupi tubuh pria itu setengah badanya.
Pria itu tiba-tiba memegang tangan Sheril. Spontan Sheril langsung gemetar ketakutan, jantungnya berdegup kencang serasa ingin keluar saat itu juga.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon ... " gumam pria dengan mata yang terpejam.
Sheril langsung menarik tangannya. Ia langsung berlari menaiki anak tangga dan langsung masuk kedalam kamarnya. Sheril menyadarkan tubuhnya di pintu, ia menangis mengingat kejadian 3 bulan yang lalu.
"Dia adalah anak dari pria itu," Sheril mengelus perutnya yang masih rata, ia menangis mengingat semuanya.
"Nenek hiks-hiks-hiks, bagaimana keadaan kalian, Sheril kangen Nenek, bagaimana Sheril memberi khabar pada Nenek," isak Sheril di balik pintu kamarnya.
💕💕💕💕💕💕💕
Pagi harinya. Dengan langkah hati-hati Sheril menuruni anak tangga, ia takut kalau pria itu masih tidur di sana, ia tidak ingin melihatnya. Tapi hati Sheril lega saat mendapati pria itu tidak ada lagi.
Sheril langsung pergi kedapur, ada bibi Arum yang sedang memasak.
"Selamat pagi, Bi," sapa Sheril.
Bibi Arum langsung menoleh dengan senyuman khasnya.
"Pagi Nona cantik. Baru bangun ya?" sapa bibi Arum.
"Iya, Bi,"
"Apakah Nona perlu sesuatu?" Tanya bibi Arum.
"Tidak, Bi, aku ingin membuat susu saja," ujar Sheril seraya melangkah mencari kaleng susu yang biasa di simpan dalam kulkas.
"Biar bibi saja yang buat, Non, Nona duduk saja di sana," ujar bibi Arum menengah Sheril.
"Biar aku saja, Bi, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi," ujar Sheril.
"Baiklah, Non," jawab bibi Arum.
Selesai membuat susu coklat kesukaannya, Sheril berniat duduk di kursi meja makan, tapi langkahnya terhenti saat melihat ada pintu yang terbuka di samping dapur.
"Bibi, ini pintu mau kemana?" Tanya Sheril pada bibi Arum.
__ADS_1
"Itu pintu ke taman belakang, Non, apakah Nona mau kesana?" Ujar bibi Arum sambil sibuk dengan pekerjaannya.
Sheril menatap bibi Arum. "Taman, Bi?"
"Iya, di sana enak untuk tempat bersantai," ujar bibi Arum.
"Bibi, Sheril mau kesana," ujarnya.
"Maaf, Non, bibi tidak bisa menemani saat ini, bibi masih banyak pekerjaan, nanti siang aja ya," ujar bibi Arum.
"Ngk apa-apa bibi, biar Sheril sendiri saja," ujar Sheril dengan senyum manisnya.
"Baiklah, nona lurus saja, terus belok kiri ya," ujar bibi Arum.
Sheril menganggukkan kepalanya sambil berlalu menenteng segelas susu dan setoples roti di tangannya.
Sheril terperangah kagum saat melihat taman itu. Bibirnya tersenyum manis, ia seolah mendapatkan kehidupan baru disini.
"Indah sekali, dan ini sangat luas," ujar Sheril sambil mengedarkan pandangannya di sekeliling taman itu.
Sheril meletakkan gelas susu dan toples roti di atas meja khusus untuk bersantai disana. Sheril menyusuri deretan tanaman mawar yang berjejer rapi di sana, ia mencium dan menghisap wangi mawar itu melalui hidungnya. Sheril tak henti-hentinya menampilkan senyumannya.
"Siapa yang merawat taman ini? Apakah bibi Arum?" Gumam Sheril.
Tiba-tiba Sheril melihat seperti ada tebingan disana, ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju kesana.
Tapi lagi-lagi Sheril kagum dengan keindahan taman ini. Ternyata di bawah sana ada kolam renang, pemandangannya sagat indah sekali. Tapi Sheril menghentikan pandangannya saat melihat ada seseorang yang lagi berenang di sana.
Sheril ingin melangkah pergi, tapi tiba-tiba ia kembali menoleh, sepertinya ia mengenali wajah laki-laki itu.
"Iya, tidak salah lagi, dia pria brengsek itu, kan," gumam Sheril dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba Sheril menampilkan senyuman liciknya. Ia mengendap-endap kan tubuhnya seperti orang detektif. Ia mengambil semua pakaian Zian tanpa sepengetahuannya. Lalu Sheril kembali ke tempatnya semula, ia bersembunyi di sana seraya mengintip pria yang sedang berenang itu.
Setelah pria itu menyelesaikan renangnya. Sheril duduk di kursi dimana ia meletakkan susu dan rotinya barusan.
Dengan santainya Sheril minum susu sambil mengunyah roti.
ikuti terus kisahnya ya.
jangan lupa like✅
jangan lupa vote ✅
jangan lupa gif✅
komentar ✅
dan follow author ya.
__ADS_1