
Habis kerja seharian penuh, Zian langsung pulang kerumah. Zian langsung pergi ke kamar. Di sana ia tidak mendapati Istrinya. Zian langsung mengganti pakaiannya dengan memakai kaos oblong warna hitam kesukaannya. Setelah itu, Zian langsung ke kamar putrinya Aura.
Ia menatap Aura yang masih terlelap dalam tidurnya. Zian mencium pucuk kepala putrinya dengan kasih sayang.
"Kemana Ririn?" Gumam Zian dalam hatinya. Ia segera bergegas ke kamar mama Serena setelah tidak mendapati Ririn di kamar putrinya.
"Mama! Ririn kemana?" Tanya Zian meneriaki mamanya dari luar kamar yang tampak tertutup dari dalam.
Ceklek ....
Pintu kamar mama Serena terkuak, tampak wanita paru baya menyembulkan kepalanya di sela pintu, pucuk kepala Serena terbalut dengan handuk kecil, tanda ia habis membersihkan dirinya.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu sayang, ada apa?" Ujar Serena menatap putranya.
"Ririn mana, Ma?" Tanya Zian.
"Mama ngk tau, tadi pagi ia pergi entah kemana, ia juga ngk ngomong apa-apa sama Mama," ujar Serena.
"Oh, ya udah, Ma, Zian ke-kamar dulu," ujar Zian meninggalkan mama Serena yang terpaku di pintu.
"Ada apa lagi dengan mereka? Apa mereka berantem lagi?" Pikir Serena.
Zian mengeluarkan ponselnya di dalam tas kerjanya yang memang sejak tadi belum di keluarkan dari dalam tas. Zian langsung mencari nama istrinya di dalam kontak ponselnya, ia berencana ingin menghubungi Ririn, namun bukannya di angkat malah Ririn menolak panggilan telepon Zian.
Berapa kali Zian menghubungi nomor ponsel Ririn, tapi tidak di angkat. Kesekian kalinya Zian telpon lagi, malah nomornya ngk aktif.
Zian tampak pusing dan lelah, akhirnya ia tertidur di ranjang king nya.
...****************...
Sementara Sheril berkutat di dapur memasak makanan untuk makan malam. Ia sengaja melakukannya khusus buat suaminya. setelah mateng, Sheril langsung menatanya di atas meja dengan rapi. Setelah itu, ia segera bergegas membersihkan dirinya senantiasa suaminya pulang.
__ADS_1
Sheril sudah bersiap-siap menyabut suaminya pulang, ia menunggu Zian di ruang tamu, sambil menatap kearah luar kaca jendela. Sheril sudah tidak sabaran menunggu suaminya, akhirnya ia pun keluar halaman.
Lama Sheril menanti, namun yang di tunggu-tunggu tidak kunjung pulang, hari pun mulai gelap, suara azan magrib berkumandang membuat hati Sheril semakin sedih.
Sheril bergegas masuk kedalam, ia berniat menunaikan kewajibannya saat memasuki waktu ibadah. Dengan khusuk Sheril berdoa untuk keselamatan suaminya dan juga keluarganya.
Selesai ibadah, Sheril menatap kaca jendela yang tertuju ke halaman depan villa. Ia tau kalu Zian belum pulang. Sheril mengambil ponselnya dan ingin mencoba menghubungi Zian, namun niatnya di urungkannya saat mendengar suara deru mobil berhenti di depan villa. Seketika wajah Sheril langsung berbinar terang. Ia yakin kalau itu adalah suaminya. Sebelum turun, Sheril ingin memastikan kalau itu Zian, namun wajah Sheril langsung berubah menjadi sendu saat yang di dapati bukanlah Zian, namun pak Ben.
Sheril langsung kecewa. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya.
"Kamu dimana? Kenapa jam segini juga belum pulang," gumam Sheri dalam hatinya.
Sheril mengingat kalau tadi ia berniat menghubungi Zian, ia pun kembali meraih ponselnya di atas nakas. Sheril langsung menghubungi nomor ponsel Zian, namun tidak di angkat, Sheril mencobanya lagi, namun juga tidak di angkat. Akhirnya Sheril memutuskan untuk chat saja.
"Mas, kamu lagi di mana? Kenapa belum pulang?" Pertanyaan Sheril lewat pesannya. Lama Sheril menunggu balasan dari Zian, namun pesan singkat itu tidak kunjung di lihat, apa lagi untuk membalasnya.
Banyak hal yang ingin Sheril tanyakan pada Zian nanti.
Pukul 12 malam, Zian terbangun dari tidurnya, ia langsung mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar seolah mencari sosok seseorang.
Zian langsung turun dari ranjangnya. Ia segera mencuci mukanya di wastafel. Zian kembali ingin mencoba menghubungi Ririn. Sebelum menghubungi ponsel Ririn, Zian melihat sebuah pesan singkat yang tertera di layar ponselnya.
"Sheril," gumamnya. Nanti saja, Zian ingin memastikan dimana keberadaan Ririn sekarang.
Zian mencoba menghubungi Ririn kembali, namun tetap tidak aktif.
"Kemana dia, apakah dia di rumah mama mertua," gumam Zian, ia malas banget jika harus kerumah mertuanya itu. Zian juga mencoba menghubungi beberapa nomor sahabatnya, namun tidak ada yang tau.
"Jika Ririn di rumah mana mertua, besok pagi aku akan kesana, kalau aku kesana malam-malam begini, mama Rosna pasti akan menghardik ku," gumam Zian dalam hatinya.
...****************...
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Zian sudah bersiap dengan pakaian formalnya. Sebelum berangkat ke kantor, terlebih dahulu Zian pergi ke rumah mertuanya. Ia berharap Ririn ada di sana. Bukanya memberitahu Ririn ada di mana malahan Zian mendapatkan kata-kata kasar dari mama Rosna.
"Emang apa yang kamu perbuat hingga anak saya tidak pulang kerumah?" Tanya Rosna dengan wajah yang sinis.
"Mama, maaf, aku buru-buru, mana Ririn? Aku ingin menyelesaikan masalah kami," ujar Zian seraya menerobos pintu masuk melalui mama mertuaya.
"Dasar anak yang tidak tau sopan santun, anak sama ibu sama saja," cerca Rosna tidak suka dengan Zian memperlakukannya anaknya seperti itu.
"Ririn buka pintunya, aku ingin bicara padamu. Ririn!" Panggil Zian dari depan pintu seraya menggedor-gedor pintu kamarnya. Namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Kamu kira Ririn ada di dalam, lihat saja," ujar Rosna seraya membuka pintu kamar Ririn, kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Kemana Ririn, Ma? Aura masih membutuhkannya, kenapa ia tidak pulang kerumah," ujar Zian.
"Aku tidak habis pikir, suami macam apa kamu, hingga istri tidak pulang," tukas Rosna membuat Zian melemparkan senyum kecut pada mama mertuaya.
"Kalau Mama tidak tau yang sebenarnya, jangan pernah ikut campur dengan urusan keluarga saya," tukas Zian menatap Rosna dengan wajah yang sulit di artikan.
"Ririn itu anak saya, wajar kalau saya ikut campur dengan urusan keluarga kalian," tukas Rosna sinis.
"Oky, ini kemauan anak mu sendiri, jadi jangan pernah menyesali saya," ujar Zian penuh penekanan seraya melangkah pergi menjauhi Rosna. Ini bukan yang pertama kalinya Ririn pergi dari rumah, apa lagi meninggalkan seorang anak yang masih membutuhkan seorang ibu.
"Ingat Zian, saya tidak mau tau, kamu harus menemukan anak saya, saya tidak ingin terjadi sesuatu pada putri semata wayang ku," tukas Rosna membuat Zian menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh Mama mertuanya.
"Saya tidak akan mencarinya, ini bukan yang pertama kalinya Ririn meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini, ini kemauannya sendiri," ujar Zian membuat Rosna terkejut mendengar kata-kata Zian yang tidak seperti biasanya, biasanya Zian akan bertekuk lutut di hadapan mertuanya jika istrinya ngambek dan tidak pulang kerumah. Ia akan memohon untuk di pertemukan oleh Ririn.
Zian tau kalu Rosna sengaja tidak ingin memberitahukan keberadaannya. Tapi ia tidak ingin mengemis lagi sekarang, Zian yang dulu sudah sangat berbeda sekarang.
Rosna sangat kesal dengan sikap dan ucapan Zian.
jangan lupa dukung terus ya, semoga kalian beruntung di akhir cerita. terimakasih
__ADS_1