
Saat malam tiba, Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah pekerjaannya beres, ia baru bisa pergi, kemana lagi kalau bukan menuju VillaZa, sementara Heru menginap di hotel yang sudah mereka boking beberapa hari lalu sebelum berangkat.
Zian sangat beruntung, ia memanfaatkan waktu ini untuk bisa bertemu istri keduanya. Zian sudah benar-benar merindukan sosok Sheril yang menggemaskan menurutnya. Zian pun tidak lupa membawa banyak makanan untuk Sheril, wajahnya nampak berbinar. Zian senyum-senyum sendiri sambil mengendarai mobilnya.
"Dia pasti sudah tidur jam segini," ujar Zian seraya tersenyum tipis melirik jam yang ada di samping setirnya yang menunjukkan angka hampir jam 11 malam kurang 5 menit.
Hanya menempuh jarak 35 menit, Zian sudah memarkirkan mobilnya di halaman villa.
Pak Ben yang melihat itu langsung menghampiri Zian.
"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu," ucap pak Ben dengan ramah.
"Bawa ini kedapur, dan simpan di lemari pendingin," ujar Zian seraya memberikan dua kantong asoy besar pada pak Ben. Pak Ben langsung mengambil kantong asoi itu dan membawanya kedapur.
Sementara Zian membawa bingkisan dan juga kantong kresek yang berisi cemilan buat Sheril.
Zian tidak sabaran ingin bertemu dengan Sheril, ia setengah berlari menaiki anak tangga.
Ceklek ....
Zian memutar kenop pintu. Matanya langsung tertuju ke arah televisi yang masih menyala. Ia melihat Sheril membelakanginya menghadap televisi, Zian kira Sheril masih melek.
"Apakah dia tidak tau aku datang? Atau jangan-jangan dia marah padaku?" Gumam Zian sambil meletakkan barang yang ia pegang di atas meja.
"Sayang," Zian langsung memeluk Sheril dari belakang lalu mengecup pelipisnya dari samping seraya menatap Sheril dengan jelas.
"Rupanya dia tertidur," gumam Zian. Ia berjongkok seraya menampilkan senyuman manisnya sambil memandangi wajah istrinya.
"Setelah di perhatikan, dia memang benar-benar cantik, wajahnya seperti anak kecil, imut dan lucu," Zian terus tersenyum memandangi wajah Sheril tanpa berkedip. Seluruh tubuhnya gemetar setelah bersama dengan Sheri, entah perasaan apa itu, yang jelas, ia ingin melahap habis Sheril kalau bukan ia memikirkan tidak ingin mengganggu tidurnya, ia merasa kasihan jika harus membuat Sheril terbangun. Kemudian Zian mengelus perutnya yang sudah kelihatan menggembung itu, lalu menciumnya dengan lembut.
Zian mengambil remote yang masih di pegang Sheril, lalu meletakkannya di samping meja televisi. Kemudian ia menggendong Sheril dan memindahkannya berbaring di atas kasur. Zian kembali menatap wajah istrinya, ia sudah tidak tahan menahan keinginannya, ia pun segera berlari ke-kamar mandi, dan menuntaskan keinginannya yang sudah di ujung tanduk.
Zian mengatur napasnya sebelum keluar kamar mandi.
Setelah keluar, Zian kembali menatap wajah istrinya, entah kenapa tubuh Zian memanas melihat tubuh Sheril.
"Ah sial, kenapa aku tidak bisa menahan diriku saat bersamanya," gumam Zian seraya ikut merebahkan tubuhnya di samping Sheril seraya memeluknya dengan erat.
"Ya ampun, ini jono kenapa bangun lagi sih, aku kan sudah memenuhi keinginan mu di kamar mandi tadi," gumam Zian dalam hatinya.
"Ayo tidur, tidur ... aku capek mau istrahat," gumam Zian sambil berusaha memejamkan matanya di samping Sheril.
__ADS_1
...****************...
Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Sheril mengerjapkan matanya. Ia merasa tubuhnya kaku dan berat. Sheril langsung menoleh ke samping, ia menatap wajah Zian dalam remang cahaya lampu.
"Kapan dia pulang, kenapa aku tidak mengetahuinya?" Sheril berusaha mengingat dirinya sebelum tidur. Ia nonton tayangan televisi kesukaannya sampai-sampai ia tertidur.
"Astaga, begitu terlelapnya aku tidur seperti kerbau saja, hingga aku tidak menyadari Zian mengangkat tubuhku kemari," gumam Sheril dalam hatinya.
Sheril kembali menatap wajah Zian.
"Kemana saja dia beberapa hari ini, hingga tidak sempat menghubungi ku, bahkan pesanku dia abaikan? Apa dia mempunyai perempuan lain?" Pikir Sheril, wajahnya berubah menjadi sendu. Entah perasaan apa hingga hati Sheril merasa nyeri saat pikirannya terlintas, kalau Zian memiliki perempuan lain.
Sheril tidak menyadari kalau ia cemburu. Ia juga tidak menyadari kalau air matanya sudah merembes membasahi kelopak matanya.
Sheril mengangkat tangan Zian yang melingkar di perutnya hingga ia bisa menjauhkan tangan Zian dari tubuhnya. Sheril tidak tau kalau Zian akan terbangun. Ia pura-pura masih terlelap sambil membelakangi Zian.
"Sayang, apakah kamu sudah bangun? aku ingin memelukmu, kenapa menjauh dariku," ujar Zian dengan suara seraknya.
Sheril pura-pura tidak mendengar, ia pun pura-pura tidur. Zian meraih tubuh Sheril dan memeluknya dengan erat, seraya mendaratkan sebuah c****n sayangnya.
Hati Sheril langsung berdegup kencang. Ia tidak dapat menghindari Zian, perasaan sedih pun muncul seketika, ia tidak dapat menerka perasaan Zian yang sesungguhnya, ia takut kalau Zian cuma ingin mempermainkan perasaannya saja.
Sheril berusaha mengatur napasnya yang tertahan. Sementara Zian membelai rambut halus Sheril dengan lembut.
"Sayang kenapa? Ada apa?" Ujar Zian dengan suara yang hampir tak terdengar saking lembutnya. Sheril memejamkan matanya sesaat lalu membukanya kembali. Ingin rasanya Sheril berlari dan menjauhi Zian. Namun hal itu tidak akan pernah ia lakukan.
Zian kembali membelai rambut Sheril. Zian pun melihat ada kesedihan di raut wajah Sheril, tapi ia tidak mau mengungkapkannya.
"Sayang, apakah kamu marah padaku?" Tanya Zian seraya mengangkat dagu Sheril, Sheril pun langsung menatap Zian, dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Sayang, maafkan mas ya, mas tidak menghubungi kamu beberapa hari ini, karena akhir-akhir ini mas sangatlah sibuk di kantor, kamu tidak apa-apa kan?" Ujar Zian, Sheril langsung menggelengkan kepalanya, Zian pun langsung memeluknya kembali.
"Apanya yang tidak apa-apa? Sesibuk apa pun, masa ngk ada sama sekali waktu untuk membalas pesanku," gumam Sheril, perasaannya semakin terhenyak mendengar penjelasan Zian seperti itu.
"Sayang aku sangat merindukan kamu," bisik Zian membuat Sheril langsung merinding.
"Apa kabar anak kita, apakah dia sehat?" Tanya Zian seraya meraba perut Sheril. Sheril pun langsung mengangguk.
"Sayang bicara dong, jangan cuma mengangguk saja, mas ingin mendengar suara kamu," ujar Zian menatap Sheril dengan lembut.
"Sebelum mas kerja, kita cek kandungan kamu dulu nanti ya," ujar Zian yang masih menatap Sheril.
__ADS_1
"Iya," jawab Sheril singkat.
"Kamu pelit sekali dengan suara, ada apa?" Tanya Zian membuat Sheril menatapnya, ia pun berusaha tersenyum pada Zian seraya membekap mulutnya dengan tangannya.
"Aku belum gosok gigi, makanya aku tidak ingin bicara," ujar Sheril berbohong.
Zian tergelak mendengar tuturan Sheril.
"Kamu lucu sekali, ayo kita sama-sama gosok gigi," ujar Zian menarik tangan Sheril. Sheril pun mau tak mau mengikuti langkah Zian menuju bathroom.
Zian langsung mengambil dua sikat gigi sekaligus, dan memencet Pepsodent meletakkannya di atas bulu-bulu sikat giginya, kemudian ia memberikan satu sikat gigi pada Sheril, dan satunya untuk dirinya sendiri.
Mereka menyikat gigi secara bersamaan. Setelah itu mereka sama-sama membasuh mukanya.
"Aku mau langsung mandi saja," ungkap Sheril membuat Zian langsung tersenyum sumringah.
"Ayo kita mandi sama-sama," ujar Zian membuat Sheril langsung tersentak kaget. Wajahnya berubah menjadi kemerahan, Sheril sadar kalau ia salah dalam berucap.
"Tidak, maksud ku, Mas mandi duluan saja, aku masih ingin membereskan tempat tidur," ujar Sheril dengan alasan yang tepat menurutnya. Sheril langsung meninggalkan Zian di bathroom, namun ia tidak tau kalau Zian mengejarnya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Sejak semalam aku sudah sangat lapar, sekarang aku ingin sarapan dulu," ujar Zian seraya meraba tubuh Sheril.
"Baiklah, kalua begitu aku langsung menyiapkan sarapan dulu," ujar Sheril dengan kepolosannya.
Namun Zian tidak melepaskan pelukannya.
"Lepaskan tanganmu mas, bagaimana aku mau menyiapkan sarapan untuk mu," ujar Sheril seraya berusaha membuka tangan Zian yang melingkari tubuhnya.
"Aku ingin memakan kamu sayang, bukan ingin sarapan itu," bisik Zian membuat tubuh Sheril bergetar seketika. Zian langsung mengangkat tubuh istrinya menuju ranjang king. Ia merebahkan tubuh Sheril dengan hati-hati. Sheril tidak dapat menghindarinya lagi. Sementara Zian mulai melancarkan aksinya.
"Sayang, mas sayang banget sama kamu," bisik Zian dalam aksinya yang halus dan lembut di telinga Sheril, hingga Sheril terbuai oleh kata-kata Zian seperti itu.
Zian dan Sheril sama-sama saling merindukan, hanya Sheril tidak yakin dengan Zian hingga perasaannya merasa bimbang.
Setelah meluncurkan roketnya di atas kasur, Zian langsung membopong istrinya ke bathroom.
"Kita mandi bersama ya sayang," bisik Zian lagi.
"Mas, aku bisa jalan sendiri, turunkan aku," ucap Sheril dengan suara lembutnya. Namun Zian sudah pasti tidak akan menghiraukan ucapan Sheril.
Tidak hanya di atas kasur, namun kedua sejoli itu pun melakukanya aksinya di dalam bathroom, Sheril pun tidak bisa menolak keinginan suaminya. Zian sangat pintar memberlakukan Sheril dengan lembut. Sheril pun merasa sangat di manja dan di sayangi saat ini, ia berperang dengan Perasaan gelora hati dan jiwa.
__ADS_1
vote lagi dan lagi, agar author update lagi setelah ini.
dukung terus ya, jangan lupa follow author agar nanti author langsung chat kalian bila mana ada keberuntungan. terimakasih.