Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Dari klinik


__ADS_3

Setelah sampai di klinik terdekat. Zian langsung membopong tubuh Sheril masuk.


"Suster! Tolong ... dia mengalami pendarahan!" Teriak Zian dengan kepanikannya.


Suster itu langsung mengeluarkan brankar, dan Zian langsung meletakkan Sheril diatasnya. Mereka langsung mendorong brankar Sheril keruangan UGD untuk melakukan tindakan.


"Maaf Tuan, Tuan tunggu di luar saja," ujar suster itu sambil menutup pintunya.


Zian menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan suster itu.


Entah mengapa Zian takut sekali perempuan itu keguguran.


"Tapi kenapa ia sampai pendarahan? Apa ada kesalahan dalam makanannya?" Gumam Zian dalam hatinya.


Zian tampak memikirkan sesuatu, ia menopang kan tangannya.


"Tuan, bagaimana keadaan Nona Sheril?" Ujar pak Ben membuyarkan lamunan Zian.


"Saya belum tau, Dokter lagi memeriksanya," ujar Zian mengangkat kepalanya.


"Apa yang terjadi dengan Nona Sheril?" Gumam pak Ben mengkhawatirkannya, tapi masih terdengar jelas di telinga Zian.


"Pak, tadi pagi bibi Arum memasak apa? Mungkin saja dia salah makan atau apa?" Tanya Zian menatap pak Ben dengan tatapan intens.


"Bibi Arum memasak sayur lodeh, ayam bakar, dan juga ada sambel ikan Tuan, untuk sarapan pagi bibi Arum hanya memasak nasi goreng, itu saja Tuan," ujar pak Ben mengingat-ingat apa saja yang di masak bibi Arum.


Setelah pak Ben menyelesaikan ucapannya, Dokter keluar dari ruangan, Zian pun langsung berdiri.


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Zian harap cemas.


"Syukurlah, bayinya tidak kenapa-kenapa, apakah Tuan suaminya?" Tanya dokter itu membuat jantung Zian langsung berdetak kencang.


"B-bukan .... "


Belum selesai Zian menyelesaikan kalimatnya, Dokter itu langsung berucap, mungkin ia terlalu lama menunggu kalimat dari Zian.


"Baiklah ikut keruangan saya," ujar Dokter itu seraya berjalan mendahului Zian.


Zian pun langsung mengikuti langkah Dokter yang bernama Anita.


"Silahkan duduk Tuan," ujar dokter itu setelah Zian berada di ruangannya.


"Begini Tuan, mungkin istrimu terlalu banyak pikiran, hingga ia merasa tertekan, untung Tuan segera membawanya kemari, kalau tidak mungkin bayinya tidak akan selamat," ujar Dokter Anita.


Dada Zian langsung bergetar saat dokter itu mengatakan istrinya. Zian pun nampak senang saat dokter Anita mengatakan istrinya.


"Iya dokter," jawab Zian datar.


"Saya sarankan, istri anda banyak istirahat, dan jangan membuat pikirannya terbebani, sebaiknya istrimu di rawat dulu disini, sampai ia benar-benar pulih," ujar Dokter itu.


"Tidak dokter, saya akan membawanya pulang setelah dia sadar," jawab Zian.


"Kenapa?" Tanya dokter Anita menatap Zian aneh.


Zian bingung kalau Sheril akan di rawat di sini, "siapa yang akan menjaganya? Bibi Arum lagi pulang kampung, sementara saya tidak bisa standby menjaganya, pak Ben tidak mungkin," pikir Zian.


"Tuan," panggil dokter Anita menyadarkan lamunan Zian.


"Ah iya Dokter, biarkan rawat jalan saja," ujar Zian.


"Baiklah kalu itu keinginan Tuan, silahkan tanda tangan disini, dan segera bawa kemari kalu terjadi sesuatu," ujar dokter Anita mengingatkan.

__ADS_1


Zian lngsung menganggukkan kepalanya.


"Ini resepnya, silahkan tebus di depan," ujar dokter Anita sambil menyodorkan selembar kertas kecil.


"Baiklah, apakah saya bisa melihatnya sekarang,Dok?" Tanya Zian.


"Iya silahkan, Tuan boleh melihatnya," ujar dokter Anita


"Baiklah kalau begitu saya permisi Dokter," ujar Zian.


Dokter Anita menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zian seperti itu.


Setelah menebus obat, Zian langsung pergi keruang UGD.


Ia melihat kalau Sheril sudah sadar. Hati Zian langsung bergetar saat melihat Sheril masih berbaring di sana.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" Tanya Zian pada Sheril dengan tatapan mata dalamnya.


Sheril menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tapi ia sama sekali tidak melirik Zian. Sheril ingin bangkit dari tidurnya, tapi Zian menahannya.


"Jangan banyak bergerak kamu masih sakit," Ujar Zian.


Sheril aneh dengan tingkah laku pria itu, dalam kepribadiannya yang sombong dan keras kepala, ternyata laki-laki ini ada sisi baiknya juga. Pikir Sheril sambil memalingkan wajahnya. Ia mengingat saat Zian menggendongnya tadi. Wajahnya bersemu saat mengingat kejadian itu.


"Kita akan pulang ke villa sekarang," ujar Zian lagi.


"Ha ... kita? Apa maksudnya coba," Gumam Sheril. Ia merinding mendengar ucapan laki-laki itu menyebutkan kita. Tapi ia tidak ingin bicara pada laki-laki itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Zian kembali menggendong Sheril seperti yang ia lakukan tadi. Sheril pun langsung terkejut dengan sikap Zian.


"Apa yang kau lakukan, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," Ujar Sheril sambil memukul-mukul dada Zian dengan tangan.


"Tadi itu karena saya sakit, ini saya ... "


"Diam lah, atau aku akan menjatuhkan mu di sini," ujar Zian memotong kalimat Sheril.


Sheril tampak diam, ia tidak lagi memukuli dada Zian. Sampai di parkiran, pak Ben sudah menunggunya dengan pintu mobil yang sudah dibuka buat mereka. Zian langsung mendudukkan Sheril dengan pelan.


"Jalan Pak," ujar Zian setelah ia duduk di samping Sheril.


Pak Ben langsung meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Hawa didalam mobil sangat mencekam, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


Sheril tampak memandang keluar kaca jendela, wajahnya tampak sendu saat melihat pemandangan luar.


"Andaikan aku bisa bebas, aku bisa menikmati sejuknya di luar sana," gumam Sheril. Tak terasa sebutir air bening lolos di pelupuk matanya yang bulat itu. Sheril langsung menyekanya dengan cepat. Ia tidak ingin laki-laki di sampingnya ini menghujaninya dengan pertanyaan pertanyaan yang akan membuatnya kesal.


"Apa kau ingin sesuatu?" Tanya Zian membuka pembicaraan saat mereka melewati banyak yang berjualan makanan berjejer di pinggir jalan.


Sheril menoleh sekilas kearah Zian, lalu mengalihkan pandangannya lagi tanpa sepatah kata pun. Ia kira Zian bukanlah bicara padanya.


"Hei ... apa kau tidak ingin makan sesuatu?" Tanya Zian menepuk pundak Sheril dengan pelan.


Sheril langsung melototkan matanya kearah Zian.


"Hei hei ... namaku bukan hei, sejak kapan kau berani mengubah namaku!" hardik Sheril kesal. Sementara pak Ben yang lagi menyetir cemas mendengar ucapan Sheril seperti itu pada majikannya. Ia khwatir Zian akan berbuat kasar.


Zian menatap tajam kearah Sheril. Ia tidak suka dengan sikap Sheril berbicara seperti itu padanya.


"Bisakah kau sopan sedikit saat bicara dengan ku, aku sudah berusaha berbaik hati dengan mu, tapi omonganmu sangatlah tidak menyenangkan," ujar Zian mengeraskan rahangnya.

__ADS_1


"Tuan, apakah tidak ingin membeli sesuatu?" Tanya pak Ben, ia sengaja mengalihkan pembicaraan ke-dua adam dan hawa itu.


"Terserah pak Ben saja, ini uangnya," ujar Zian mengeluarkan segepok uang di saku celananya. Zian langsung melemparkan uang itu ke depan dengan kesal. Pak Ben mengerti dengan perasaan zian saat ini. Ia langsung menepikan mobilnya tepat di depan gerobak bakso bakar.


Sementara wajah Sheril kelihatan masam, menatap keluar kaca jendela mobilnya. Ia menelan saliva nya saat melihat bakso bakar yang mereka lalui.


"Nona, ayo turun, belilah sesuatu yang Nona inginkan," ujar pak Ben.


Tapi Sheril langsung menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Mumpung ada banyak jual makanan disini, Nona tinggal memilihnya," ujar pak Ben lagi.


"Tidak pak Ben, aku tidak punya uang untuk membelinya," ujar Sheril datar.


Zian langsung melotot kearah Sheril.


"Ternyata perempuan ini mau uang," gumam Zian, ia kembali merogoh saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang di saku celananya.


"Ini ambillah," ujar Zian sambil meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di tangannya.


Sheril kembali menoleh dan menatap manik mata Zian dengan seksama.


"Apa maksudmu?" Tanya Sheril.


"Kamu tidak punya uang, kan? Makanya saya berikan, agar kamu bisa membeli keinginan kamu," tukas Zian.


Mata Sheril berkaca-kaca menahan tangisnya. "Ini. Aku tidak membutuhkan uang mu," ujar Sheril mengembalikan uang itu di tangan Zian seperti yang Zian lakukan barusan. Baru kali ini ada perempuan yang menolak uang darinya.


"Sombong sekali," tukas Zian merapatkan gigi putihnya, ia menahan emosinya.


"Perempuan ini membuatku emosi saja, jika aku katakan kalau semua yang ada di villa itu adalah hasil dari uangku, termasuk makanan yang ia makan itu semua dari uangku, aku yakin ia tidak akan sudi lagi tinggal di sana," pikir Zian.


Zian hanya mengelus dadanya saja, kali ini ia harus sabar, seperti ia sabar menghadapi sikap istrinya di rumahnya.


"Mungkin bawaan bayinya, makanya perempuan ini bersikap seperti ini," gumam Zian ingin memaklumi sifat perempuan yang duduk di sampingnya.


"Pak beli bakso bakarnya juga," ujar Zian dari dalam mobilnya.


"Baik Tuan," ujar pak Ben.


Setelah selesai membeli makanan, pak Ben kembali meluncurkan mobilnya.


Tidak begitu lama, mereka pun sampai di halaman depan villa.


Sheril langsung membuka pintu mobilnya, sementara Zian hanya memperhatikan saja. Sheril nampak kesulitan berjalan karena ia merasa perutnya masih rada nyeri.


Melihat Sheril berjalan seperti itu, tanpa banyak bicara, Zian langsung menggendongnya.


"Turunkan, aku bisa jalan sendiri," tukas Sheril dengan keras kepalanya.


"Bisakah mulutmu itu diam, perempuan pencuri, jika kau mengatakan sepatah kata lagi, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan mu dari sini!" Ancam Zian membuat Sheril ketakutan. Ia tidak mengatakan apapun lagi.


Setelah sampai di dalam kamar, Zian langsung merebahkan tubuh Sheril dengan hati-hati.


"Ini obatmu, langsung di minum setelah makan," ujar Zian sambil meletakkan kantong plastik yang berisi obat yang di tebus nya waktu di klinik.


yuk komen yang bersifat membangun, agar author bersemangat untuk update lagi.


💕💕💕


ikuti terus kisahnya ya, dan jangan lupa dukung terus karya author dengan like, vote, komen dan juga hadiah gift agar dukungan klian semakin meningkat dan mendapatkan pulsa gratis dari author jika top fans kalian paling tinggi. terimakasih

__ADS_1


__ADS_2